Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"

Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia

Taman Nasional Baluran

Salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur

Santai Sejenak di Trizara Resort

Rasakan sensasi kemping dengan fasilitas bintang lima di Glamping Trizara Resort Lembang.

3000 km Jelajah Daratan Sulawesi

Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan.

Mengunjungi Habitat Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Tidak mudah untuk menemukan keberadaan orangutan tersebut. Kita harus sabar menunggu mereka keluar untuk beraktifitas.

Tuesday, February 21, 2017

Islands Hopping at Belitung by Chichi Utami

"Kalau gosip di lambeturah itu selalu ada aja yang baru walaupun orangnya itu-itu saja, di Indonesia juga tiba-tiba ada aja lokasi baru buat di-eksplore. Ngga habis-habis, bahkan untuk tempat yang sudah pernah didatangi sampai dua-tiga kali. Menyenangkan!"- Chichi Utami


Mau ngapain weekend ini? Islands hopping di Belitung gimana?

Kalau lagi cuaca bagus, “lompat-lompat” antar pulau-pulau kecil di seputaran pulau Belitung ini adalah hal yang wajib untuk dilakukan. Kalau cuaca mendung, biasa-biasanya perahu-perahu yang digunakan untuk kegiatan “lompat-lompat” ini ngga mau jalan. Dari pada kenapa-kenapa kan. Masalahnya cuaca bagus atau ngga ini kayaknya tergantung amal dan ibadah masing-masing. Hehe. Hehe. Ngga ding. 😜

Menurut lokal guide waktu saya ke sana kemarin, kalau memang mau islands hopping paling aman datang ke Belitung adalah antara bulan Maret sampai dengan bulan September. Di luar itu, cuaca biasanya ngga stabil. Jadi kadang bisa berangkat kadang ngga. Saya kemarin ke Belitung bulan Oktober dan beruntung bisa berangkat islands hopping. 😁

Baca Selengkapnya

Saturday, February 18, 2017

Mengunjungi Tugu Perbatasan RI di Sabang dan Merauke by Arievrahman

"Indonesia, dengan ribuan pulau dan jutaan keindahannya, adalah sebuah negara yang tak akan habis dijelajahi seumur hidup. Kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi? "- Arievrahman

Legenda mengatakan, ada sepasang tugu kembar di ujung-ujung Indonesia, yang satu di Sabang; satunya di Merauke, yang mana keduanya dipisahkan oleh ribuan pulau-pulau yang menyambung menjadi satu, Indonesia. Sabang terletak di ujung barat Indonesia pada provinsi Daerah Istimewa Aceh, sementara Merauke terletak di ujung timur Indonesia pada provinsi Daerah Khusus Papua. Dua daerah yang mengapit 32 provinsi lainnya di Indonesia


Namun tak ada yang mengatakan, bahwa perjuangan untuk menemukan kedua tugu itu tak sesingkat lagu yang digubah oleh R. Suharjo, sebuah lagu perjuangan berjudul Dari Sabang sampai Merauke.



Friday, February 17, 2017

The Best of Flores by Barry Kusuma

"Indonesia itu ibarat kotak coklat yang isinya berbagai macam bentuk dan rasa, walaupun berbeda beda setiap destinasi di Indonesia punya kelebihan masing masing dan semuanya indah." Barry Kusuma

Flores adalah destinasi favorite saya, karena Flores punya satu paket lengkap keindahan alam maupun kekayaan budayanya yang sangat kental dan masih terjaga sampai saat ini. Buat kamu pencinta laut, kawasan Taman Nasional Komodo inilah gudangnya pantai pantai cantik dan undwerwaternya juara. Kalau kamu suka budaya, saya sarankan untuk landtrip dari Labuan Bajo sampai Larantuka dijamin bakal banyak nemuin budaya masyarakat Manggarai yang masih terjaga sampai saat ini.



Baca Selengkapnya

Monday, February 6, 2017

Sejarah yang Terlewatkan di Balik Cawan Monas



Kunjungan terakhir berwisata ke kawasan Monumen Nasional atau kerap disebut Monas termasuk melihat museum di dalamnya ketika masih jaman SMA. Saat itu bersama dengan teman satu sekolah mengadakan darma wisata mengunjungi beberapa tempat wisata di kawasan Jakarta. Tidak banyak yang berubah dari isi Museum Sejarah Nasional tersebut. Di bagian bawah masih menyajikan diorama seputar sejarah terbentuknya NKRI mulai dari jaman pra sejarah, era kerajaan, jaman kemerdekaan, pemberontakan PKI hingga bergabungnya Irian Jaya ke pangkuan bumi pertiwi.

Diawali diorama tentang manusia Indonesia purba.

Dan diakhiri diorama pembebasan Irian Barat. 

Namun ada satu episode sejarah NKRI yang terlewatkan, atau belum diupdate, yaitu peristiwa 98 yang berujung jatuhnya pemerintahan Soeharto pada waktu itu. Bagi yang mengalami peristiwa itu tentu tidak akan terlupakan dan berharap tidak terulang lagi. Diawali dengan berbagai demo yang diinisiasi oleh para mahasiswa di berbagai universitas, hingga terjadi peristiwa penembakan oleh aparat yang menyebabkan 4 orang mahasiswa Universitas Trisakti meninggal dunia. Peristiwa ini dinilai menjadi pemicu gelombang kemarahan rakyat yang menyebabkan kerusuhan di Jakarta dan merembet ke kota-kota lainnya. Hingga akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 Soeharto mundur sebagai Presiden RI.




Sepedih apapun, peristiwa tersebut harus tercatat dalam sejarah, agar dapat diketahui oleh anak cucu kelak. ”Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah”. Pesan yang disampaikan oleh Bung Karno pada pidato di depan MPRS, 17 Agustus 1966, yang kemudian dikenal sebagai pidato Jasmerah. Tentu dalam memaparkan peristiwa tersebut harus benar-benar netral dan murni tanpa intimidasi serta tidak merugikan pihak lain. Semoga dalam waktu dekat, peristiwa 98 segera hadir mengisi salah satu diorama di Museum Sejarah Nasional tersebut.\

Kawasan Monas sendiri sudah cukup banyak berubah dibanding ketika saya berkunjung waktu itu. Area sekitar sudah steril dari PKL dan juga tukang foto yang hanya bisa menawarkan jasanya di pintu masuk depan Istana Negara. Untuk memasuki cawan dan puncak Monas pun sekarang tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, tapi menggunakan kartu Jakarta One yang mempunyai banyak fungsi. Dapat juga digunakan untuk memasuki museum lain yang dikelola oleh Pemda DKI, bahkan bisa untuk naik Transjakarta, . Penggunaan kartu ini sangat mudah, kita tinggal isi ulang jika saldonya sudah habis, persis seperti kartu debit. 

Harga tiket terusan ke puncak Monas yang memiliki ketinggian 132 meter itu untuk anak-anak Rp.4.000,- mahasiswa Rp.8.000,- dan dewasa Rp.15.000,- Bagi yang belum mempunyai kartu Jakarta One dapat membeli langsung diloket seharga Rp.20.000,- 

View Monas dari Yello Hotel Kamar 2902. Istana Negara pun terlihat.
Saat malam pun tugu Monas menjadi berwarna-warni. Saat kami menginap di Yello Hotel Harmoni, Jalan Hayam Wuruk No.6 Jakarta, terlihat dengan jelas penampakan Monas yang berwarna ungu. Untuk mendapatkan view Monas di hotel ini kami menempati kamar 2902 di lantai 29 yang merupakan lantai paling tinggi. Kamar ini dapat dipesan saat reservasi. Dari kamar inipun dengan jelas dapat terlihat Istana Negara. Pokoknya puas deh liat Monas dari pagi, siang, sore sampe malam hari.

Suasana Monas di malam hari.

Tuesday, January 31, 2017

Santai Sejenak di Trizara Resort


Biasanya kalau kita menginap di sebuah hotel atau resort tempat itu merupakan singgahan saat kita berwisata. Jadi kita akan berwisata ke tempat lain, kemudian setelah setelah baru kita menginap di hotel atau resort tersebut. Namun apa yang kita lakukan minggu lalu adalah kita benar-benar beristirahat dan malas-malasan di tempat itu.
Selamat Datang di Trizara Resort
Bersama dengan teman-teman travel blogger yang selama ini lebih sering berjumpa di dunia digital seperti Duo Indohoy : Mumun dan Vira, pasangan Ariev Rahman dan Dapur eh Gladies, Mbak Terry NegeriID, Mbak Windy dari I Was Here ID,Dita dari Mizan, Marischka dan Koh Ferry serta yang punya resort eh acara Mbak Trinitym rencananya akan kami menginap selama 3 hari 2 malam di Trizara Resort, sebuah tempat peristirahatan yang mengadopsi tenda sebagai tempat akomodasinya. Namun tenda tersebut bukan tenda biasa karena segala fasilitas pendukungnya sangat memadai. Itulah mengapa penginapan sistem seperti ini disebut glamping, kependekan dari glamour camping alias kemping mewah.

Trizara Resorts berada diantara Kota Bandung dan Lembang, termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat. Lokasinya dapat dijangkau melalui jalur Cimahi atau Padalarang dan tidak melewati Jalan Setiabudhi yang macetnya nggak abis-abis apalagi saat weekend. Jadi dari jalan tol kita bisa langsung menuju lokasi. 

Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 3 jam, itupun diselingi 2 kali mampir di rest area dan minimarket. Dan tepat jam makan siang kita sudah sampai di lokasi. Dua teman dari Bandung ikut bergabung dalam acara ini yaitu IGers @PutriAnindya atau Puan yang punya followers 500K dan Kang Uyul atau @niseng yang punya followers 200K. Gokil ya followersnya banyak banget, kayaknya 1 dari 5 orang Bandung follow mereka. Jangan-jalan Love mereka lebih banyak dari followers kita *ngumpet* 

Cuaca yang mendung-mendung asoy membuat kita pengen segera masuk tenda dan leyeh-leyeh. Saya sendiri kebagian menginap bareng Kang Uyul di tenda Netra No.11 yang pemandangannya langsung menghadap Gunung Tangkubanparahu yang legendaris itu. Dan ternyata kita dapet single bed. Hmmm...

Pesan Tipe Netra No.11 dapet view kayak gini.


Malemnya setelah makan makan kita langsung mengadakan acara utama yaitu perayaan ulang tahun Trinity yang ke-3. Maksudnya ini ulang tahun yang dirayakan ke-tiga kalinya untuk tahun ini, pertama di Maldives, kedua di Bali dan ketiga di tempat ini. Warbiasayah hehe. Oya Trinity ini lahir tanggal 11 Januari. Tanggalnya istimewa banget ya sampe Arman Maulana nyiptain lagu khusus untuk itu :)
Happy Birthday Trinity !!!
Birthday Girl dapet hadiah syal hasil rajutan istri *promo* :D

Setelah acara selesai hujan mulai turun, awalnya gerimis, kemudian membesar dan membuat suasana Lembang yang dingin menjadi tambah dingin. Kita sih asik aja ngobrol-ngobrol seputar dunia travel, tentang perjalanan terakhir, tentang perjalanan terseru, dan sebagainya. Trinity juga cerita "the untold stories" yaitu cerita perjalanannya yang karena satu dan lain hal tidak pernah dipublikasikan di bukunya. Sampai kita lelah akhirnya kita kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat.

***
Keesokan harinya kita semua bangun terlambat, nggak ada yang zumba padahal sudah dijadwalkan jam 7 pagi. Untuk sarapan pun baru dilakukan menjelang closing sekitar jam 10 pagi. Setelah sarapan kita sempatkan keliling resort sambil foto-foto keluarga. Setelah itu kita ngobrol-ngobrol lagi sambil menunggu makan siang. Jadi judulnya menunggu makan setelah makan. Wah alamat nambah berat badan ini mah. Padahal rencananya sih pengen nyoba panahan, salah satu atraksi yang bisa dilakukan di Trizara ini. 


Foto Keluarga Travel Blogger (Foto : Ferry Rusli)

Fake pose dulu (Foto : Ferry Rusli)

Setelah makan siang dengan menu khas sunda yang maknyus, kita kembali ke tenda masing-masing, cuaca mulai mendung dan saat yang tepat untuk leyeh-leyeh di tempat tidur. Menjelang sore kami kembali berkumpul kali ini bertemu dengan Pak Kunal yang merupakan owner dari Trizara Resort ini. Beliau mengucapkan terima kasih atas kehadiran rekan-rekan travel blogger yang bersedia menginap di tempat ini. Dia juga berharap masukan dari kami semua apa yang perlu ditambah atau diperbaiki di tempat ini. Menurut kita-kita sih tempat ini udah nyaman banget buat beristirahat dan menghabiskan waktu sambil bermalas-malasan. Tidak berapa lama hujan rintik mulai turun, kita terpaksa pindah ke ruang makan sambil memesan kopi. Ternyata di tempat ini tersedia juga coffee shop lengkap dengan baristanya. Saya sendiri pesan Piccolo yang terbuat dari kopi arabica Kintamani dan Toraja. 

Pak Kunal ini mirip dengan Reza Rahardian ya :)

Tanpa terasa hari mulai gelap dan kita langsung saja memesan makan malam. Setelah itu kali ini kita bermain kartu Werewolf sampai waktu tenang selesai. Permainan werewolf ini seru banget, agak sulit juga kalau diceritakan, lebih baik kita langsung praktekkan saja ya kalo ketemu :). Dan baru tengah malam kita kembali ke tenda. Ternyata masih belum puas ngobrolnya, dan diteruskan sampai jam 2.30 pagi.

Dan keesokan harinya kita kembali kesiangan. Kembali late breakfast, setelah itu siap-siap packing sebelum check out. Oya sebelum kembali ke Jakarta kita sempet ketemu dengan beberapa teman travel blogger yang akan menginap, diantaranya yang lagi hits Mas Sinyo alias Koper Traveler. Kontan beberapa teman blogger yang baru ketemu langsung minta foto bareng :)

Begitulah pengalaman kami saat menginap selama 3 hari 2 malam di Trizara Resort. Rasanya sebentar sekali dan tidak ingin pulang. Semoga suatu saat bisa kembali lagi dan bermalas-malasan lagi di tempat ini.

Sampai jumpa lagiiiiii (Foto : Ferry Rusli)

         

Tuesday, January 12, 2016

Pasar Santa, Pasar Ala Hipster Jakarta


Setahun lalu orang mungkin masih bingung ketika ditanya apa itu "Pasar Santa". Namun kini jika ditanyakan hal yang sama setiap anak muda Jakarta pasti tau. Pasar Santa kini dipenuhi "semangat anak pasar". Semangat para pengusaha muda untuk maju dan berdikari. Jika tetap tidak tau berarti benar-benar out of the date alias ketinggalan jaman. 

Pasar Santa adalah pasar rakyat yang terletak di Jl Cisanggiri II, tidak jauh dari Jl Wolter Mongonsidi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dari di peta ini. Pasar rakyat ini didirikan pada tahun 1971, namun saat itu masih belum permanen. Baru sekitar tahun 2007 dibuat permanen dengan menyediakan sekitar 1.000 kios untuk menyediakan sembako (sembilan bahan pokok). Tetapi karena kalah bersaing dengan pasar modern, selama kurang lebih 7 tahun pasar ini kurang laku. Sudah berbagai cara pengelola berusaha menarik minat para penjual agar membuka kios di tempat ini salah satunya adalah bekerjasama dengan pedagang batik. Namun tetap saja kurang peminat. 

Demikian diungkapkan Bambang Sugiarto yang menjadi Kepala Pengelola Pasar Santa saat ini. Hingga pada sekitar akhir bulan Juli 2014 ada ajakan kerjasama dari komunitas penggemar kopi. Kemudian bergabung juga penggemar piringan hitam, hingga ada juga yang ingin membuka kedai makanan. Akhirnya pengelola pasar bersama komunitas tersebut sepakat untuk membuka dan mempromosikan pasar ini dengan nama "Santa Modern Market" dengan menawarkan harga sewa Rp 3 juta - 3,5 juta per tahun. Kontan dengan biaya sewa super murah itu sekitar 300-an kios langsung ludes tersewa. Secara resmi sekitar bulan Oktober 2014 "Santa Modern Market" dibuka. 

Saat ini semakin banyak dan beragam jenis kios yang dibuka. Selain kios dan kedai kopi, kios jual beli piringan hitam, kedai mie, ada juga kios jual beli buku, kios jajanan waktu SD, ada juga kedai Roti Eneng yang pembuatannya langsung dilakukan ditempat. Kini kaum hipster atau anak-anak nongkrong Jakarta hampir setiap malam selalu memenuhi setiap sudut Pasar Santa, baik di lantai dasar, satu atau dua. Kini mereka tidak lagi nongkrong di mall atau cafe menghabiskan waktu berjam-jam, tapi mereka lebih memilih untuk pergi ke Pasar Santa, baik sebagai pemilik kios maupun sebagai pengunjung. Ekonomi kreatif telah mengubah anak-anak muda penyewa dan pemilik kios tersebut.

Gaya hedonis mereka ubah menjadi seorang entrepreneur yang didasari oleh hobby dan passion. Salah seorang pemilik kedai yang saya wawancarai adalah seorang yang suka nongkrong di mall dan cafe yang menghabiskan waktu berjam-jam sambil ngobrol dengan teman-temannya. Namun ketika mendengar ada kios dengan harga murah di Pasar Santa kontan ia tertarik untuk membuka kedai. Karena selama ini ia mencari tempat sewa tidak ada yang semurah itu. Hobinya yaitu membuat roti dia tuangkan di kedai tersebut. Bahkan setiap weekend yaitu sabtu dan minggu dia berdua dengan pacarnya yang menjadi pramusajinya. 

Salah satu kedai di Pasar Santa Pasar Santa yang dulunya kumuh, becek dan tidak laku, kini berubah menjadi sebuah pasar modern yang banyak dikunjungi anak muda. Pasar ini kembali hidup dan produktif. Inovasi yang sudah dilakukan oleh pengelola pasar, penyewa dan pedagang sudah menghasilkan sesuatu yang berguna dan yang membanggakan adalah peran dari para penyewa yang kebanyakan kaum muda. Ditengah banyaknya kaum muda yang terjerumus narkoba, mereka berhasil merubah paradigma pasar rakyat yang identik dengan pasar kumuh menjadi pasar modern yang menarik.

Keraton Jogja Gelar Pasukan Bregada


Para pengunjung di sekitar Jalan Malioboro pada hari minggu sore 31 Agustus 2014 tiba-tiba dikagetkan oleh adanya pasukan bregada atau prajurit keraton Daerah Istimewa Yogyakarta. Diawali oleh drumband dan pasukan paskibra tentu menjadi perhatian para wisatawan dan penduduk sekitar.  Kemudian diikuti oleh bregada dari berbagai daerah di propinsi Yogyakarta seperti Bantul, Sleman, Gunungkidul dan Parangtritis. 

Sungguh saya sangat beruntung bisa menyaksikan pawai yang biasa diadakan pada hari istimewa tersebut. Ternyata pawai ini diadakan untuk memperingati dua tahun Undang Undang Nomor 12 Tentang Daerah Istimewa Yogyakarta. Satu keunikan dari UU ini adalah pasal 19 yaitu tentang tata cara pengajuan calon gubernur. Pasal 19 (1) DPRD DIY memberitahukan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur serta Kasultanan dan Kadipaten tentang berakhirnya masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur. (2) 




Berdasarkan pemberitahuan dari DPRD DIY sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kasultanan mengajukan Sultan Hamengku Buwono yang bertakhta sebagai calon Gubernur dan Kadipaten mengajukan Adipati Paku Alam yang bertakhta sebagai calon Wakil Gubernur paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah surat pemberitahuan DPRD DIY diterima. (3) 




Kasultanan dan Kadipaten pada saat mengajukan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur kepada DPRD DIY menyerahkan:a. surat pencalonan untuk calon Gubernur yang ditandatangani oleh Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat;b. surat pencalonan untuk calon Wakil Gubernur yang ditandatangani oleh Penghageng Kawedanan Hageng Kasentanan Kadipaten Pakualaman;c. surat pernyataan kesediaan Sultan Hamengku Buwono yang bertakhta sebagai calon Gubernur dan Adipati Paku Alam yang bertakhta sebagai calon Wakil Gubernur; dan d. kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). Berikut ini serangkaian foto-foto saat acara kirab bregada hari minggu kemarin. Selain prajurit bregada, ada juga kirab srikandi-srikandi dan punakawan seperti yang terlihat dalam foto-foto berikut ini. 




Saya sudah sekitar 4 kali mengunjungi Yogyakarta dan Malioboro, namun dari kunjungan-kunjungan sebelumnya, kunjungan kali inilah yang paling memuaskan. Salam,

Monday, January 11, 2016

Masjid Dari Kayu Ulin di Tepi Sungai Mahakam


Ketika menyusuri Sungai Mahakam saya menemukan sebuah masjid yang unik. Semua material terbuat dari kayu ulin, yang dikenal sebagai kayu terkuat di dunia. Orang Jawa menyebutnya kayu besi. Perjalanan menuju Tabang, tempat suku dayak iban tinggal saya tunda terlebih dahulu untuk sekedar singgah dan bersujud di masjid ini.

Dan ketika saya memasuki masjid, memang benar semua terbuat dari kayu ulin, termasuk paku-paku untuk memasak dan menyambung bagian-bagiannya. Masjid ini sudah berdiri puluhan tahun dan masih tetap kokoh seperti masjid lain yang terbuat dari material semen. Menurut marbot yang menjaga masjid tersebut, untuk perawatan hanya mengeringkan saja bagian-bagian yang terkena basah agar tidak lembab dan keropos.

Setelah agak lama perjalanan kembali dilanjutkan menuju Desa Tabang, desa paling utara di Kabupaten Kutai Kartanegara, dimana beberapa suku dayak tinggal. Perlu waktu delapan jam menggunakan perahu kayu bermotor untuk mencapai tempat tersebut dari Kota Bangun,salah satu kecamatan di Kutai Kartanegara. Dan berapakah harga sewa perahu untuk rute tersebut pulang pergi? Harganya sebanding dengan harga sepeda motor terbaru!

Menyusuri Jejak Sejarah Bogor di Kampung Budaya Sindangbarang



Kampong tertua di wilayah Bogor adalah Kampung Sindangbarang yang saat ini berada di Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor. Hal tersebut tertulis dalam naskah Pantun Bogor dan Babad Pajajaran. Lokasinya berada di daerah Ciomas, kurang lebih 5 km dari pusat kota Bogor. Buat para wisatawan yang berkunjung ke Kota Bogor bisa dijadikan sebagai wisata alternative atau wisata budaya dan sejarah. Jadi bukan hanya sekitar Kebun Raya dan Istana Bogor saja yang buat yang sedang berkunjung, tempat ini juga bisa menjadi tujuan wisata di Kota Bogor.

Sindangbarang diperkirakan sudah ada sejak abad ke 12. Tempat ini merupakan tempat tempaan para ksatria kerajaan Pajajaran agar menjadi prajurit yang tangguh. Banyak peninggalan Kerajaan Pajajaran yang dapat dilihat di sekitar kawasan ini seperti adanya bukit-bukit berundak. Selain itu ada juga satu budaya yang hingga saat ini masih dipertahankan yaitu upacara seren taun yang diadakan setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang diberikan oleh yang maha kuasa untuk tahun ini dan berharap hasil panen tahun depan lebih baik lagi. Upacara seren tahun yang diadakan setiap awal tahun selalu dihadiri oleh banyak pengunjung, bahkan bisa mencapai ribuan orang yang datang dari berbagai kota bahkan ada yang datang dari luar negeri.

Saat ini rumah adat di Kampung Sindangbarang adalah hasil revitalisasi dari bangunan sebelumnya. Bangunan-bangunan tersebut dipugar kembali namun masih memperihatkan wujud aslinya. Dengan demikian anak-anak sekarang masih dapat mengetahui budaya dari jaman dahulu tersebut. Kita juga bisa menginap di kampung Sindangbarang ini dengan suasana pedesaan jaman dulu. Untuk memasak masih menggunakan kompor hawu yang menggunakan ranting kayu sebagai bahan bakarnya, melihat kehidupan petani sedang bercocok tanam dan melihat anak-anak sedang belajar menari. Untuk penerangan masih menggunakan lampu cempor, lampu yang menggunakan sumbu dengan minyak tanah.

Jika malam tiba karena lokasi ini berada di atas bukit, lampu-lampu terlihat begitu indah di sekitar kota Bogor. Jika cuaca sedang cerah, kota Jakarta pun akan terlihat dengan jelas termasuk gedung-gedung tingginya. Tidak percaya? Silahkan coba sendiri. Lebih indah lagi jika kita menginap saat malam tahun baru. Tepat jam 12 malam ratusan bahkan ribuan kembang api terlihat dengan indah dari tempat ini. Kita tidak perlu menyalakan kembang api, dengan melihat saja sudah sangat memuaskan.

Sunday, January 10, 2016

Mencicipi Durian Ucok



Ucok Durian, kalau belum makan durian ucok, belum sah ke Medan Bung! Demikian tertulis dalam spanduk ketika kami ke singgah di kedai Durian Ucok di Kota Medan. Memang sih penasaran juga jika kita mengunjungi Kota Medan tanpa singgah di kedai durian yang sudah terkenal itu. Seperti penasaran jika kita ke Jogja tanpa mencicipi gudeg, atau ke Palembang tanpa menyantap mpek-mpek. 

Durian Ucok adalah salah satu kedai yang menjual durian di kawasan Jalan Iskandar Muda, Medan. Ada beberapa penjual lainnya, namun yang paling rame ya kedai Ucok ini. Mereka menjual durian khas Sumatera Utara yang dikenal sebagai penghasil durian enak. Ketika akan memesan hanya ada dua pertanyaan dari si abang, "Mau yang manis atau pahit?" Ada dua jenis durian enak yaitu yang rasanya manis legit berwarna kuning mentega. Tapi ada juga yang rasanya manis tapi agak pahit. Saya lebih suka yang agak pahit itu, karena kalau manis sensasinya kurang. Tapi akhirnya kami memilih dua-duanya. 

Untuk harga tentu jauh jika dibandingkan dengan harga di Pulau Jawa. Dijamin lebih murah karena persediaannya sangat melimpah. Jika harga mahal dan tidak laku maka akan menjadi busuk dan malah menjadi rugi. Namun kini untuk mencegah durian menjadi busuk, banyak dibuat menjadi makan lain yang dikemas menjadi pancake durian. Tinggal disimpan di dalam kulkas maka akan awer cukup lama. Makanan lain adalah lempok durian atau dodol durian. 



    Ucok Durian 

    Alamat: Jalan Iskandar Muda, Sumatera Utara 20154
    Telepon:0819-859-540