Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"

Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia

Taman Nasional Baluran

Salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur

Santai Sejenak di Trizara Resort

Rasakan sensasi kemping dengan fasilitas bintang lima di Glamping Trizara Resort Lembang.

3000 km Jelajah Daratan Sulawesi

Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan.

Mengunjungi Habitat Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Tidak mudah untuk menemukan keberadaan orangutan tersebut. Kita harus sabar menunggu mereka keluar untuk beraktifitas.

Monday, October 16, 2017

Lapis Bogor Sangkuriang, Oleh Oleh Khas Kota Hujan

Setiap daerah atau kota biasanya mempunyai oleh-oleh yang khas untuk buah tangan. Tidak terkecuali dengan Bogor. Kalau dulu jika mendengar orang berkunjung ke kota yang terkenal sebagai kota hujan itu langsung terbersit oleh-oleh berupa talas. Karena di daerah ini terkenal dengan tumbuhan bertunas dengan kualitas baik dan bentuknya yang besar.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, oleh-oleh berupa talas Bogor mulai tergerus oleh makanan 
atau kuliner khas lainnya yang mulai banyak dicari orang seperti toge goreng, roti mini, asinan dan oleh-oleh lainnya. Ada satu yang cukup menghebohkan kehadirannya di dunia peroleh-olehan yaitu hadirnya Lapis Bogor Sangkuriang pada tahun 2011.

Lapis Bogor Sangkuriang hadir sebagai makanan khas Bogor yang langsung digemari karena bahan bakunya terbuat dari tepung talas, yang juga merupakan makanan khas Bogor era sebelumnya. Cemilan Bogor ini menjadi favorit karena rasanya cocok untuk selera orang Indonesia dan juga praktis dalam penyajian. Tinggal beli, potong dan dapat langsung dihidangkan. Hingga datang suatu masa kalau orang jalan-jalan ke Bogor pasti beli oleh-olehnya Lapis Bogor Sangkuriang ini.

Seiring dengan banyaknya permintaan akan oleh-oleh khas Bogor ini, maka berlaku juga hukum ekonomi tentang supply and demand. Beberapa merek bermunculan dengan menggunakan Lapis Talas sebagai bahan bakunya. Beberapa pembeli ada yang terkecoh dengan hadirnya produk sejenis, namun bagi pelanggan yang sudah merasakan perbedaan rasa tentu tidak akan tergoda, walau harga yang ditawarkan lebih murah. Padahal dari segi hargapun Lapis Talas yang asli dijual dengan harga terjangkau.

Harga Lapis Bogor dengan berbagai varian rasa




Lapis Bogor Sangkuriang hadir dengan rasa dan varian yang beragam. Favoritnya adalah original keju. Namun ada juga varian lain dapat dicoba yaitu : original extra cheese, full talas keju, brownies keju, coco pandan keju, strawberry keju, chocovila, dan teh hijau keju.

Rasa original keju yang menjadi favorit konsumen


Saat ini cukup banyak tersedia outlet yang menjual Lapis Bogor Sangkuriang. Selain di Jalan Sholeh Iskandar, juga tersedia di Jalan Pajajaran hingga Cibinong. Selain itu tersedia juga di reseller yang tersebar di wilayah Bogor.

Kalau malas mengunjungi outlet-outlet tersebut karena macet atau antri, kita juga bisa memanfaatkan layanan go-food. Tinggal pesan dari aplikasi Go-jek kita tinggal klik kue mana yang akan dipesan. Praktis kan.





Friday, September 22, 2017

Tiga Hari di Medan, Kemana aja?

Mendapat kesempatan kembali ke Kota Medan langsung membuat jadwal ke tempat-tempat yang belum sempat dikunjungi sebelumnya. Disela-sela tugas kantor yang cukup padat merayap, disempetin aja untuk mencicipi beberapa kuliner khas Medan.
A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on


Kebetulan kita menginap di Hotel yang berada di tengah kota yaitu Grand Aston City Hall. Lokasinya persis di depan Merdeka Walk, sentra kuliner yang selalu ramai menjelang malam. Dan saat siang sesaat setelah tiba kita langsung ke Merdeka Walk sebelum check-in. Setelah putar-putar dan membuat semakin lapar akhirnya kita memutuskan untuk makan di McDonalds. Sebuah pilihan yang absurd. Di Jakarta dan Bogor juga banyak atuh kang, gak bosan? Pengen nyobain Mekdi dengan ayam dari Medan alasannya :)

Setelah check-in dan istirahat sejenak di hotel yang di bagian depannya memang ada bangunan cagar budaya kantor balai kota Medan jaman dulu, malamnya kami memutuskan untuk kulineran di sekitar kota. Pilihannya jatuh ke Mie Ayam Akong & Acim yang terletak di perempatan Jalan Perniagaan Medan Barat.




Walaupun pemiliknya Tionghoa namun makanan ini halal. Mie ayam ini termasuk legendaris karena sudah puluhan tahun berjualan dan anak-anaknya sudah bersekolah di luar negeri (apa hubungannya ya?). Untuk melengkapi kenikmatan kita dapat memesan minuman lokal jenis soda dengan merek Badak buatan Siantar.



Rencananya setelah makan mie ayam kita mau langsung ke hotel untuk mempersiapkan acara besok. Namun karena masih ada sisa-sisa ruang kosong di bagian perut, kita sepakat untuk makan duren di mana lagi kalo bukan di Ucok Durian. Tahun lalu sempat ke tempat ini juga dan sekarang tempatnya semakin ramai. Durennya makin banyak dan harganya juga sudah hampir sama dengan harga Jakarta. Tapi kalo soal rasa, kalo kata orang sunda mah "moal gagal" artinya nggak akan gagal rasanya pasti manis dan mantap. Kita tinggal bilang mau rasa yang manis atau manis-pahit. Kalo manis yang biasa, tapi kalo manis-pahit rasanya agak strong dan cepat naik. Untuk ukutan kecil harganya Rp 50.000 per butir. Malam itu kami hanya menghabiskan 2 butir untuk 4 orang (1 orang nggak makan, 2 orang makan dikit, 1 orang makan banyak)



Hari kedua kami awali dengan sarapan di hotel. Ternyata nemu juga kuliner khas Medan yaitu Lontong Kari Medan berjajar dengan makanan seperti roti, bubur, nasi, kentang yang sebagian resep dari luar negeri. Saya memilih Lontong Kari dengan topping teri kacang, abon sapi dan tauco serta kerupuk khasnya yang berwarna merah. Kalau tidak ada jadwal acara rasanya bakal berlama-lama di resto ini sampai jam 10 saat closing.

Saat siang setelah tugas selesai, selanjutnya kami meneruskan wisata kuliner di kota yang terkenal dengan Bika Ambon-nya itu. Destinasi pertama ada Restoran Tip Top. Restoran ini juga merupakan restoran legendaris yang dibangun sejak tahun 1938. Jadi Tip Top ini pernah disinggahi oleh tentara Belanda, Jepang dan tentara nasional untuk sekedar ngopi-ngopi dan makan es krim.

Rekomendasinya es krim dan kue. Semua bahan yang digunakan masih persis seperti jaman dulu, termasuk membakarnya dengan menggunakan kayu arang (untuk kue ya bukan es krim). Sementara saya pesan kopi susu Sidikalang. Awalnya saat icip-icip terasa pahit arabica-nya. Namun lama-lama menjadi agak manis. Kok unik ya. Lalu diseruput sampai hampir habis terlihat ada cairan putih ternyata susu kental. Ternyata kopinya belum diaduk pembaca.

Sebelum balik ke hotel, lagi-lagi kami mampir dulu ke tempat kuliner yaitu Bolu Meranti dan Risol Gogo. Kedua tempat itu memang gak ada matinya. Saat ke sana antrian cukup padat merayap. Kami hanya pesan untuk diambil besok pagi agar masih terasa fresh.

Setelah leyeh-leyeh dan membuat report, malamnya kami kembali kulineran lagi. Kali ini tempat yang dikunjungi adalah Restoran Garuda. Restoran ini legendaris juga dengan menu khas kepala kakap. Namun malam itu kami hanya pesan ayam pop yang enaknya gak kalah juga. Restoran Garuda ada beberapa cabang di Medan dan ternyata di Jakarta ada cabangnya juga di Jalan Sabang.
A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on

Masih belum puas, kami lanjutkan dengan makan kerang di pinggir jalan. Kerangnya ternyata masih fresh banget terbukti masih pada idup. Beberapa teman malah ada yang nambah. Saya sih cukup satu porsi ditutup dengan teh tarik dingin.

Selanjutnya kami kembali ke Ucok Durian lagi. Bukan, bukan untuk makan lagi. Tapi kami pesan untuk dibungkus dan dibawa esok pagi untuk dibawa ke Jakarta. Jadi mereka juga terima take away. Pesan sesuai selera, rata-rata menggunakan wadah ukuran sedang dengan harga berkisar Rp 100.000 - Rp 250.000.- Mereka akan tutup rapat dengan menggunakan lakban dengan sangat rapat, karena takut tercium saat di pesawat. Dan ingat, paket durian ini tidak boleh dibawa ke kabin, harus masuk bagasi. (Terbukti saat kami pulang, di kabin pesawat tercium bau durian, petugas langsung mengendus setiap bungkusan mencurigakan, dan menemukan pancake durian dan terpaksa harus disita). Jadi sepertinya satu lakban bisa dihabiskan hanya 2-3 paket, saking rapetnya. (Saat bongkar oleh-oleh dirumahpun, orang rumah bilang, "ini ngebuka bungkusnya lebih susah dibanding buka durennya langsung.")



Hari terakhir diawali dengan malas-malasan di tempat tidur yang sangat posesif. Angka sudah menunjukkan jam 9 lebih, satu jam lagi breakfast tutup. Buru-buru kami turun makan sambil masih bercelana pendek dan belum mandi. Late check-out jam 1 siang sambil mikir mau ke mana lagi sambil nunggu terbang jam 7 malam nanti. Akhirnya diputuskan makan siang dulu terus mampir ke Istana Maimun. Sebuah Istana peninggalan Kesultanan Deli.

Keunikan dari Istana Maimun yang dibangun pada tahun 1888 ini adalah arsiteknya yang merupakan akulturasi dari budaya Melayu dan Islam, termasuk unsur seni dari negara Italia, India dan Spanyol. Untuk masuk kita dikenakan tiket sebesar Rp.5.000,- kita bisa masuk dan berkeliling seluruh istana. Kita juga ditawarkan untuk menyewa baju adat dan dapat berfoto di mana saja. Awalnya nggak ngeh, kirain yang pake baju adat itu orang-orang yang ditugaskan di sana. Jadi saat ada mbak-mbak yang pake baju adat saya minta dia bergaya di depan salah satu area. Mbaknya hanya senyum-senyum aja. Baru nyadar setelah temannya yang fotoin dia bergaya. Jadi malu sendiri. Untung bukan inang-inang yang aku suruh begaya, bisa dilempar awak ini.
Istana Maimun adalah istana Kesultanan Deli yang merupakan salah satu ikon kota Medan, Sumatera Utara, terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Didesain oleh arsitek Italia dan dibangun oleh Sultan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid. Pembangunan istana ini dimulai dari 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan. Istana Maimun terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Bangunan istana ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan. Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia. (Sumber info : Wikipedia)
A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on


Setelah puas keliling Istana Maimun, kami memutuskan untuk segera ke Bandara Kuala Namu. Sebenernya sih pengen nyobain naik kereta bandara yang keren itu, tapi karena sudah menyewa mobil untuk tiga hari full service dengan terpaksa ditunda lagi naik keretanya. Semoga suatu saat bisa kembali dan mencoba keretanya.

Tiba di bandara masih 3 jam lagi untuk boarding. Beruntung di bandara ini ada yang namanya Rest Area. Di tempat ini kita bisa tidur-tiduran karena ada kursi yang memanjang berderet bisa untuk rebahan. Jadi kalo mau nginep juga sepertinya bisa, dengan catatan siapa cepat dia dapat. Lalu ada free internet plus komputernya. Kebetulan hari itu ada deadline satu postingan dan masih sempat dibuat di tempat itu. Tapi inget jangan lupa logout ya. Selain itu ada juga colokan listrik untuk nge-charge yang sekarang menjadi kebutuhan pokok para traveler (sandang - pangan - casan).

Dan akhirnya, saat boarding telah tiba. Duduk manis di 45K (window), siap-siap terbang kembali ke Jakarta. Rasa kantuk mendadak hilang. Akhirnya memilih nonton film "The Accountant"nya Ben Affleck yang belum sempet ditonton saat di bioskop. Ternyata seru juga ya. Walau cuaca agak buruk gak keganggu karena anteng nonton film ini. Saat ditawari makan,  akhirnya luluh juga karena laper. Lalu lanjut nonton lagi. Dan ajaibnya film ini selesai saat pas landing di Soekarno Hatta Airport.

Selesai sudah perjalanan kali ini yang lebih banyak wisata kulinernya ya dibanding wisata lainnya. *brb cek bagasi*




  

Tuesday, February 21, 2017

Islands Hopping at Belitung by Chichi Utami

"Kalau gosip di lambeturah itu selalu ada aja yang baru walaupun orangnya itu-itu saja, di Indonesia juga tiba-tiba ada aja lokasi baru buat di-eksplore. Ngga habis-habis, bahkan untuk tempat yang sudah pernah didatangi sampai dua-tiga kali. Menyenangkan!"- Chichi Utami


Mau ngapain weekend ini? Islands hopping di Belitung gimana?

Kalau lagi cuaca bagus, “lompat-lompat” antar pulau-pulau kecil di seputaran pulau Belitung ini adalah hal yang wajib untuk dilakukan. Kalau cuaca mendung, biasa-biasanya perahu-perahu yang digunakan untuk kegiatan “lompat-lompat” ini ngga mau jalan. Dari pada kenapa-kenapa kan. Masalahnya cuaca bagus atau ngga ini kayaknya tergantung amal dan ibadah masing-masing. Hehe. Hehe. Ngga ding. 😜

Menurut lokal guide waktu saya ke sana kemarin, kalau memang mau islands hopping paling aman datang ke Belitung adalah antara bulan Maret sampai dengan bulan September. Di luar itu, cuaca biasanya ngga stabil. Jadi kadang bisa berangkat kadang ngga. Saya kemarin ke Belitung bulan Oktober dan beruntung bisa berangkat islands hopping. 😁

Baca Selengkapnya

Saturday, February 18, 2017

Mengunjungi Tugu Perbatasan RI di Sabang dan Merauke by Arievrahman

"Indonesia, dengan ribuan pulau dan jutaan keindahannya, adalah sebuah negara yang tak akan habis dijelajahi seumur hidup. Kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi? "- Arievrahman

Legenda mengatakan, ada sepasang tugu kembar di ujung-ujung Indonesia, yang satu di Sabang; satunya di Merauke, yang mana keduanya dipisahkan oleh ribuan pulau-pulau yang menyambung menjadi satu, Indonesia. Sabang terletak di ujung barat Indonesia pada provinsi Daerah Istimewa Aceh, sementara Merauke terletak di ujung timur Indonesia pada provinsi Daerah Khusus Papua. Dua daerah yang mengapit 32 provinsi lainnya di Indonesia


Namun tak ada yang mengatakan, bahwa perjuangan untuk menemukan kedua tugu itu tak sesingkat lagu yang digubah oleh R. Suharjo, sebuah lagu perjuangan berjudul Dari Sabang sampai Merauke.



Friday, February 17, 2017

The Best of Flores by Barry Kusuma

"Indonesia itu ibarat kotak coklat yang isinya berbagai macam bentuk dan rasa, walaupun berbeda beda setiap destinasi di Indonesia punya kelebihan masing masing dan semuanya indah." Barry Kusuma

Flores adalah destinasi favorite saya, karena Flores punya satu paket lengkap keindahan alam maupun kekayaan budayanya yang sangat kental dan masih terjaga sampai saat ini. Buat kamu pencinta laut, kawasan Taman Nasional Komodo inilah gudangnya pantai pantai cantik dan undwerwaternya juara. Kalau kamu suka budaya, saya sarankan untuk landtrip dari Labuan Bajo sampai Larantuka dijamin bakal banyak nemuin budaya masyarakat Manggarai yang masih terjaga sampai saat ini.



Baca Selengkapnya

Monday, February 6, 2017

Sejarah yang Terlewatkan di Balik Cawan Monas



Kunjungan terakhir berwisata ke kawasan Monumen Nasional atau kerap disebut Monas termasuk melihat museum di dalamnya ketika masih jaman SMA. Saat itu bersama dengan teman satu sekolah mengadakan darma wisata mengunjungi beberapa tempat wisata di kawasan Jakarta. Tidak banyak yang berubah dari isi Museum Sejarah Nasional tersebut. Di bagian bawah masih menyajikan diorama seputar sejarah terbentuknya NKRI mulai dari jaman pra sejarah, era kerajaan, jaman kemerdekaan, pemberontakan PKI hingga bergabungnya Irian Jaya ke pangkuan bumi pertiwi.

Diawali diorama tentang manusia Indonesia purba.

Dan diakhiri diorama pembebasan Irian Barat. 

Namun ada satu episode sejarah NKRI yang terlewatkan, atau belum diupdate, yaitu peristiwa 98 yang berujung jatuhnya pemerintahan Soeharto pada waktu itu. Bagi yang mengalami peristiwa itu tentu tidak akan terlupakan dan berharap tidak terulang lagi. Diawali dengan berbagai demo yang diinisiasi oleh para mahasiswa di berbagai universitas, hingga terjadi peristiwa penembakan oleh aparat yang menyebabkan 4 orang mahasiswa Universitas Trisakti meninggal dunia. Peristiwa ini dinilai menjadi pemicu gelombang kemarahan rakyat yang menyebabkan kerusuhan di Jakarta dan merembet ke kota-kota lainnya. Hingga akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 Soeharto mundur sebagai Presiden RI.




Sepedih apapun, peristiwa tersebut harus tercatat dalam sejarah, agar dapat diketahui oleh anak cucu kelak. ”Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah”. Pesan yang disampaikan oleh Bung Karno pada pidato di depan MPRS, 17 Agustus 1966, yang kemudian dikenal sebagai pidato Jasmerah. Tentu dalam memaparkan peristiwa tersebut harus benar-benar netral dan murni tanpa intimidasi serta tidak merugikan pihak lain. Semoga dalam waktu dekat, peristiwa 98 segera hadir mengisi salah satu diorama di Museum Sejarah Nasional tersebut.\

Kawasan Monas sendiri sudah cukup banyak berubah dibanding ketika saya berkunjung waktu itu. Area sekitar sudah steril dari PKL dan juga tukang foto yang hanya bisa menawarkan jasanya di pintu masuk depan Istana Negara. Untuk memasuki cawan dan puncak Monas pun sekarang tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, tapi menggunakan kartu Jakarta One yang mempunyai banyak fungsi. Dapat juga digunakan untuk memasuki museum lain yang dikelola oleh Pemda DKI, bahkan bisa untuk naik Transjakarta, . Penggunaan kartu ini sangat mudah, kita tinggal isi ulang jika saldonya sudah habis, persis seperti kartu debit. 

Harga tiket terusan ke puncak Monas yang memiliki ketinggian 132 meter itu untuk anak-anak Rp.4.000,- mahasiswa Rp.8.000,- dan dewasa Rp.15.000,- Bagi yang belum mempunyai kartu Jakarta One dapat membeli langsung diloket seharga Rp.20.000,- 

View Monas dari Yello Hotel Kamar 2902. Istana Negara pun terlihat.
Saat malam pun tugu Monas menjadi berwarna-warni. Saat kami menginap di Yello Hotel Harmoni, Jalan Hayam Wuruk No.6 Jakarta, terlihat dengan jelas penampakan Monas yang berwarna ungu. Untuk mendapatkan view Monas di hotel ini kami menempati kamar 2902 di lantai 29 yang merupakan lantai paling tinggi. Kamar ini dapat dipesan saat reservasi. Dari kamar inipun dengan jelas dapat terlihat Istana Negara. Pokoknya puas deh liat Monas dari pagi, siang, sore sampe malam hari.

Suasana Monas di malam hari.

Tuesday, January 31, 2017

Santai Sejenak di Trizara Resort


Biasanya kalau kita menginap di sebuah hotel atau resort tempat itu merupakan singgahan saat kita berwisata. Jadi kita akan berwisata ke tempat lain, kemudian setelah setelah baru kita menginap di hotel atau resort tersebut. Namun apa yang kita lakukan minggu lalu adalah kita benar-benar beristirahat dan malas-malasan di tempat itu.
Selamat Datang di Trizara Resort
Bersama dengan teman-teman travel blogger yang selama ini lebih sering berjumpa di dunia digital seperti Duo Indohoy : Mumun dan Vira, pasangan Ariev Rahman dan Dapur eh Gladies, Mbak Terry NegeriID, Mbak Windy dari I Was Here ID,Dita dari Mizan, Marischka dan Koh Ferry serta yang punya resort eh acara Mbak Trinitym rencananya akan kami menginap selama 3 hari 2 malam di Trizara Resort, sebuah tempat peristirahatan yang mengadopsi tenda sebagai tempat akomodasinya. Namun tenda tersebut bukan tenda biasa karena segala fasilitas pendukungnya sangat memadai. Itulah mengapa penginapan sistem seperti ini disebut glamping, kependekan dari glamour camping alias kemping mewah.

Trizara Resorts berada diantara Kota Bandung dan Lembang, termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat. Lokasinya dapat dijangkau melalui jalur Cimahi atau Padalarang dan tidak melewati Jalan Setiabudhi yang macetnya nggak abis-abis apalagi saat weekend. Jadi dari jalan tol kita bisa langsung menuju lokasi. 

Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 3 jam, itupun diselingi 2 kali mampir di rest area dan minimarket. Dan tepat jam makan siang kita sudah sampai di lokasi. Dua teman dari Bandung ikut bergabung dalam acara ini yaitu IGers @PutriAnindya atau Puan yang punya followers 500K dan Kang Uyul atau @niseng yang punya followers 200K. Gokil ya followersnya banyak banget, kayaknya 1 dari 5 orang Bandung follow mereka. Jangan-jalan Love mereka lebih banyak dari followers kita *ngumpet* 

Cuaca yang mendung-mendung asoy membuat kita pengen segera masuk tenda dan leyeh-leyeh. Saya sendiri kebagian menginap bareng Kang Uyul di tenda Netra No.11 yang pemandangannya langsung menghadap Gunung Tangkubanparahu yang legendaris itu. Dan ternyata kita dapet single bed. Hmmm...

Pesan Tipe Netra No.11 dapet view kayak gini.


Malemnya setelah makan makan kita langsung mengadakan acara utama yaitu perayaan ulang tahun Trinity yang ke-3. Maksudnya ini ulang tahun yang dirayakan ke-tiga kalinya untuk tahun ini, pertama di Maldives, kedua di Bali dan ketiga di tempat ini. Warbiasayah hehe. Oya Trinity ini lahir tanggal 11 Januari. Tanggalnya istimewa banget ya sampe Arman Maulana nyiptain lagu khusus untuk itu :)
Happy Birthday Trinity !!!
Birthday Girl dapet hadiah syal hasil rajutan istri *promo* :D

Setelah acara selesai hujan mulai turun, awalnya gerimis, kemudian membesar dan membuat suasana Lembang yang dingin menjadi tambah dingin. Kita sih asik aja ngobrol-ngobrol seputar dunia travel, tentang perjalanan terakhir, tentang perjalanan terseru, dan sebagainya. Trinity juga cerita "the untold stories" yaitu cerita perjalanannya yang karena satu dan lain hal tidak pernah dipublikasikan di bukunya. Sampai kita lelah akhirnya kita kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat.

***
Keesokan harinya kita semua bangun terlambat, nggak ada yang zumba padahal sudah dijadwalkan jam 7 pagi. Untuk sarapan pun baru dilakukan menjelang closing sekitar jam 10 pagi. Setelah sarapan kita sempatkan keliling resort sambil foto-foto keluarga. Setelah itu kita ngobrol-ngobrol lagi sambil menunggu makan siang. Jadi judulnya menunggu makan setelah makan. Wah alamat nambah berat badan ini mah. Padahal rencananya sih pengen nyoba panahan, salah satu atraksi yang bisa dilakukan di Trizara ini. 


Foto Keluarga Travel Blogger (Foto : Ferry Rusli)

Fake pose dulu (Foto : Ferry Rusli)

Setelah makan siang dengan menu khas sunda yang maknyus, kita kembali ke tenda masing-masing, cuaca mulai mendung dan saat yang tepat untuk leyeh-leyeh di tempat tidur. Menjelang sore kami kembali berkumpul kali ini bertemu dengan Pak Kunal yang merupakan owner dari Trizara Resort ini. Beliau mengucapkan terima kasih atas kehadiran rekan-rekan travel blogger yang bersedia menginap di tempat ini. Dia juga berharap masukan dari kami semua apa yang perlu ditambah atau diperbaiki di tempat ini. Menurut kita-kita sih tempat ini udah nyaman banget buat beristirahat dan menghabiskan waktu sambil bermalas-malasan. Tidak berapa lama hujan rintik mulai turun, kita terpaksa pindah ke ruang makan sambil memesan kopi. Ternyata di tempat ini tersedia juga coffee shop lengkap dengan baristanya. Saya sendiri pesan Piccolo yang terbuat dari kopi arabica Kintamani dan Toraja. 

Pak Kunal ini mirip dengan Reza Rahardian ya :)

Tanpa terasa hari mulai gelap dan kita langsung saja memesan makan malam. Setelah itu kali ini kita bermain kartu Werewolf sampai waktu tenang selesai. Permainan werewolf ini seru banget, agak sulit juga kalau diceritakan, lebih baik kita langsung praktekkan saja ya kalo ketemu :). Dan baru tengah malam kita kembali ke tenda. Ternyata masih belum puas ngobrolnya, dan diteruskan sampai jam 2.30 pagi.

Dan keesokan harinya kita kembali kesiangan. Kembali late breakfast, setelah itu siap-siap packing sebelum check out. Oya sebelum kembali ke Jakarta kita sempet ketemu dengan beberapa teman travel blogger yang akan menginap, diantaranya yang lagi hits Mas Sinyo alias Koper Traveler. Kontan beberapa teman blogger yang baru ketemu langsung minta foto bareng :)

Begitulah pengalaman kami saat menginap selama 3 hari 2 malam di Trizara Resort. Rasanya sebentar sekali dan tidak ingin pulang. Semoga suatu saat bisa kembali lagi dan bermalas-malasan lagi di tempat ini.

Sampai jumpa lagiiiiii (Foto : Ferry Rusli)

         

Tuesday, January 12, 2016

Pasar Santa, Pasar Ala Hipster Jakarta


Setahun lalu orang mungkin masih bingung ketika ditanya apa itu "Pasar Santa". Namun kini jika ditanyakan hal yang sama setiap anak muda Jakarta pasti tau. Pasar Santa kini dipenuhi "semangat anak pasar". Semangat para pengusaha muda untuk maju dan berdikari. Jika tetap tidak tau berarti benar-benar out of the date alias ketinggalan jaman. 

Pasar Santa adalah pasar rakyat yang terletak di Jl Cisanggiri II, tidak jauh dari Jl Wolter Mongonsidi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dari di peta ini. Pasar rakyat ini didirikan pada tahun 1971, namun saat itu masih belum permanen. Baru sekitar tahun 2007 dibuat permanen dengan menyediakan sekitar 1.000 kios untuk menyediakan sembako (sembilan bahan pokok). Tetapi karena kalah bersaing dengan pasar modern, selama kurang lebih 7 tahun pasar ini kurang laku. Sudah berbagai cara pengelola berusaha menarik minat para penjual agar membuka kios di tempat ini salah satunya adalah bekerjasama dengan pedagang batik. Namun tetap saja kurang peminat. 

Demikian diungkapkan Bambang Sugiarto yang menjadi Kepala Pengelola Pasar Santa saat ini. Hingga pada sekitar akhir bulan Juli 2014 ada ajakan kerjasama dari komunitas penggemar kopi. Kemudian bergabung juga penggemar piringan hitam, hingga ada juga yang ingin membuka kedai makanan. Akhirnya pengelola pasar bersama komunitas tersebut sepakat untuk membuka dan mempromosikan pasar ini dengan nama "Santa Modern Market" dengan menawarkan harga sewa Rp 3 juta - 3,5 juta per tahun. Kontan dengan biaya sewa super murah itu sekitar 300-an kios langsung ludes tersewa. Secara resmi sekitar bulan Oktober 2014 "Santa Modern Market" dibuka. 

Saat ini semakin banyak dan beragam jenis kios yang dibuka. Selain kios dan kedai kopi, kios jual beli piringan hitam, kedai mie, ada juga kios jual beli buku, kios jajanan waktu SD, ada juga kedai Roti Eneng yang pembuatannya langsung dilakukan ditempat. Kini kaum hipster atau anak-anak nongkrong Jakarta hampir setiap malam selalu memenuhi setiap sudut Pasar Santa, baik di lantai dasar, satu atau dua. Kini mereka tidak lagi nongkrong di mall atau cafe menghabiskan waktu berjam-jam, tapi mereka lebih memilih untuk pergi ke Pasar Santa, baik sebagai pemilik kios maupun sebagai pengunjung. Ekonomi kreatif telah mengubah anak-anak muda penyewa dan pemilik kios tersebut.

Gaya hedonis mereka ubah menjadi seorang entrepreneur yang didasari oleh hobby dan passion. Salah seorang pemilik kedai yang saya wawancarai adalah seorang yang suka nongkrong di mall dan cafe yang menghabiskan waktu berjam-jam sambil ngobrol dengan teman-temannya. Namun ketika mendengar ada kios dengan harga murah di Pasar Santa kontan ia tertarik untuk membuka kedai. Karena selama ini ia mencari tempat sewa tidak ada yang semurah itu. Hobinya yaitu membuat roti dia tuangkan di kedai tersebut. Bahkan setiap weekend yaitu sabtu dan minggu dia berdua dengan pacarnya yang menjadi pramusajinya. 

Salah satu kedai di Pasar Santa Pasar Santa yang dulunya kumuh, becek dan tidak laku, kini berubah menjadi sebuah pasar modern yang banyak dikunjungi anak muda. Pasar ini kembali hidup dan produktif. Inovasi yang sudah dilakukan oleh pengelola pasar, penyewa dan pedagang sudah menghasilkan sesuatu yang berguna dan yang membanggakan adalah peran dari para penyewa yang kebanyakan kaum muda. Ditengah banyaknya kaum muda yang terjerumus narkoba, mereka berhasil merubah paradigma pasar rakyat yang identik dengan pasar kumuh menjadi pasar modern yang menarik.

Keraton Jogja Gelar Pasukan Bregada


Para pengunjung di sekitar Jalan Malioboro pada hari minggu sore 31 Agustus 2014 tiba-tiba dikagetkan oleh adanya pasukan bregada atau prajurit keraton Daerah Istimewa Yogyakarta. Diawali oleh drumband dan pasukan paskibra tentu menjadi perhatian para wisatawan dan penduduk sekitar.  Kemudian diikuti oleh bregada dari berbagai daerah di propinsi Yogyakarta seperti Bantul, Sleman, Gunungkidul dan Parangtritis. 

Sungguh saya sangat beruntung bisa menyaksikan pawai yang biasa diadakan pada hari istimewa tersebut. Ternyata pawai ini diadakan untuk memperingati dua tahun Undang Undang Nomor 12 Tentang Daerah Istimewa Yogyakarta. Satu keunikan dari UU ini adalah pasal 19 yaitu tentang tata cara pengajuan calon gubernur. Pasal 19 (1) DPRD DIY memberitahukan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur serta Kasultanan dan Kadipaten tentang berakhirnya masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur. (2) 




Berdasarkan pemberitahuan dari DPRD DIY sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kasultanan mengajukan Sultan Hamengku Buwono yang bertakhta sebagai calon Gubernur dan Kadipaten mengajukan Adipati Paku Alam yang bertakhta sebagai calon Wakil Gubernur paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah surat pemberitahuan DPRD DIY diterima. (3) 




Kasultanan dan Kadipaten pada saat mengajukan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur kepada DPRD DIY menyerahkan:a. surat pencalonan untuk calon Gubernur yang ditandatangani oleh Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat;b. surat pencalonan untuk calon Wakil Gubernur yang ditandatangani oleh Penghageng Kawedanan Hageng Kasentanan Kadipaten Pakualaman;c. surat pernyataan kesediaan Sultan Hamengku Buwono yang bertakhta sebagai calon Gubernur dan Adipati Paku Alam yang bertakhta sebagai calon Wakil Gubernur; dan d. kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). Berikut ini serangkaian foto-foto saat acara kirab bregada hari minggu kemarin. Selain prajurit bregada, ada juga kirab srikandi-srikandi dan punakawan seperti yang terlihat dalam foto-foto berikut ini. 




Saya sudah sekitar 4 kali mengunjungi Yogyakarta dan Malioboro, namun dari kunjungan-kunjungan sebelumnya, kunjungan kali inilah yang paling memuaskan. Salam,

Monday, January 11, 2016

Masjid Dari Kayu Ulin di Tepi Sungai Mahakam


Ketika menyusuri Sungai Mahakam saya menemukan sebuah masjid yang unik. Semua material terbuat dari kayu ulin, yang dikenal sebagai kayu terkuat di dunia. Orang Jawa menyebutnya kayu besi. Perjalanan menuju Tabang, tempat suku dayak iban tinggal saya tunda terlebih dahulu untuk sekedar singgah dan bersujud di masjid ini.

Dan ketika saya memasuki masjid, memang benar semua terbuat dari kayu ulin, termasuk paku-paku untuk memasak dan menyambung bagian-bagiannya. Masjid ini sudah berdiri puluhan tahun dan masih tetap kokoh seperti masjid lain yang terbuat dari material semen. Menurut marbot yang menjaga masjid tersebut, untuk perawatan hanya mengeringkan saja bagian-bagian yang terkena basah agar tidak lembab dan keropos.

Setelah agak lama perjalanan kembali dilanjutkan menuju Desa Tabang, desa paling utara di Kabupaten Kutai Kartanegara, dimana beberapa suku dayak tinggal. Perlu waktu delapan jam menggunakan perahu kayu bermotor untuk mencapai tempat tersebut dari Kota Bangun,salah satu kecamatan di Kutai Kartanegara. Dan berapakah harga sewa perahu untuk rute tersebut pulang pergi? Harganya sebanding dengan harga sepeda motor terbaru!