Monday, October 20, 2014

Terios 7 Wonders : [Day-10] Eksplorasi Keindahan Bawah Laut Wakatobi

Hari ke-10 ekspedisi Terios 7 Wonders edisi "Amazing Celebes Heritage" diawali dengan acara puncak yaitu dengan menghadirkan Daihatsu Terios yang sudah menjelajahi Sulawesi selama 10 hari dengan melintasi 6 propinsi dan 7 destinasi budaya di Bukit Cermin, yaitu suatu tempat indah di puncak Pulau Tomia. Dari atas puncak bukit ini terbentang keindahan secara luas hampir sepanjang kepulauan di Wakatobi ini. Laut berwarna biru di lautan lepas hingga berubah menghijau ketika mendekati pantai yang berwarna coklat muda.




Dalam kesempatan ini pula diungkapkan bahwa ekspedisi ini memasuki masa akhir dengan keberhasilan seperti yang diungkapkan di atas. Mengulang keberhasilan dua tahun sebelumnya yang sukses mencapai KM Nol di Sabang dan tahun lalu sukses mencapai Pulau Komodo.

ke-6 Blogger ikut merayakan keberhasilan Terios mencapai Bukit Cermin di Tomia
Sekali lagi Daihatsu Terios membuktikan sebagai kendaraan tangguh sahabat petualang, yang bisa mengarungi segala jenis medan jalan. Mulai dari jalan mulus hingga jalanan rusak. Mulai dari jalanan lurus hingga berkelok. Melibas tanjakan tajam hingga turunan curam. Semuanya dapat dilintasi. Seperti halnya para petualang yang tidak pernah menyerah mendaki gunung yang tinggi dan penuh rintangan, demikian pula dengan Daihatsu Terios yang dapat menghadapi segala tantangan di jalan dengan segala medan. Tidak heran jika kendaraan yang dapat memuat hingga tujuh penumpang ini disebut sebagai kendaraan Sahabat Petualang yang siap menemani kemanapun pergi.

Seluruh Tim Terios 7 Wonders mengabadikan momen indah tsb
Setelah menyelesaikan prosesi acara puncak, masih ada satu tantangan lagi yang harus dihadapi oleh para peserta Terios 7 Wonders yaitu diving atau menyelam untuk menikmati keindahan bawah laut Wakatobi yang selama ini begitu sering terdengar. Bagi peserta yang sudah mempunyai lisensi menyelam tentu sudah tidak sabar lagi untuk mengikuti Fun Diving di beberapa lokasi. Tapi bagi peserta yang belum pernah melakukan diving mereka diberi kesempatan untuk mencoba melakukan Discovery Diving, tentu dengan diberikan pelatihan secara singkat dan aman oleh para instruktur divemaster yang didatangkan dari Jakarta. Ada juga peserta yang snorkeling saja karena itu pun sudah bisa melihat keindahan bawah laut Wakatobi. Jadi perahu yang siap mengantar terbagi 3, ada yang untuk Fun Dive, Discovery Dive dan Snorkeling. 

Saya sendiri masuk dalam tim Fun Dive bersama 8 orang tim ADM, blogger Marischka Prudence dan 5 orang instruktur. Kami menggunakan jasa Tomia Dive Center milik dokter Yudi. Ya beliau seorang dokter yang sudah 6 tahun bertugas di Wakatobi dan melihat potensi yang dimiliki di daerahnya akhirnya mendirikan dive center ini.

Siap2 diving (Foto : Ivan Hermawan - AutoBild)
Spot pertama yang diselami adalah "Waha Bay". Saya sempat nervous juga karena terakhir menyelam setahun lalu di Pulau Komodo, jadi perlu adaptasi lagi. Memastikan masker bersih dan tidak masuk air, mengempiskan BCD dan secara naluriah melakukan squeeze. 

Awalnya adalah berupa hamparan pasir di kedalaman sekitar 8 meter. Namun ketika menyusur lebih dalam lagi kami menemukan terumbu karang yang indah dan berwarna warni. Ada ikan-ikan yang kecil yang menari-nari didalamnya. Ada ikan badut alias nemo, ada pula ikan batu yang bentuknya seperti batu. Tapi jangan coba-coba menyentuhnya karena memiliki racun yang mematikan.

Tidak terasa kedalaman sudah mencapai kisaran angka 18 meter, sementara tabung oksigen sudah menipis diangka 50 bar. Segera saya menghubungi buddy David Setyawan dan minta izin untuk naik dengan memberikan kode jempol ke atas (seperti like di Facebook). Ternyata diapun sudah mencapai batas limit. Akhirnya kita sama-sama naik ke atas. Kurang lebih 30 menit berada di dalam air. Selanjutnya kita istirahat dulu karena instruktur akan membimbing para newbie yang akan melakukan Discovery Dive di kapal sebelah.

Mendarat di hamparan pasir kedalaman 18 meter (Foto : Wulan)    
Spot berikut yang akan kami selami adalah "Mari Mabuk" dan "Roma". Kenapa namanya mari mabuk? Nanti liat dan rasakan saja sendiri. Begitu ucap dokter Yudi yang membuat kami semakin penasaran. 

Dengan melakukan teknik giant strike kami langsung masuk ke kedalaman 15 meter. Dan benar saja, kami semua dibuat mabuk. Banyak sekali ikan dimana-mana dengan aneka ragam warna terumbu karang. Indah sekali. Serasa ada di National Geographic! Tiba-tiba ada ikan yang melintas di depan mata. Beberapa photographer sibuk memotret ikan-ikan dan terumbu karang yang warna-warni. Dan ada satu kejadian unik yang baru pertama kali saya alami selama menyelam. Tiba-tiba air laut yang hangat berubah menjadi dingin. Sedingin es. Awalnya takut juga apakah ada masalah dengan tubuh saya. Tapi tidak lama kembali menjadi hangat lagi. Ketika saya tanya instruktur saat sudah di atas fenomena itu adalah arus air di dalam laut dan itu kerap terjadi.



30 menit kami habiskan di area mari mabuk, kemudian dilanjutkan ke wilayah Roma. Tempat ini mirip dengan colloseum, itulah mengapa disebut Roma. Tidak lupa kami membentangkan spanduk Terios 7 Wonders untuk dokumentasi. Arus mulai datang, sebelum terbawa arus akhirnya kami segera naik ke perahu.

Bergaya di atas Roma (Foto : Wulan)
Dua kali dive dengan rata-rata 45 menit penyelaman bagi seorang new diver seperti saya cukup melelahkan. Apalagi waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat dulu sambil makan siang di tepi pantai yang indah. Dan setelah selesai makan kami melanjutkan penyelaman ke-3 di "Gunung Waha".

Di pantai inilah kita istirahat sambil makan siang.

Pantai dengan pasir putih halus seperti terigu. Sepi seperti pantai pribadi.

Gunung Waha merupakan suatu tempat di kedalaman sekitar 15-20 meter, tempatnya menyerupai gunung yang ditumbuhi oleh berbagai jenis koral dan terumbu karang. Satu pemandangan yang membuat menakjubkan adalah adanya segerobolan ikan-ikan atau biasa disebut schooling. 

Pemandangan di Gunung Waha (Foto : @marischkaprue)
Pemandangan yang biasa dilihat di TV kini tampak di depan mata. Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa. Tidak terasa saat kontrol persediaan udara sudah mencapai titik kritis 50 bar. Bersama buddy David Setiawan memutuskan untuk segera naik namun sebelumnya melakukan safety stop terlebih dahulu selama 3 menit sambil menikmati pemandangan sebelum naik.

Ikan schooling berhasil diabadikan oleh Marischka Prudence
Dan keindahan semakin sempurna ketika kepala muncul di atas permukaan laut yang pertama terlihat adalah semburat mentari yang bersiap untuk tenggelam. Rasanya ingin waktu berhenti sejenak menikmati senja hari itu.


0 comments:

Post a Comment