Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"

Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia

Taman Nasional Baluran

Salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur

Menjelajahi Tanah Air Beta

"...Walaupun banyak negeri kujalani Yang masyur permai dikata orang, Tetapi kampung dan rumahku Di sanalah ku merasa senang Tanahku tak kulupakan Engkau kubanggakan ...".

3000 km Jelajah Daratan Sulawesi

Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan.

Mengunjungi Habitat Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Tidak mudah untuk menemukan keberadaan orangutan tersebut. Kita harus sabar menunggu mereka keluar untuk beraktifitas.

Friday, July 10, 2026

Liburan 3 Hari 2 Malam di Yogyakarta Bersama Keluarga Besar: Serunya Menjelajahi Merapi, Prambanan, Malioboro hingga Solo

 Yogyakarta selalu punya cara untuk membuat orang ingin kembali. Bukan hanya karena deretan destinasi wisatanya yang tak pernah membosankan, tetapi juga karena keramahan masyarakatnya, kuliner yang menggoda, serta suasana kotanya yang selalu menghadirkan rasa rindu.

Beberapa waktu lalu, keluarga besar kami yang berjumlah sekitar 40 orang memutuskan menghabiskan liburan selama 3 hari 2 malam di Yogyakarta. Perjalanan ini bukan sekadar agenda wisata, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat kebersamaan lintas generasi. Mulai dari anak-anak, orang tua, hingga kakek dan nenek, semuanya ikut menikmati setiap detik perjalanan.

Inilah cerita perjalanan kami.



Hari Pertama: Berangkat dari Bandung, Langsung Menjelajah Lereng Merapi

Perjalanan dimulai dari Stasiun Bandung sekitar pukul 20.00 WIB. Dengan jumlah peserta yang mencapai 40 orang, suasana kereta terasa begitu meriah. Rasanya seperti memiliki satu gerbong sendiri.

Anak-anak sibuk bermain dan berpindah tempat duduk untuk mengobrol dengan sepupu-sepupunya. Orang dewasa saling berbagi camilan, bercengkerama, hingga sesekali tertawa karena berbagai cerita yang muncul sepanjang perjalanan malam.



Tanpa terasa, pagi pun tiba.

Sesampainya di Stasiun Tugu Yogyakarta, bus wisata dari Dana Real Transport dgn Tour Leadernya Mas Odhie telah menunggu untuk mengantar kami menuju destinasi pertama, yaitu kawasan Gunung Merapi. Mas Odhie sambil bus berjalan menuju lokasi menjelaskan itinerary hari ini sambil diiringi lagu-lagu dari Sheila On 7 dan lagu bernuansa Jogja. 

Memacu Adrenalin dengan Jeep Lava Tour Merapi

Tak ada waktu untuk bermalas-malasan. Setelah menyimpan barang di bus, kami langsung berganti kendaraan menggunakan jeep yang akan membawa kami menyusuri jalur lava Merapi.

Sensasi berkendara di atas jalan berbatu, menyeberangi sungai kecil, hingga melintasi bekas aliran lahar menjadi pengalaman yang benar-benar berbeda.

Setiap jeep dipenuhi gelak tawa. Saat kendaraan menghantam genangan air atau melewati tanjakan curam, terdengar teriakan spontan yang justru membuat perjalanan semakin seru.

Di beberapa titik, kami berhenti untuk menikmati panorama Gunung Merapi yang berdiri gagah di kejauhan. Kamera dan ponsel hampir tak pernah berhenti bekerja karena setiap sudut layak diabadikan.



Bagi sebagian anggota keluarga, inilah pengalaman pertama mengikuti Jeep Lava Tour Merapi, dan hampir semua sepakat bahwa aktivitas ini menjadi salah satu highlight selama liburan.






Makan Pagi di Kopi Bukan Luwak, Ada Cerita yang Tak Terlupakan

Menjelang siang, rombongan berhenti untuk makan siang di Kopi Bukan Luwak, sebuah tempat yang nyaman untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Usai makan siang, sebagian anggota keluarga memanfaatkan waktu untuk menunaikan salat di musala yang tersedia. Sementara rombongan lain mulai kembali ke bus karena perjalanan menuju Solo akan segera dilanjutkan.

Ketika bus hampir berangkat, panitia rombongan melakukan pengecekan jumlah penumpang. Ternyata... ada satu orang yang belum kembali.

Suasana bus yang semula tenang langsung berubah menjadi riuh. Beberapa anggota keluarga turun untuk mencari ke berbagai sudut restoran. Ada yang mengecek area parkir, ada yang kembali ke ruang makan, sementara yang lain mulai mencoba menghubungi lewat telepon.

Tak lama kemudian, sosok yang dicari akhirnya ditemukan. Rupanya ia tertidur pulas di dalam musala setelah menunaikan salat. Dugaan kami, perpaduan rasa kenyang setelah makan siang dan sejuknya suasana musala membuatnya tanpa sadar terlelap.

Begitu dibangunkan, ia tampak sedikit kebingungan karena hampir saja ditinggal rombongan. Sontak seluruh keluarga tertawa lega. Sejak saat itu, kejadian tersebut menjadi bahan candaan sepanjang sisa perjalanan, bahkan masih sering diungkit ketika kami berkumpul hingga sekarang.

Momen sederhana seperti inilah yang justru membuat sebuah perjalanan menjadi lebih berkesan. Destinasi wisata memang penting, tetapi cerita-cerita spontan yang terjadi di luar rencana sering kali menjadi kenangan yang paling lama diingat.

Malioboro Selalu Punya Cerita

Dari kawasan Merapi, perjalanan dilanjutkan menuju ikon wisata Yogyakarta, Malioboro.

Begitu turun dari bus, rombongan langsung memiliki agenda masing-masing.

Para ibu dan anggota keluarga perempuan langsung berburu batik, tas, sandal, hingga berbagai oleh-oleh khas Jogja.



Sementara itu, karena hari tersebut bertepatan dengan hari Jumat, para pria memanfaatkan waktu untuk melaksanakan salat Jumat sebelum kembali berkumpul bersama rombongan.

Setelah semuanya selesai, kami kembali berjalan santai menikmati suasana Malioboro yang selalu hidup. Pedagang kaki lima, seniman jalanan, wisatawan dari berbagai daerah, hingga aroma kuliner khas Jogja membuat kawasan ini selalu terasa istimewa.

Makan Siang di Gudeg Yu Djum Pusat

Rasanya belum lengkap berkunjung ke Yogyakarta tanpa menikmati sajian gudeg yang menjadi ikon kuliner kota ini. Untuk makan siang, rombongan menuju Gudeg Yu Djum Pusat, salah satu rumah makan gudeg legendaris yang telah menjadi tujuan wisata kuliner selama puluhan tahun.

Di meja makan tersaji seporsi gudeg lengkap dengan nasi hangat, ayam kampung, telur, krecek yang gurih pedas, serta tahu dan tempe bacem yang kaya cita rasa. Perpaduan rasa manis khas gudeg dengan gurihnya lauk-pauk menciptakan pengalaman kuliner yang sulit dilupakan.

Bagi beberapa anggota keluarga yang baru pertama kali mencicipi gudeg asli Yogyakarta, makan siang ini menjadi pengalaman yang berkesan. Sementara bagi yang sudah pernah datang ke Kota Gudeg, menikmati hidangan di Gudeg Yu Djum selalu menghadirkan rasa rindu yang sama.

Perut kenyang, tenaga kembali terisi, dan rombongan pun siap melanjutkan agenda berikutnya.

Istirahat dan Malam Kebersamaan

Menjelang sore kami menuju penginapan untuk melakukan check-in.

Setelah perjalanan panjang sejak malam sebelumnya, semua menikmati waktu untuk beristirahat sejenak.

Namun keseruan belum selesai.

Malam harinya, seluruh anggota keluarga kembali berkumpul untuk mengikuti berbagai permainan yang telah dipersiapkan. Games sederhana ternyata mampu menghadirkan tawa yang luar biasa. Anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut larut dalam suasana.

Makan malam pun terasa semakin spesial ketika puluhan porsi sate yang telah dipesan sebelumnya diantarkan langsung ke penginapan.

Menikmati sate hangat sambil berbincang dan bercanda bersama keluarga menjadi penutup yang sempurna untuk hari pertama.

Hari Kedua: Mengagumi Kemegahan Candi Prambanan

Hari kedua diawali dengan sarapan bersama sebelum melanjutkan perjalanan menuju Candi Prambanan.

Begitu memasuki kawasan candi, kami langsung dibuat kagum oleh kemegahan bangunan berusia lebih dari seribu tahun tersebut.

Deretan candi yang menjulang tinggi dengan relief yang masih terjaga menjadi bukti kejayaan peradaban masa lalu.

Kami berjalan santai mengelilingi kompleks candi, berfoto bersama di berbagai sudut, serta menikmati suasana pagi yang masih cukup sejuk.



Anak-anak pun tampak antusias mendengarkan cerita mengenai legenda Roro Jonggrang yang selama ini hanya mereka kenal dari buku pelajaran.

Prambanan bukan sekadar tempat wisata, tetapi juga ruang belajar yang menyenangkan tentang sejarah dan budaya Indonesia.

Mencicipi Masakan Legendaris di RM Adem Ayem

Menjelang makan siang, rombongan tiba di RM Adem Ayem, rumah makan legendaris yang berada di kawasan depan Kantor Wali Kota Solo "Loji Gandrung". Tempat makan yang telah berdiri puluhan tahun ini menjadi salah satu tujuan kuliner favorit wisatawan maupun masyarakat lokal.

Suasana rumah makan yang nyaman membuat seluruh anggota keluarga bisa menikmati makan siang dengan santai. Beragam menu khas Jawa tersaji di meja, mulai dari ayam goreng, sup, aneka sayuran, hingga hidangan tradisional dengan cita rasa rumahan yang begitu menggugah selera.

Setelah pagi dihabiskan dengan berjalan kaki mengelilingi Prambanan, makan siang di RM Adem Ayem terasa seperti hadiah yang sempurna sebelum melanjutkan perjalanan.


Berburu Batik di Pasar Klewer, Solo

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Kota Solo.

Tujuan utama kami adalah Pasar Klewer, surga bagi pecinta batik.

Lorong-lorong pasar dipenuhi berbagai kios yang menjual kain batik, pakaian jadi, aksesori, hingga aneka suvenir dengan harga yang cukup bersaing.

Tak sedikit anggota keluarga yang membawa pulang batik untuk dipakai sendiri maupun dijadikan oleh-oleh.

Yang paling seru tentu saja proses tawar-menawar. Beberapa anggota keluarga bahkan berhasil mendapatkan harga yang jauh lebih murah setelah bernegosiasi dengan para pedagang.

Berbelanja di pasar tradisional seperti ini selalu memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pusat perbelanjaan modern.

Menutup Hari dengan Bakmi Jowo Mas Joyo

Perjalanan dari Solo menuju Yogyakarta memang cukup menguras tenaga. Namun sebelum kembali ke hotel, rombongan masih memiliki satu agenda kuliner yang sayang untuk dilewatkan, yaitu makan malam di Bakmi Jowo Mas Joyo.

Rumah makan ini dikenal sebagai salah satu tempat menikmati bakmi Jawa dengan cita rasa autentik. Begitu pesanan datang, aroma bawang putih, kaldu ayam, dan bumbu tradisional langsung menggugah selera.

Sebagian anggota keluarga memilih bakmi godog yang berkuah hangat, sementara yang lain menikmati bakmi goreng, nasi goreng Jawa, hingga aneka lauk pendamping. Semua dimasak satu per satu menggunakan api besar, sehingga menghasilkan aroma khas yang menjadi ciri bakmi Jawa tradisional.

Suasana makan malam terasa hangat. Setelah seharian menjelajahi Prambanan dan Solo, kami kembali berkumpul di satu meja, saling berbagi cerita tentang hasil belanja di Pasar Klewer hingga mengulang kembali kisah lucu anggota keluarga yang hampir tertinggal karena tertidur di musala saat singgah di Kopi Bukan Luwak. Tawa kembali pecah, membuktikan bahwa kejadian kecil sering kali menjadi kenangan yang paling membekas.

Usai makan malam, rombongan kembali menuju hotel. Malam itu tidak ada agenda resmi. Sebagian memilih beristirahat lebih awal, sementara yang lain masih mengobrol santai di lobi hotel sambil menikmati secangkir kopi. Dengan tenaga yang kembali terisi, semua bersiap menyambut hari terakhir sebelum kembali ke Bandung. 

Malam yang Lebih Santai

Setelah kembali ke Yogyakarta, malam kedua sengaja dibuat tanpa agenda khusus.

Ada yang memilih berjalan santai di sekitar hotel, menikmati kopi bersama keluarga, mengobrol hingga larut malam, atau sekadar beristirahat di kamar.

Meskipun sederhana, justru momen tanpa jadwal inilah yang memberi ruang untuk menikmati kebersamaan dengan lebih santai.

Hari Ketiga: Menutup Perjalanan dengan Menjelajahi Pasar Ngasem

Tak terasa, hari terakhir pun tiba. Setelah sarapan dan menyelesaikan proses check-out hotel, kami masih memiliki sedikit waktu sebelum kereta kembali membawa kami pulang ke Bandung.

Kesempatan itu kami manfaatkan untuk mengunjungi Pasar Ngasem, salah satu pasar tradisional yang berada di kawasan wisata Keraton Yogyakarta. Sejak pagi, pasar sudah ramai oleh aktivitas warga dan wisatawan yang berburu berbagai kebutuhan maupun oleh-oleh khas.

Menyusuri lorong-lorong Pasar Ngasem menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan pusat perbelanjaan modern. Beragam jajanan tradisional, rempah-rempah, kerajinan tangan, hingga aneka camilan khas Yogyakarta tersusun rapi di lapak para pedagang. Beberapa anggota keluarga memanfaatkan kesempatan terakhir ini untuk membeli oleh-oleh tambahan, sementara yang lain menikmati suasana pasar sambil sesekali mengobrol dengan para pedagang yang ramah.

Bagi kami, Pasar Ngasem bukan sekadar tempat berbelanja. Pasar ini memberikan gambaran tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta yang sederhana, hangat, dan penuh keramahan. Suasana pagi yang masih teduh membuat kunjungan terasa santai dan menjadi penutup yang manis sebelum meninggalkan Kota Gudeg.

Saatnya Pulang

Menjelang siang, rombongan kembali menuju Stasiun Tugu Yogyakarta untuk menaiki kereta menuju Bandung.



Perjalanan pulang terasa jauh lebih tenang. Sebagian beristirahat, sebagian lagi sibuk melihat kembali foto-foto di ponsel sambil mengenang berbagai momen yang baru saja dilewati.

Dalam waktu tiga hari, kami berhasil menikmati petualangan di lereng Merapi, mencicipi kuliner legendaris, berjalan di Malioboro, mengagumi kemegahan Prambanan, berburu batik di Solo, hingga menikmati hangatnya kebersamaan selama perjalanan.

Yang paling berharga dari semuanya ternyata bukan sekadar daftar destinasi yang berhasil dikunjungi, melainkan waktu berkualitas yang bisa dihabiskan bersama keluarga.

Di tengah kesibukan masing-masing, perjalanan seperti ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah investasi terbaik. Tawa di dalam kereta, percikan air saat jeep melintasi sungai, semangat berburu oleh-oleh, hingga makan sate bersama di penginapan akan selalu menjadi cerita yang dikenang bertahun-tahun kemudian.

Yogyakarta sekali lagi membuktikan bahwa kota ini bukan hanya menawarkan tempat wisata yang indah, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang mampu mempererat hubungan antaranggota keluarga.

Dan kami yakin, suatu hari nanti, kami akan kembali lagi ke Kota Gudeg dengan cerita-cerita baru yang tak kalah berkesan.


Tips dari Travelopedia.id untuk Liburan Rombongan ke Yogyakarta

  • Berangkat menggunakan kereta api menjadi pilihan yang nyaman untuk rombongan besar karena seluruh peserta bisa menikmati perjalanan bersama.
  • Mulailah itinerary dari kawasan Merapi sebelum masuk ke pusat kota agar waktu perjalanan lebih efisien.
  • Datanglah ke Malioboro pada siang atau sore hari agar memiliki waktu yang cukup untuk berbelanja.
  • Jika memungkinkan, sisihkan satu malam tanpa agenda wisata agar seluruh anggota keluarga bisa menikmati waktu santai bersama.
  • Jangan lupa menyisakan ruang di koper untuk oleh-oleh, karena godaan berbelanja di Malioboro maupun Pasar Klewer hampir mustahil ditolak.

Braga Bandung, Ikon Wisata Bersejarah yang Wajib Dikunjungi Saat Liburan ke Kota Kembang

Bandung memang tidak pernah kehabisan destinasi wisata menarik. Mulai dari wisata alam, kuliner, hingga bangunan bersejarah, semuanya bisa ditemukan di Kota Kembang. Namun, jika berbicara tentang kawasan paling ikonik yang memadukan sejarah, budaya, seni, dan gaya hidup modern, Braga Bandung adalah jawabannya.



Jalan Braga bukan sekadar ruas jalan di pusat Kota Bandung. Kawasan ini menjadi saksi perjalanan panjang kota sejak masa kolonial Belanda hingga berkembang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Berjalan kaki di sepanjang Jalan Braga menghadirkan pengalaman berbeda. Deretan bangunan bergaya art deco, trotoar yang nyaman, kafe-kafe klasik, galeri seni, serta pertunjukan musik jalanan menciptakan suasana yang sulit ditemukan di tempat lain.

Tak heran jika Braga selalu menjadi salah satu destinasi yang wajib masuk dalam itinerary wisata saat berkunjung ke Bandung.


Sejarah Jalan Braga Bandung

Nama Braga sudah dikenal sejak akhir abad ke-19. Pada masa kolonial, kawasan ini berkembang menjadi pusat perdagangan, hiburan, dan gaya hidup masyarakat Eropa yang tinggal di Bandung. Berbagai butik, toko mode, restoran, hotel, hingga gedung pertunjukan berdiri megah di sepanjang jalan ini.

Karena kemewahan tersebut, Bandung sempat dijuluki sebagai "Parijs van Java" atau Paris-nya Pulau Jawa. Julukan ini muncul karena suasana kota yang modern pada masanya, lengkap dengan pusat mode, hiburan, dan arsitektur bergaya Eropa.

Hingga kini, sebagian besar bangunan bersejarah di Braga tetap dipertahankan sehingga pengunjung masih dapat merasakan atmosfer klasik yang menjadi ciri khas kawasan ini.

Daya Tarik Braga Bandung

1. Arsitektur Kolonial yang Instagramable

Salah satu daya tarik utama Braga adalah bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh. Arsitektur bergaya art deco menjadi identitas kawasan ini dan menjadi favorit para fotografer maupun content creator. Hampir setiap sudut jalan menawarkan latar foto yang estetik. Mulai dari jendela-jendela klasik, lampu jalan bergaya vintage, hingga fasad bangunan yang penuh karakter.

2. Surga bagi Pecinta Kuliner

Wisata ke Braga belum lengkap tanpa mencicipi kulinernya. Di sepanjang Jalan Braga terdapat berbagai pilihan tempat makan, mulai dari restoran legendaris hingga coffee shop modern.Pengunjung dapat menikmati hidangan khas Indonesia, makanan Barat, dessert, hingga kopi lokal berkualitas sambil menikmati suasana kota yang santai.Saat malam tiba, kawasan ini juga dipenuhi pedagang kaki lima yang menawarkan aneka jajanan khas Bandung.

3. Surga Seni dan Kreativitas

Braga dikenal sebagai kawasan seni di Kota Bandung. Beberapa galeri seni rutin menggelar pameran lukisan, fotografi, maupun karya seniman lokal.Selain itu, wisatawan juga sering menjumpai pertunjukan musik jalanan yang membuat suasana semakin hidup, terutama saat akhir pekan.

4. Suasana Malam yang Romantis

Jika ingin menikmati Braga dalam suasana terbaiknya, datanglah menjelang sore hingga malam hari. Lampu-lampu jalan mulai menyala, bangunan tua terlihat semakin indah, dan udara Bandung yang sejuk membuat berjalan kaki terasa menyenangkan. Tidak sedikit pasangan maupun keluarga memilih Braga sebagai tempat menikmati malam di Kota Bandung.


Aktivitas Menarik yang Bisa Dilakukan

Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan selama berada di Braga, antara lain:

Berjalan santai menyusuri Jalan Braga.

Berburu foto di bangunan-bangunan heritage.

Menikmati kopi di kafe bergaya klasik.

Mengunjungi galeri seni dan pameran.

Menikmati pertunjukan musik jalanan.

Berbelanja suvenir khas Bandung.

Wisata kuliner dari pagi hingga malam.


Dengan panjang jalan yang tidak terlalu jauh, kawasan Braga sangat nyaman dijelajahi dengan berjalan kaki.

Destinasi Wisata Dekat Braga

Salah satu kelebihan Braga adalah lokasinya yang berada di pusat Kota Bandung sehingga mudah menjangkau berbagai destinasi wisata lainnya.

Beberapa tempat yang dapat dikunjungi setelah menjelajahi Braga antara lain:

Jalan Asia Afrika, kawasan bersejarah tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika 1955.

Alun-Alun Bandung, ruang terbuka hijau yang cocok untuk bersantai bersama keluarga.

Masjid Raya Bandung, salah satu ikon religi Kota Bandung dengan menara yang dapat dinaiki wisatawan.

Gedung Merdeka, museum sejarah yang menyimpan berbagai dokumentasi Konferensi Asia Afrika.

Sudirman Street Food, pusat kuliner malam yang menawarkan beragam hidangan khas Bandung maupun internasional.


Karena lokasinya saling berdekatan, seluruh destinasi tersebut dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan dalam waktu singkat.

Tips Berkunjung ke Braga Bandung

Agar pengalaman liburan semakin menyenangkan, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

Datang pada sore hari. Waktu terbaik menikmati Braga adalah mulai pukul 16.00 hingga malam hari ketika cuaca lebih sejuk dan suasana semakin hidup.

Gunakan alas kaki yang nyaman. Sebagian besar aktivitas dilakukan dengan berjalan kaki.

Siapkan kamera atau smartphone. Hampir setiap sudut Braga layak diabadikan.

Datang saat hari kerja jika ingin lebih tenang. Akhir pekan biasanya jauh lebih ramai.

Siapkan uang tunai secukupnya. Beberapa pedagang kaki lima masih melayani pembayaran tunai.

Cara Menuju Braga Bandung

Braga berada di pusat Kota Bandung dan sangat mudah diakses.

Dari Stasiun Bandung hanya sekitar 10 menit menggunakan kendaraan.

Dari Bandara Husein Sastranegara sekitar 20–30 menit tergantung kondisi lalu lintas.

Dari Gerbang Tol Pasteur sekitar 20 menit perjalanan.


Tersedia pula berbagai pilihan transportasi seperti taksi, transportasi online, angkutan kota, maupun kendaraan pribadi.

Waktu Terbaik Mengunjungi Braga

Braga dapat dikunjungi sepanjang tahun. Namun, jika ingin mendapatkan pengalaman terbaik, datanglah pada musim kemarau ketika cuaca lebih cerah sehingga nyaman untuk berjalan kaki dan berburu foto.

Bagi pecinta fotografi, momen golden hour menjelang matahari terbenam menjadi waktu terbaik untuk menghasilkan gambar yang dramatis dengan pencahayaan alami.

Kesimpulan

Braga Bandung bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga sebuah kawasan yang menyimpan sejarah panjang perjalanan Kota Bandung. Perpaduan bangunan heritage, kuliner, seni, budaya, dan suasana kota yang hangat menjadikan kawasan ini selalu menarik untuk dikunjungi, baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Baik ingin menikmati secangkir kopi di bangunan bersejarah, berburu foto estetik, menjelajahi jejak masa lalu, atau sekadar berjalan santai menikmati udara Bandung, Braga selalu menawarkan pengalaman yang berkesan.

Jadi, jika sedang merencanakan liburan ke Kota Kembang, pastikan Braga Bandung menjadi salah satu destinasi utama dalam daftar perjalanan. Karena di setiap langkah di Jalan Braga, selalu ada cerita yang layak untuk dikenang.




Dari Hutan ke Selembar Kain: Pengalaman Wisata Paling Berkesan di Sigi, Sulawesi Tengah

 Kalau selama ini wisata identik dengan pantai atau pegunungan, di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, saya menemukan pengalaman yang benar-benar berbeda. Di sini, perjalanan dimulai dari sebuah hutan adat yang sunyi, lalu berakhir di atas selembar kain batik yang penuh makna.

Batik Valiri bukan sekadar tempat membeli oleh-oleh. Ini adalah destinasi wisata berbasis pengalaman (experiential tourism) yang mengajak pengunjung memahami bagaimana alam, budaya, dan kehidupan masyarakat saling terhubung.

Begitu tiba di Desa Beka, Kecamatan Marawola, suasana langsung terasa berbeda. Hanya sekitar 50 meter dari rumah produksi Batik Valiri, berdiri Hutan Ranjuri, hutan adat seluas sekitar 9 hektare yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat Kaili.

Yang menarik, hutan ini bukan hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi. Hutan Ranjuri menjadi sumber air bersih warga, pelindung desa dari banjir dan kekeringan, sekaligus "studio alam" tempat lahirnya berbagai inspirasi motif batik.

Menyusuri Hutan, Mengenal Warna dari Alam

Saat berjalan di dalam hutan, saya baru memahami bahwa warna pada kain batik ternyata tidak selalu berasal dari bahan kimia.

Di Batik Valiri, hampir seluruh pewarna berasal dari dedaunan yang jatuh secara alami.

Beberapa di antaranya:

🌿 Daun Rau menghasilkan warna krem alami.

🍃 Daun Mangga menghadirkan nuansa kuning kehijauan.

🌳 Daun Jati menciptakan warna cokelat kemerahan.

🍂 Daun Ketapang menghasilkan warna gelap hingga hitam.


Yang membuat saya semakin kagum, masyarakat adat tidak pernah menebang pohon hanya untuk membuat pewarna. Mereka hanya mengambil daun-daun yang telah gugur sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.

Batik yang Bercerita Tentang Sigi

Bagi saya, bagian paling menarik bukan hanya proses membatiknya, melainkan cerita di balik setiap motif.

Motif Taiganja, misalnya, berasal dari benda sakral masyarakat Kaili yang melambangkan cinta, kesuburan, dan ketulusan hati.


Ada pula motif:

Pohon Rau dari Hutan Ranjuri

Daun Kelor

Senjata tradisional Guma

Jejak-jejak megalitik yang tersebar di Kabupaten Sigi


Setiap kain terasa seperti halaman buku sejarah yang bisa dikenakan.

Mencoba Membatik Sendiri

Yang paling seru tentu ketika wisatawan diberi kesempatan membatik secara langsung.

Mulai dari mencanting, memberi motif, hingga mewarnai menggunakan pewarna alami.

Ternyata prosesnya jauh lebih rumit dibanding yang saya bayangkan.




Untuk menghasilkan warna alami yang pekat, daun harus direbus hingga empat jam, kemudian kain dicelup berulang kali, bahkan bisa mencapai 20 kali pencelupan.

Tidak heran setiap lembar kain memiliki karakter warna yang unik dan tidak pernah benar-benar sama.


Wisata yang Membawa Pulang Cerita

Batik Valiri kini mengembangkan paket ekowisata yang menggabungkan:

✅ Trek singkat ke Hutan Ranjuri

✅ Mengenal budaya Kaili

✅ Workshop membatik

✅ Edukasi pewarna alami

✅ Belanja batik langsung dari pengrajinnya


Konsep seperti ini membuat wisata terasa lebih bermakna. Kita tidak hanya membeli kain batik, tetapi juga memahami perjalanan panjang di balik setiap helainya.


Kenapa Wajib Masuk Bucket List?

Karena di Sigi, wisata bukan sekadar datang untuk berfoto.

Di sini kita belajar bahwa menjaga hutan bisa menghidupi masyarakat, budaya bisa menjadi sumber ekonomi, dan selembar batik mampu menyimpan cerita tentang alam yang terus dijaga.

Batik Valiri membuktikan bahwa oleh-oleh terbaik bukan hanya benda yang dibawa pulang, tetapi juga pengalaman dan pemahaman baru tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam.



Kalau suatu hari berkunjung ke Sulawesi Tengah, jangan hanya mampir ke Palu. Luangkan waktu ke Desa Beka, Kabupaten Sigi. Siapa tahu, selembar batik yang dibawa pulang justru menjadi kenangan paling berharga dari perjalanan tersebut

Monday, February 25, 2019

Tebing Koja by Mer Dha

Sebetulnya saya ga ada rencana mau ke tempat ini. Tujuan saya sih cuma liat-liat Stasiun Cisauk aja, trus kembali pulang. Nah saya sempet liat ada postingan teman tentang Tebing Koja, dan iseng saya coba cek di Google Map ternyata lokasinya masih di sekitar Tangerang tapi berbatasan dengan Kab. Lebak. - Mer Dha



Saya cek stasiun terdekat dengan lokasi Tebing Koja tersebut adalah Stasiun Maja. Mumpung masih di wilayah Tangerang, saya langsung aja cusss melanjutkan perjalanan naik kereta ke Stasiun Maja dengan waktu tempuh 45 menit melalui 7 Stasiun. Ternyata Stasiun Maja juga lumayan bagus dan bersih, pokoknya keren lah.
Keluar dari stasiun saya disambut layaknya tamu kehormatan oleh orang-orang di luar stasiun. Mereka berteriak antusias kepada saya : "Ojek pak... Ojeknya Pak.". Bangga... Terharu... karena disambut di daerah yang belum saya kenal. Hehehe...
Pilihan untuk ke lokasi yang paling mudah dan cepat adalah menggunakan Ojek. Cuma di sana belum ada Ojek Onlen, jadi masih menggunakan ojek konvensional. Saya naik ojek ke lokasi ditempuh selama 30 menit dengan ongkos 25 ribu sekali jalan. Ternyata Stasiun Maja itu masuk ke wilayah Kabuaten Lebak, sedangkan Tebing Koja berada di wilayah Kabupaten Tangerang, tepatnya Desa Cikuya, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang.
Jadi perjalanan saya dengan ojek melintasi perbatasan kabupaten di sebuah jembatan yang melintasi Sungai Panunggulan (menurut si mamang ojeknya), cek video. Kemudian masuk ke jalan kampung yaitu Desa Gegunungan.Ada 3 Desa yang saya lalui, kenapa saya tau lewati 3 desa? Karena ciri khas batas desa itu adalah ada 10-15 meter jalanan yang tidak dicor. Biasalah, klu di border line suka ga jelas urusannya. Btw, jalanan desanya ok lho... dicor semua, padahal dipelosok. Kata mamang ojeknya sudah hampir setahun dicor menggunakan dana desa. Wuiiih mantap lah, pembangunan merata sampe desa.
Akhirnya saya sampe lokasi, tempat parkirannya sih lumayan cukup luas. Selanjutnya saya masuk ke lokasi dengan membayar tiket sebesar 5 ribu saja. Kita jalan 50 meter dah sampe di titik atau spot foto. Di spot foto ada warung dan saya berkenalan dengan pemiliknya yaitu Kang Yudi, dan akhirnya dia banyak bantu saya foto-foto. Bagus-bagus hasil foto nya, karena mungkin sudah terbiasa bantu foto tamu-tamu yang datang.

Untuk ke lokasi ini menggunakan mobil, bisa melalui Tol Jakarta-Merak dan keluar di Balaraja. Kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Cisoka atau Maja. Sebelum SMP 2 Solear ada pertigaan dan belok ke arah kanan, kemudian luruuuus aja ikutin jalan sambil tanya-tanya ama warga setempat biar ga nyasar. Jalannya coran tapi cukup satu mobil, jadi klu ada mobil dari arah depan bisa dicari ruang yang agak besar untuk melipir.
Oya, sebelum Tebing Koja ada obyek wisata kecil dan buatan yaitu Rumah Liliput (maaf ga sempat kefoto). Sering dimanfaatkan untuk foto-foto juga termasuk foto prewed.
Nanti kalau ke sana, cobain naik perahu (bayar lagi) dan foto di spot-spot yang lain, terutama di bagian bawah. Disarankan datang ke sana hari biasa karena ga rame, nah klu wiken disarankan Sabtu pagi, karena siang dikit dah rame. Klu Minggu apalagi, ramae banget.
Dah gitu aja...

Photo and content by Mer Dha

Sunday, December 24, 2017

Mendaki Gunung Sumbing via Garung



Gunung Sumbing adalah gunung api dengan tinggi 3.371 Mdpl, merupakan gunung tertinggi ke tiga di pulau Jawa setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet. Gunung ini memiliki 2 puncak yaitu Puncak Buntu (3362 Mdpl), dan Puncak Sejati (3371 Mdpl). Dari puncaknya bisa melihat hampir seluruh gunung di Jawa Tengah mulai dari gunung Sindoro, Slamet, Merapi, Merbabu, Prau, Lawu, Ungaran, Telomoyo hingga Andong.

Gunung Sumbing terletak di tiga kabupaten Jawa Tengah yaitu kabupaten Magelang, Temanggung, dan Wonosobo, bersandingan dengan Gunung Sindoro karena letaknya yang berdekatan dan sering disebut dengan gunung kembar. Terdapat tiga jalur untuk mencapai puncak Gunung Sumbing, yaitu Jalur Cepit Parakan, Jalur Bowongso, Jalur Kaliangkrik, Jalur Banaran, dan Jalur via Garung.

Read More

Tuesday, December 19, 2017

Menemukan "Bozem" di Hutan Kota Malabar

Jika berkunjung ke Kota Malang, sempatkan untuk singgah di Hutan kota Malabar, yang terletak di wilayah Kelurahan Oro-oro Dowo Kecamatan Klojen. Dijamin betah deh berlama-lama di hutan kota yang memiliki luas 16.178 m2 itu.


Saat memasuki gerbang utama kita akan menemukan tulisan Otsuka di bagian depannya. Otsuka ini adalah perusahaan yang ikut memelihara dan merawat keberadaan Hutan Kota ini. Perusahaan yang memproduksi Pocari Sweat itu turut peduli dengan hutan yang juga berfungi sebagai resapan air itu.

Pada awalnya yaitu pada zaman Belanda adalah lahan kosong yang dimanfaatkan tempat bermain anak-anak dari kampung sekitar. Kemudian karena lokasinya berada di dataran rendah kemudian difungsikan sebagai sebagai resapan air. Saat kita masuk ke bagian dalamnya kita akan menemukan kolam yang disebut ”Bozem” yang berfungsi sebagai tampungan air dari wilayah sekitar. 

Hampir semua lokasi ditumbuhi oleh pohon dan tanaman hutan, dan setiap pohon ada papan nama yang menjelaskan nama pohon termasuk bahasa latinnya. Penamaan dengan papan nama ini juga bagian dari bantuan dari Otsuka. Pada sisi timur, terdapat tanaman Cemara Angin yang apabila angin bertiup akan menimbulkan bunyi "desis", jadi jangan kaget saat duduk-duduk di sini tiba-tiba ada yang berbisik, sis,sis... itu hanya suara angin yang menerpa dedaunan. Sedangkan pada sisi barat terdapat satu jenis pohon Soga yang sampai detik ini masih tegak berdiri di area plasa l, selebihnya tanaman perdu dan hamparan rumput yang cukup instagramable untuk foto-foto.  

Awalnya nama Hutan Kota Malabar adalah "Kebon Rodjo" atau ”Bon Rodjo". Hal tersebut dikarenakan sebagai tempat bermain bola dan lempar lembing oleh anak-anak di sekitar lokasi (apa hubungannya coba?). Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1999/2000, Pemerintah Kota Malang mulai membenahi lokasi ini dengan menambah pohon penghijauan sebanyak kurang lebih 500 bibit, terdiri antara lain pohon Bungur, Glodokan Lokal, Glodokan Tiang, Sono Kembang, Sengon Butho, dan Beringin. 

Pada tahun 2013 Pemerintah Kota Malang mengukuhkan lokasi ini sebagai HUTAN KOTA MALABAR, sesuai nama lokasinya yaitu di Jalan Malabar, dengan Surat Keputusan Walikota Malang No. 220/2013. Tahun demi tahun penghijauan terus diupayakan dengan tujuan menambah rindang Ruang Terbuka Hijau, Fungsinya menjadi konservasi air, resapan air dan paru-paru kota. Selain itu juga menjadi sebagai penyeimbang lingkungan perkotaan, sekaligus sebagai tempat rekreasi yang menyegarkan. 

Hingga saat ini usaha penanaman pohon terus dilakukan baik oleh Pemerintah Kota Malang maupun peran serta masyarakat, Perguruan Tinggi dan swasta seperti perusahaan Otsuka tadi. Data terakhir jumlah pohon berkisar 1500 pohon yang tersebar merata di seluruh area. Cuma satu yang kurang yaitu tidak ada bunga-bunga yang berwarna warni di tempat ini. Mungkin jika ditanamkan akan menambah kecantikan hutan ini. 


Tuesday, October 17, 2017

Lapis Bogor Sangkuriang, Oleh Oleh Khas Kota Hujan

Setiap daerah atau kota biasanya mempunyai oleh-oleh yang khas untuk buah tangan. Tidak terkecuali dengan Bogor. Kalau dulu jika mendengar orang berkunjung ke kota yang terkenal sebagai kota hujan itu langsung terbersit oleh-oleh berupa talas. Karena di daerah ini terkenal dengan tumbuhan bertunas dengan kualitas baik dan bentuknya yang besar.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, oleh-oleh berupa talas Bogor mulai tergerus oleh makanan 
atau kuliner khas lainnya yang mulai banyak dicari orang seperti toge goreng, roti mini, asinan dan oleh-oleh lainnya. Ada satu yang cukup menghebohkan kehadirannya di dunia peroleh-olehan yaitu hadirnya Lapis Bogor Sangkuriang pada tahun 2011.

Lapis Bogor Sangkuriang hadir sebagai makanan khas Bogor yang langsung digemari karena bahan bakunya terbuat dari tepung talas, yang juga merupakan makanan khas Bogor era sebelumnya. Cemilan Bogor ini menjadi favorit karena rasanya cocok untuk selera orang Indonesia dan juga praktis dalam penyajian. Tinggal beli, potong dan dapat langsung dihidangkan. Hingga datang suatu masa kalau orang jalan-jalan ke Bogor pasti beli oleh-olehnya Lapis Bogor Sangkuriang ini.

Seiring dengan banyaknya permintaan akan oleh-oleh khas Bogor ini, maka berlaku juga hukum ekonomi tentang supply and demand. Beberapa merek bermunculan dengan menggunakan Lapis Talas sebagai bahan bakunya. Beberapa pembeli ada yang terkecoh dengan hadirnya produk sejenis, namun bagi pelanggan yang sudah merasakan perbedaan rasa tentu tidak akan tergoda, walau harga yang ditawarkan lebih murah. Padahal dari segi hargapun Lapis Talas yang asli dijual dengan harga terjangkau.

Harga Lapis Bogor dengan berbagai varian rasa




Lapis Bogor Sangkuriang hadir dengan rasa dan varian yang beragam. Favoritnya adalah original keju. Namun ada juga varian lain dapat dicoba yaitu : original extra cheese, full talas keju, brownies keju, coco pandan keju, strawberry keju, chocovila, dan teh hijau keju.

Rasa original keju yang menjadi favorit konsumen


Saat ini cukup banyak tersedia outlet yang menjual Lapis Bogor Sangkuriang. Selain di Jalan Sholeh Iskandar, juga tersedia di Jalan Pajajaran hingga Cibinong. Selain itu tersedia juga di reseller yang tersebar di wilayah Bogor.

Kalau malas mengunjungi outlet-outlet tersebut karena macet atau antri, kita juga bisa memanfaatkan layanan go-food. Tinggal pesan dari aplikasi Go-jek kita tinggal klik kue mana yang akan dipesan. Praktis kan.





Friday, September 22, 2017

Tiga Hari di Medan, Kemana aja?

Mendapat kesempatan kembali ke Kota Medan langsung membuat jadwal ke tempat-tempat yang belum sempat dikunjungi sebelumnya. Disela-sela tugas kantor yang cukup padat merayap, disempetin aja untuk mencicipi beberapa kuliner khas Medan.
A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on


Kebetulan kita menginap di Hotel yang berada di tengah kota yaitu Grand Aston City Hall. Lokasinya persis di depan Merdeka Walk, sentra kuliner yang selalu ramai menjelang malam. Dan saat siang sesaat setelah tiba kita langsung ke Merdeka Walk sebelum check-in. Setelah putar-putar dan membuat semakin lapar akhirnya kita memutuskan untuk makan di McDonalds. Sebuah pilihan yang absurd. Di Jakarta dan Bogor juga banyak atuh kang, gak bosan? Pengen nyobain Mekdi dengan ayam dari Medan alasannya :)

Setelah check-in dan istirahat sejenak di hotel yang di bagian depannya memang ada bangunan cagar budaya kantor balai kota Medan jaman dulu, malamnya kami memutuskan untuk kulineran di sekitar kota. Pilihannya jatuh ke Mie Ayam Akong & Acim yang terletak di perempatan Jalan Perniagaan Medan Barat.




Walaupun pemiliknya Tionghoa namun makanan ini halal. Mie ayam ini termasuk legendaris karena sudah puluhan tahun berjualan dan anak-anaknya sudah bersekolah di luar negeri (apa hubungannya ya?). Untuk melengkapi kenikmatan kita dapat memesan minuman lokal jenis soda dengan merek Badak buatan Siantar.



Rencananya setelah makan mie ayam kita mau langsung ke hotel untuk mempersiapkan acara besok. Namun karena masih ada sisa-sisa ruang kosong di bagian perut, kita sepakat untuk makan duren di mana lagi kalo bukan di Ucok Durian. Tahun lalu sempat ke tempat ini juga dan sekarang tempatnya semakin ramai. Durennya makin banyak dan harganya juga sudah hampir sama dengan harga Jakarta. Tapi kalo soal rasa, kalo kata orang sunda mah "moal gagal" artinya nggak akan gagal rasanya pasti manis dan mantap. Kita tinggal bilang mau rasa yang manis atau manis-pahit. Kalo manis yang biasa, tapi kalo manis-pahit rasanya agak strong dan cepat naik. Untuk ukutan kecil harganya Rp 50.000 per butir. Malam itu kami hanya menghabiskan 2 butir untuk 4 orang (1 orang nggak makan, 2 orang makan dikit, 1 orang makan banyak)



Hari kedua kami awali dengan sarapan di hotel. Ternyata nemu juga kuliner khas Medan yaitu Lontong Kari Medan berjajar dengan makanan seperti roti, bubur, nasi, kentang yang sebagian resep dari luar negeri. Saya memilih Lontong Kari dengan topping teri kacang, abon sapi dan tauco serta kerupuk khasnya yang berwarna merah. Kalau tidak ada jadwal acara rasanya bakal berlama-lama di resto ini sampai jam 10 saat closing.

Saat siang setelah tugas selesai, selanjutnya kami meneruskan wisata kuliner di kota yang terkenal dengan Bika Ambon-nya itu. Destinasi pertama ada Restoran Tip Top. Restoran ini juga merupakan restoran legendaris yang dibangun sejak tahun 1938. Jadi Tip Top ini pernah disinggahi oleh tentara Belanda, Jepang dan tentara nasional untuk sekedar ngopi-ngopi dan makan es krim.

Rekomendasinya es krim dan kue. Semua bahan yang digunakan masih persis seperti jaman dulu, termasuk membakarnya dengan menggunakan kayu arang (untuk kue ya bukan es krim). Sementara saya pesan kopi susu Sidikalang. Awalnya saat icip-icip terasa pahit arabica-nya. Namun lama-lama menjadi agak manis. Kok unik ya. Lalu diseruput sampai hampir habis terlihat ada cairan putih ternyata susu kental. Ternyata kopinya belum diaduk pembaca.

Sebelum balik ke hotel, lagi-lagi kami mampir dulu ke tempat kuliner yaitu Bolu Meranti dan Risol Gogo. Kedua tempat itu memang gak ada matinya. Saat ke sana antrian cukup padat merayap. Kami hanya pesan untuk diambil besok pagi agar masih terasa fresh.

Setelah leyeh-leyeh dan membuat report, malamnya kami kembali kulineran lagi. Kali ini tempat yang dikunjungi adalah Restoran Garuda. Restoran ini legendaris juga dengan menu khas kepala kakap. Namun malam itu kami hanya pesan ayam pop yang enaknya gak kalah juga. Restoran Garuda ada beberapa cabang di Medan dan ternyata di Jakarta ada cabangnya juga di Jalan Sabang.
A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on

Masih belum puas, kami lanjutkan dengan makan kerang di pinggir jalan. Kerangnya ternyata masih fresh banget terbukti masih pada idup. Beberapa teman malah ada yang nambah. Saya sih cukup satu porsi ditutup dengan teh tarik dingin.

Selanjutnya kami kembali ke Ucok Durian lagi. Bukan, bukan untuk makan lagi. Tapi kami pesan untuk dibungkus dan dibawa esok pagi untuk dibawa ke Jakarta. Jadi mereka juga terima take away. Pesan sesuai selera, rata-rata menggunakan wadah ukuran sedang dengan harga berkisar Rp 100.000 - Rp 250.000.- Mereka akan tutup rapat dengan menggunakan lakban dengan sangat rapat, karena takut tercium saat di pesawat. Dan ingat, paket durian ini tidak boleh dibawa ke kabin, harus masuk bagasi. (Terbukti saat kami pulang, di kabin pesawat tercium bau durian, petugas langsung mengendus setiap bungkusan mencurigakan, dan menemukan pancake durian dan terpaksa harus disita). Jadi sepertinya satu lakban bisa dihabiskan hanya 2-3 paket, saking rapetnya. (Saat bongkar oleh-oleh dirumahpun, orang rumah bilang, "ini ngebuka bungkusnya lebih susah dibanding buka durennya langsung.")



Hari terakhir diawali dengan malas-malasan di tempat tidur yang sangat posesif. Angka sudah menunjukkan jam 9 lebih, satu jam lagi breakfast tutup. Buru-buru kami turun makan sambil masih bercelana pendek dan belum mandi. Late check-out jam 1 siang sambil mikir mau ke mana lagi sambil nunggu terbang jam 7 malam nanti. Akhirnya diputuskan makan siang dulu terus mampir ke Istana Maimun. Sebuah Istana peninggalan Kesultanan Deli.

Keunikan dari Istana Maimun yang dibangun pada tahun 1888 ini adalah arsiteknya yang merupakan akulturasi dari budaya Melayu dan Islam, termasuk unsur seni dari negara Italia, India dan Spanyol. Untuk masuk kita dikenakan tiket sebesar Rp.5.000,- kita bisa masuk dan berkeliling seluruh istana. Kita juga ditawarkan untuk menyewa baju adat dan dapat berfoto di mana saja. Awalnya nggak ngeh, kirain yang pake baju adat itu orang-orang yang ditugaskan di sana. Jadi saat ada mbak-mbak yang pake baju adat saya minta dia bergaya di depan salah satu area. Mbaknya hanya senyum-senyum aja. Baru nyadar setelah temannya yang fotoin dia bergaya. Jadi malu sendiri. Untung bukan inang-inang yang aku suruh begaya, bisa dilempar awak ini.
Istana Maimun adalah istana Kesultanan Deli yang merupakan salah satu ikon kota Medan, Sumatera Utara, terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Didesain oleh arsitek Italia dan dibangun oleh Sultan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid. Pembangunan istana ini dimulai dari 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan. Istana Maimun terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Bangunan istana ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan. Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia. (Sumber info : Wikipedia)
A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on


Setelah puas keliling Istana Maimun, kami memutuskan untuk segera ke Bandara Kuala Namu. Sebenernya sih pengen nyobain naik kereta bandara yang keren itu, tapi karena sudah menyewa mobil untuk tiga hari full service dengan terpaksa ditunda lagi naik keretanya. Semoga suatu saat bisa kembali dan mencoba keretanya.

Tiba di bandara masih 3 jam lagi untuk boarding. Beruntung di bandara ini ada yang namanya Rest Area. Di tempat ini kita bisa tidur-tiduran karena ada kursi yang memanjang berderet bisa untuk rebahan. Jadi kalo mau nginep juga sepertinya bisa, dengan catatan siapa cepat dia dapat. Lalu ada free internet plus komputernya. Kebetulan hari itu ada deadline satu postingan dan masih sempat dibuat di tempat itu. Tapi inget jangan lupa logout ya. Selain itu ada juga colokan listrik untuk nge-charge yang sekarang menjadi kebutuhan pokok para traveler (sandang - pangan - casan).

Dan akhirnya, saat boarding telah tiba. Duduk manis di 45K (window), siap-siap terbang kembali ke Jakarta. Rasa kantuk mendadak hilang. Akhirnya memilih nonton film "The Accountant"nya Ben Affleck yang belum sempet ditonton saat di bioskop. Ternyata seru juga ya. Walau cuaca agak buruk gak keganggu karena anteng nonton film ini. Saat ditawari makan,  akhirnya luluh juga karena laper. Lalu lanjut nonton lagi. Dan ajaibnya film ini selesai saat pas landing di Soekarno Hatta Airport.

Selesai sudah perjalanan kali ini yang lebih banyak wisata kulinernya ya dibanding wisata lainnya. *brb cek bagasi*




  

Wednesday, February 22, 2017

Islands Hopping at Belitung by Chichi Utami

"Kalau gosip di lambeturah itu selalu ada aja yang baru walaupun orangnya itu-itu saja, di Indonesia juga tiba-tiba ada aja lokasi baru buat di-eksplore. Ngga habis-habis, bahkan untuk tempat yang sudah pernah didatangi sampai dua-tiga kali. Menyenangkan!"- Chichi Utami


Mau ngapain weekend ini? Islands hopping di Belitung gimana?

Kalau lagi cuaca bagus, “lompat-lompat” antar pulau-pulau kecil di seputaran pulau Belitung ini adalah hal yang wajib untuk dilakukan. Kalau cuaca mendung, biasa-biasanya perahu-perahu yang digunakan untuk kegiatan “lompat-lompat” ini ngga mau jalan. Dari pada kenapa-kenapa kan. Masalahnya cuaca bagus atau ngga ini kayaknya tergantung amal dan ibadah masing-masing. Hehe. Hehe. Ngga ding. 😜

Menurut lokal guide waktu saya ke sana kemarin, kalau memang mau islands hopping paling aman datang ke Belitung adalah antara bulan Maret sampai dengan bulan September. Di luar itu, cuaca biasanya ngga stabil. Jadi kadang bisa berangkat kadang ngga. Saya kemarin ke Belitung bulan Oktober dan beruntung bisa berangkat islands hopping. 😁

Baca Selengkapnya

Sunday, February 19, 2017

Mengunjungi Tugu Perbatasan RI di Sabang dan Merauke by Arievrahman

"Indonesia, dengan ribuan pulau dan jutaan keindahannya, adalah sebuah negara yang tak akan habis dijelajahi seumur hidup. Kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi? "- Arievrahman

Legenda mengatakan, ada sepasang tugu kembar di ujung-ujung Indonesia, yang satu di Sabang; satunya di Merauke, yang mana keduanya dipisahkan oleh ribuan pulau-pulau yang menyambung menjadi satu, Indonesia. Sabang terletak di ujung barat Indonesia pada provinsi Daerah Istimewa Aceh, sementara Merauke terletak di ujung timur Indonesia pada provinsi Daerah Khusus Papua. Dua daerah yang mengapit 32 provinsi lainnya di Indonesia


Namun tak ada yang mengatakan, bahwa perjuangan untuk menemukan kedua tugu itu tak sesingkat lagu yang digubah oleh R. Suharjo, sebuah lagu perjuangan berjudul Dari Sabang sampai Merauke.