Yogyakarta selalu punya cara untuk membuat orang ingin kembali. Bukan hanya karena deretan destinasi wisatanya yang tak pernah membosankan, tetapi juga karena keramahan masyarakatnya, kuliner yang menggoda, serta suasana kotanya yang selalu menghadirkan rasa rindu.
Beberapa waktu lalu, keluarga besar kami yang berjumlah sekitar 40 orang memutuskan menghabiskan liburan selama 3 hari 2 malam di Yogyakarta. Perjalanan ini bukan sekadar agenda wisata, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat kebersamaan lintas generasi. Mulai dari anak-anak, orang tua, hingga kakek dan nenek, semuanya ikut menikmati setiap detik perjalanan.
Inilah cerita perjalanan kami.
Hari Pertama: Berangkat dari Bandung, Langsung Menjelajah Lereng Merapi
Perjalanan dimulai dari Stasiun Bandung sekitar pukul 20.00 WIB. Dengan jumlah peserta yang mencapai 40 orang, suasana kereta terasa begitu meriah. Rasanya seperti memiliki satu gerbong sendiri.
Anak-anak sibuk bermain dan berpindah tempat duduk untuk mengobrol dengan sepupu-sepupunya. Orang dewasa saling berbagi camilan, bercengkerama, hingga sesekali tertawa karena berbagai cerita yang muncul sepanjang perjalanan malam.
Tanpa terasa, pagi pun tiba.
Sesampainya di Stasiun Tugu Yogyakarta, bus wisata dari Dana Real Transport dgn Tour Leadernya Mas Odhie telah menunggu untuk mengantar kami menuju destinasi pertama, yaitu kawasan Gunung Merapi. Mas Odhie sambil bus berjalan menuju lokasi menjelaskan itinerary hari ini sambil diiringi lagu-lagu dari Sheila On 7 dan lagu bernuansa Jogja.
Memacu Adrenalin dengan Jeep Lava Tour Merapi
Tak ada waktu untuk bermalas-malasan. Setelah menyimpan barang di bus, kami langsung berganti kendaraan menggunakan jeep yang akan membawa kami menyusuri jalur lava Merapi.
Sensasi berkendara di atas jalan berbatu, menyeberangi sungai kecil, hingga melintasi bekas aliran lahar menjadi pengalaman yang benar-benar berbeda.
Setiap jeep dipenuhi gelak tawa. Saat kendaraan menghantam genangan air atau melewati tanjakan curam, terdengar teriakan spontan yang justru membuat perjalanan semakin seru.
Di beberapa titik, kami berhenti untuk menikmati panorama Gunung Merapi yang berdiri gagah di kejauhan. Kamera dan ponsel hampir tak pernah berhenti bekerja karena setiap sudut layak diabadikan.
Bagi sebagian anggota keluarga, inilah pengalaman pertama mengikuti Jeep Lava Tour Merapi, dan hampir semua sepakat bahwa aktivitas ini menjadi salah satu highlight selama liburan.
Makan Pagi di Kopi Bukan Luwak, Ada Cerita yang Tak Terlupakan
Menjelang siang, rombongan berhenti untuk makan siang di Kopi Bukan Luwak, sebuah tempat yang nyaman untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Solo.
Beragam hidangan tersaji di meja. Setelah sejak pagi berkeliling Candi Prambanan, makan siang terasa begitu nikmat. Suasana restoran yang teduh membuat semua anggota keluarga bisa menikmati waktu santai sambil mengobrol dan melepas lelah.
Namun, justru di sinilah terjadi salah satu momen paling lucu selama perjalanan.
Usai makan siang, sebagian anggota keluarga memanfaatkan waktu untuk menunaikan salat di musala yang tersedia. Sementara rombongan lain mulai kembali ke bus karena perjalanan menuju Solo akan segera dilanjutkan.
Ketika bus hampir berangkat, panitia rombongan melakukan pengecekan jumlah penumpang. Ternyata... ada satu orang yang belum kembali.
Suasana bus yang semula tenang langsung berubah menjadi riuh. Beberapa anggota keluarga turun untuk mencari ke berbagai sudut restoran. Ada yang mengecek area parkir, ada yang kembali ke ruang makan, sementara yang lain mulai mencoba menghubungi lewat telepon.
Tak lama kemudian, sosok yang dicari akhirnya ditemukan. Rupanya ia tertidur pulas di dalam musala setelah menunaikan salat. Dugaan kami, perpaduan rasa kenyang setelah makan siang dan sejuknya suasana musala membuatnya tanpa sadar terlelap.
Begitu dibangunkan, ia tampak sedikit kebingungan karena hampir saja ditinggal rombongan. Sontak seluruh keluarga tertawa lega. Sejak saat itu, kejadian tersebut menjadi bahan candaan sepanjang sisa perjalanan, bahkan masih sering diungkit ketika kami berkumpul hingga sekarang.
Momen sederhana seperti inilah yang justru membuat sebuah perjalanan menjadi lebih berkesan. Destinasi wisata memang penting, tetapi cerita-cerita spontan yang terjadi di luar rencana sering kali menjadi kenangan yang paling lama diingat.
Malioboro Selalu Punya Cerita
Dari kawasan Merapi, perjalanan dilanjutkan menuju ikon wisata Yogyakarta, Malioboro.
Begitu turun dari bus, rombongan langsung memiliki agenda masing-masing.
Para ibu dan anggota keluarga perempuan langsung berburu batik, tas, sandal, hingga berbagai oleh-oleh khas Jogja.
Sementara itu, karena hari tersebut bertepatan dengan hari Jumat, para pria memanfaatkan waktu untuk melaksanakan salat Jumat sebelum kembali berkumpul bersama rombongan.
Setelah semuanya selesai, kami kembali berjalan santai menikmati suasana Malioboro yang selalu hidup. Pedagang kaki lima, seniman jalanan, wisatawan dari berbagai daerah, hingga aroma kuliner khas Jogja membuat kawasan ini selalu terasa istimewa.
Makan Siang di Gudeg Yu Djum Pusat
Rasanya belum lengkap berkunjung ke Yogyakarta tanpa menikmati sajian gudeg yang menjadi ikon kuliner kota ini. Untuk makan siang, rombongan menuju Gudeg Yu Djum Pusat, salah satu rumah makan gudeg legendaris yang telah menjadi tujuan wisata kuliner selama puluhan tahun.
Di meja makan tersaji seporsi gudeg lengkap dengan nasi hangat, ayam kampung, telur, krecek yang gurih pedas, serta tahu dan tempe bacem yang kaya cita rasa. Perpaduan rasa manis khas gudeg dengan gurihnya lauk-pauk menciptakan pengalaman kuliner yang sulit dilupakan.
Bagi beberapa anggota keluarga yang baru pertama kali mencicipi gudeg asli Yogyakarta, makan siang ini menjadi pengalaman yang berkesan. Sementara bagi yang sudah pernah datang ke Kota Gudeg, menikmati hidangan di Gudeg Yu Djum selalu menghadirkan rasa rindu yang sama.
Perut kenyang, tenaga kembali terisi, dan rombongan pun siap melanjutkan agenda berikutnya.
Istirahat dan Malam Kebersamaan
Menjelang sore kami menuju penginapan untuk melakukan check-in.
Setelah perjalanan panjang sejak malam sebelumnya, semua menikmati waktu untuk beristirahat sejenak.
Namun keseruan belum selesai.
Malam harinya, seluruh anggota keluarga kembali berkumpul untuk mengikuti berbagai permainan yang telah dipersiapkan. Games sederhana ternyata mampu menghadirkan tawa yang luar biasa. Anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut larut dalam suasana.
Makan malam pun terasa semakin spesial ketika puluhan porsi sate yang telah dipesan sebelumnya diantarkan langsung ke penginapan.
Menikmati sate hangat sambil berbincang dan bercanda bersama keluarga menjadi penutup yang sempurna untuk hari pertama.
Hari Kedua: Mengagumi Kemegahan Candi Prambanan
Hari kedua diawali dengan sarapan bersama sebelum melanjutkan perjalanan menuju Candi Prambanan.
Begitu memasuki kawasan candi, kami langsung dibuat kagum oleh kemegahan bangunan berusia lebih dari seribu tahun tersebut.
Deretan candi yang menjulang tinggi dengan relief yang masih terjaga menjadi bukti kejayaan peradaban masa lalu.
Kami berjalan santai mengelilingi kompleks candi, berfoto bersama di berbagai sudut, serta menikmati suasana pagi yang masih cukup sejuk.
Anak-anak pun tampak antusias mendengarkan cerita mengenai legenda Roro Jonggrang yang selama ini hanya mereka kenal dari buku pelajaran.
Prambanan bukan sekadar tempat wisata, tetapi juga ruang belajar yang menyenangkan tentang sejarah dan budaya Indonesia.
Mencicipi Masakan Legendaris di RM Adem Ayem
Menjelang makan siang, rombongan tiba di RM Adem Ayem, rumah makan legendaris yang berada di kawasan depan Kantor Wali Kota Solo "Loji Gandrung". Tempat makan yang telah berdiri puluhan tahun ini menjadi salah satu tujuan kuliner favorit wisatawan maupun masyarakat lokal.
Suasana rumah makan yang nyaman membuat seluruh anggota keluarga bisa menikmati makan siang dengan santai. Beragam menu khas Jawa tersaji di meja, mulai dari ayam goreng, sup, aneka sayuran, hingga hidangan tradisional dengan cita rasa rumahan yang begitu menggugah selera.
Setelah pagi dihabiskan dengan berjalan kaki mengelilingi Prambanan, makan siang di RM Adem Ayem terasa seperti hadiah yang sempurna sebelum melanjutkan perjalanan.
Berburu Batik di Pasar Klewer, Solo
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Kota Solo.
Tujuan utama kami adalah Pasar Klewer, surga bagi pecinta batik.
Lorong-lorong pasar dipenuhi berbagai kios yang menjual kain batik, pakaian jadi, aksesori, hingga aneka suvenir dengan harga yang cukup bersaing.
Tak sedikit anggota keluarga yang membawa pulang batik untuk dipakai sendiri maupun dijadikan oleh-oleh.
Yang paling seru tentu saja proses tawar-menawar. Beberapa anggota keluarga bahkan berhasil mendapatkan harga yang jauh lebih murah setelah bernegosiasi dengan para pedagang.
Berbelanja di pasar tradisional seperti ini selalu memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pusat perbelanjaan modern.
Menutup Hari dengan Bakmi Jowo Mas Joyo
Perjalanan dari Solo menuju Yogyakarta memang cukup menguras tenaga. Namun sebelum kembali ke hotel, rombongan masih memiliki satu agenda kuliner yang sayang untuk dilewatkan, yaitu makan malam di Bakmi Jowo Mas Joyo.
Rumah makan ini dikenal sebagai salah satu tempat menikmati bakmi Jawa dengan cita rasa autentik. Begitu pesanan datang, aroma bawang putih, kaldu ayam, dan bumbu tradisional langsung menggugah selera.
Sebagian anggota keluarga memilih bakmi godog yang berkuah hangat, sementara yang lain menikmati bakmi goreng, nasi goreng Jawa, hingga aneka lauk pendamping. Semua dimasak satu per satu menggunakan api besar, sehingga menghasilkan aroma khas yang menjadi ciri bakmi Jawa tradisional.
Suasana makan malam terasa hangat. Setelah seharian menjelajahi Prambanan dan Solo, kami kembali berkumpul di satu meja, saling berbagi cerita tentang hasil belanja di Pasar Klewer hingga mengulang kembali kisah lucu anggota keluarga yang hampir tertinggal karena tertidur di musala saat singgah di Kopi Bukan Luwak. Tawa kembali pecah, membuktikan bahwa kejadian kecil sering kali menjadi kenangan yang paling membekas.
Usai makan malam, rombongan kembali menuju hotel. Malam itu tidak ada agenda resmi. Sebagian memilih beristirahat lebih awal, sementara yang lain masih mengobrol santai di lobi hotel sambil menikmati secangkir kopi. Dengan tenaga yang kembali terisi, semua bersiap menyambut hari terakhir sebelum kembali ke Bandung.
Malam yang Lebih Santai
Setelah kembali ke Yogyakarta, malam kedua sengaja dibuat tanpa agenda khusus.
Ada yang memilih berjalan santai di sekitar hotel, menikmati kopi bersama keluarga, mengobrol hingga larut malam, atau sekadar beristirahat di kamar.
Meskipun sederhana, justru momen tanpa jadwal inilah yang memberi ruang untuk menikmati kebersamaan dengan lebih santai.
Hari Ketiga: Menutup Perjalanan dengan Menjelajahi Pasar Ngasem
Tak terasa, hari terakhir pun tiba. Setelah sarapan dan menyelesaikan proses check-out hotel, kami masih memiliki sedikit waktu sebelum kereta kembali membawa kami pulang ke Bandung.
Kesempatan itu kami manfaatkan untuk mengunjungi Pasar Ngasem, salah satu pasar tradisional yang berada di kawasan wisata Keraton Yogyakarta. Sejak pagi, pasar sudah ramai oleh aktivitas warga dan wisatawan yang berburu berbagai kebutuhan maupun oleh-oleh khas.
Menyusuri lorong-lorong Pasar Ngasem menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan pusat perbelanjaan modern. Beragam jajanan tradisional, rempah-rempah, kerajinan tangan, hingga aneka camilan khas Yogyakarta tersusun rapi di lapak para pedagang. Beberapa anggota keluarga memanfaatkan kesempatan terakhir ini untuk membeli oleh-oleh tambahan, sementara yang lain menikmati suasana pasar sambil sesekali mengobrol dengan para pedagang yang ramah.
Bagi kami, Pasar Ngasem bukan sekadar tempat berbelanja. Pasar ini memberikan gambaran tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta yang sederhana, hangat, dan penuh keramahan. Suasana pagi yang masih teduh membuat kunjungan terasa santai dan menjadi penutup yang manis sebelum meninggalkan Kota Gudeg.
Saatnya Pulang
Menjelang siang, rombongan kembali menuju Stasiun Tugu Yogyakarta untuk menaiki kereta menuju Bandung.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih tenang. Sebagian beristirahat, sebagian lagi sibuk melihat kembali foto-foto di ponsel sambil mengenang berbagai momen yang baru saja dilewati.
Dalam waktu tiga hari, kami berhasil menikmati petualangan di lereng Merapi, mencicipi kuliner legendaris, berjalan di Malioboro, mengagumi kemegahan Prambanan, berburu batik di Solo, hingga menikmati hangatnya kebersamaan selama perjalanan.
Yang paling berharga dari semuanya ternyata bukan sekadar daftar destinasi yang berhasil dikunjungi, melainkan waktu berkualitas yang bisa dihabiskan bersama keluarga.
Di tengah kesibukan masing-masing, perjalanan seperti ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah investasi terbaik. Tawa di dalam kereta, percikan air saat jeep melintasi sungai, semangat berburu oleh-oleh, hingga makan sate bersama di penginapan akan selalu menjadi cerita yang dikenang bertahun-tahun kemudian.
Yogyakarta sekali lagi membuktikan bahwa kota ini bukan hanya menawarkan tempat wisata yang indah, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang mampu mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Dan kami yakin, suatu hari nanti, kami akan kembali lagi ke Kota Gudeg dengan cerita-cerita baru yang tak kalah berkesan.
Tips dari Travelopedia.id untuk Liburan Rombongan ke Yogyakarta
- Berangkat menggunakan kereta api menjadi pilihan yang nyaman untuk rombongan besar karena seluruh peserta bisa menikmati perjalanan bersama.
- Mulailah itinerary dari kawasan Merapi sebelum masuk ke pusat kota agar waktu perjalanan lebih efisien.
- Datanglah ke Malioboro pada siang atau sore hari agar memiliki waktu yang cukup untuk berbelanja.
- Jika memungkinkan, sisihkan satu malam tanpa agenda wisata agar seluruh anggota keluarga bisa menikmati waktu santai bersama.
- Jangan lupa menyisakan ruang di koper untuk oleh-oleh, karena godaan berbelanja di Malioboro maupun Pasar Klewer hampir mustahil ditolak.






0 comments:
Post a Comment