Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"

Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia

Taman Nasional Baluran

Salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur

Menjelajahi Tanah Air Beta

"...Walaupun banyak negeri kujalani Yang masyur permai dikata orang, Tetapi kampung dan rumahku Di sanalah ku merasa senang Tanahku tak kulupakan Engkau kubanggakan ...".

3000 km Jelajah Daratan Sulawesi

Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan.

Mengunjungi Habitat Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Tidak mudah untuk menemukan keberadaan orangutan tersebut. Kita harus sabar menunggu mereka keluar untuk beraktifitas.

Tuesday, October 21, 2014

[Terios 7 Wonders] : Testimoni Amazing Celebes Heritage


Malam terakhir ekspedisi Terios 7 Wonders kami menginap di Patuno Resort  Beach yang berada di Wanci, Pulau Wangiwangi. Lokasinya sangat ideal yaitu berada di bibir pantai lokasi terumbu karang sebagai tempat menyelam dan snorkeling yang mengagumkan serta dapat melihat pemandangan matahari terbenam dan matahari terbit. Selain itu lokasi ini juga dekat dengan Bandara Matahora. Dan ketika memasuki resort yang berbentuk rumah panggung dari kayu, rasanya langsung ingin menjatuhkan diri di kasur yang begitu nyaman. Belum lagi ketika kaki melangkah ke balkon terhampar pemandangan pantai yang begitu indah. Ternyata dalam satu resort ada 2 kamar. Dan ketika saya menengok ke kamar tersebut, terlihat seorang wanita muda bule yang sepertinya baru saja selesai mandi tanpa sehelai benangpun. *matabelo* Buru-buru saya berbalik arah sebelum dia berteriak ketakutan :)

Monday, October 20, 2014

Terios 7 Wonders : [Day-11] Galeri Photo Taman Laut Wakatobi

Ikan karang sedang bercengrama dengan ikan kecil di sekitar taman laut
Hari ke-11 ekspedisi Terios 7 Wonders rencananya kami akan kembali ke Wanci, ibukota dari Wakatobi. Namun sebelumnya masih akan dilakukan fun dive ke-4 di sekitar Pulau Tomia. Sementara rekan-rekan blogger lainnya mengeksplorasi kekayaan alam di darat, saya dan Prue beserta tim ADM akan mencoba tempat diving yang bernama Alley Reef.

Hanya memerlukan sekitar 10 menit dari Dermaga Tomia kita sudah sampai di lokasi tujuan. Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi. Dokter Yudi menjelaskan bahwa Alley Reef adalah tempat yang berbentuk seperti gunung namun memanjang, kadang ada arus yang cukup deras di kedua sisinya. Namun kelebihan dari adanya arus ini adalah banyak ikan yang ada disekitarnya. Jadi jika tidak ada arus, dapat dipastikan ikannya juga hanya sedikit.

Sunday, October 19, 2014

Terios 7 Wonders : [Day-10] Eksplorasi Keindahan Bawah Laut Wakatobi

Hari ke-10 ekspedisi Terios 7 Wonders edisi "Amazing Celebes Heritage" diawali dengan acara puncak yaitu dengan menghadirkan Daihatsu Terios yang sudah menjelajahi Sulawesi selama 10 hari dengan melintasi 6 propinsi dan 7 destinasi budaya di Bukit Cermin, yaitu suatu tempat indah di puncak Pulau Tomia. Dari atas puncak bukit ini terbentang keindahan secara luas hampir sepanjang kepulauan di Wakatobi ini. Laut berwarna biru di lautan lepas hingga berubah menghijau ketika mendekati pantai yang berwarna coklat muda.

Friday, October 17, 2014

Terios 7 Wonders : [Day-9] Selamat Datang di Wakatobi

Setelah delapan hari menjelajahi darat dan satu malam mengarungi laut, di hari ke-9 ini tim Terios 7 Wonders "Amazing Celebes Heritage" melakukan penerbangan menuju Wakatobi. Selain tim darat juga bergabung tim dari Jakarta yang terdiri dari tim Astra Daihatsu Motor (ADM), media dan satu travel blogger cantik Marischka Prudence. Jadi jika selama ini hanya ada 5 blogger laki-laki saja, kini ada sedikit penyegaran dengan adanya bloggerwati tadi.

5 blogger + 1 bloggerwati siap eksplorasi Wakatobi

Thursday, October 16, 2014

Terios 7 Wonders : [Day-8] Menjadi Pengajar dalam Program Daihatsu Berbagi Ilmu

Perjalanan darat melintasi Sulawesi ekspedisi Terios 7 Wonders "Amazing Celebes Heritage" memang sudah berakhir dengan finish di Kendari setelah menempuh hampir 3.000 km dari Manado. Namun masih ada acara yang harus diikuti. Kali ini adalah acara CSR (Corporate Social Responsible) dari Astra Daihatsu Motor (ADM) yang akan menyumbangkan beberapa buku dan memperbaiki perpustakaan sekolah terpilih dalam acara "Daihatsu Berbagi Ilmu dan Bedan Perpustakaan". Acara ini merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat dengan tema "Pintar Bersama Daihatsu". Secara keseluruhan Daihatsu sendiri memiliki 4 (empat) pilar dalam memberikan sumbangan untuk negeri yaitu bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan dan kesejahteraan.

Perpustakaan SMK Negeri 2 Kendari setelah dibedah Daihatsu

Tuesday, October 14, 2014

Terios 7 Wonders : [Day-7] Menjajal Terios dari Kolaka hingga Finish di Kendari




Setelah semalaman mengarungi Teluk Bone dari Pelabuhan Bajoe akhirnya setelah 8 jam sampai juga di Pelabuhan Kolaka. Namun sayang, 5 dari 7 Daihatsu Terios kami tertinggal di dermaga tidak bisa masuk ke dalam kapal ferry. Rencana awalnya memang semua Terios sudah masuk semua, namun karena ada bus yang mengangkut banyak penumpang, akhirnya terpaksa mereka didahulukan, karena ferry tersebut adalah ferry terakhir yang beroperasi hari itu. Akan ada lagi keesokan harinya, jadi kami tidak tega juga melihat para penumpang harus menunggu selama itu. Dan ke-5 Daihatsu Terios terpaksa harus menunda waktu istirahatnya karena mereka akan menggunakan jalan darat menuju Kolaka dengan mengitari pesisir Teluk Bone. Ratusan kilometer dengan medan beragam 'menyiksa' Daihatsu Terios sepanjang malam hingga setelah tengah hari baru tiba di penginapan tempat kami dengan selamat. Total waktu yang ditempuh sekitar 14 jam!

Thursday, October 9, 2014

Terios 7 Wonders : [Day-6] Kemping di Tanjung Bira, Melihat Pembuatan Phinisi dan Berkunjung ke Suku Kajang



Hari masih gelap ketika kami tiba di Tanjung Bira setelah menempuh perjalanan sejauh 447 km dari Tana Toraja. Melewati kota-kota Makale, Enrekang, Sidrap, Watampone, Sinjai dan Bulukumba. Kurang lebih memakan waktu sekitar 11 jam.

Sesuai dengan rencana awal, kami akan menginap di tenda di tepi Pantai Pasir Putih Tanjung Bira. Saya berjalan dalam gelap, menuruni tangga menuju tenda yang sudah disediakan. Menjatuhkan ransel dan segera merebahkan diri karena badan sudah terlalu lelah. Dalam hitungan detik sudah terlelap.

Deburan ombak sayup-sayup terdengar. Cahaya matahari pagi menyusup ke dalam tenda. Dengan mata berat dan muka bantal sedikit memaksakan diri untuk bangun untuk mengabadikan suasana matahari terbit.

Suasana matahari terbit di Tanjung Bira

Menikmati gelap menjadi terang adalah sebuah pengalaman langka. Dan hal ini baru saja saya dapatkan. Menyaksikan fajar jingga merekah, hingga berubah menjadi terang menyilaukan. Ombak yang tenang mulai bergelora. Seakan mengajak untuk bermain bersama. Tidak kuasa menolak hasrat, segera raga berlari menyambut dan membasahi diri menghempaskan segala penat dan lelah. Seketika badan menjadi bugar kembali.

Ah kenapa menjadi puitis begini. Namun memang suasana pantai ini begitu romantis karena didukung oleh ombak yang tenang dan pasir putih yang halus. Inilah Tanjung Bira, tempat paling selatan di Pulau Sulawesi. Nampak dari kejauhan sebuah tanjung yang menjorok ke laut lepas.

Beginilah suasana saat kemping di Tanjung Bira
Setelah puas bermain air di pantai, kami segera mandi, sarapan dan bersiap-siap untuk mengunjungi destinasi yang akan dituju yaitu tempat pembuatan kapal Phinisi yang melegenda. Lokasinya tidak jauh dari Tanjung Bira ini. Namun sebelum berangkat saya menyempatkan untuk mengabadikan beberapa spot indah yang tidak boleh dilewatkan.

Gambar Panorama Pantai Pasir Putih Tanjung Bira



Selanjutnya kami mengunjungi tempat pembuatan kapal Phinisi. Kapal layar tradisional khas asal Indonesia yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi ini dikenal sebagai kapal yang tangguh mengarungi lautan seganas apapun. Sudah ada sejak berabad-abad lalu, diperkirakan sudah ada sebelum tahun 1.500an dan masih bertahan hingga kini. Bahkan pemerintah pernah membuat kapal Phinisi dengan nama "Phinisi Nusantara" dan berhasil mengelilingi dunia. Luas biasa!

Dok pembuatan kapal Phinisi
Tempat pembuatan kapal Phinisi yang kami kunjungi berada di Desa Tanah Beru, Kecamatan Banto Bahari, Kabupaten Bulukumba. Pemiliknya Bapak Sarifudin memaparkan bahwa pembuatan kapal phinisi ini sudah dilakukan oleh kakek buyutnya. Jadi sudah turun temurun. Ilmu yang didapatnya pun sangat sederhana dan lebih banyak otodidak.

Proses pembuatan kapal Phinisi
Tidak ada gambar desain dalam setiap pembuatan kapalnya. Cukup jelaskan panjang kapal yang diinginkan dan timnya akan segera membuatnya dalam kurun waktu 3-6 bulan. Tergantung beratnya mulai dari 1 ton hingga 100 ton. Adapun biaya pembuatan kapal dimulai dari Rp 30 juta dan bahkan beliau pernah mendapat order pembuatan kapal senilai Rp 10 Milyar dari pembeli asal Amerika Serikat.

Suasana dalam kapal Phinisi
Bahan baku utama pembuatan kapal Phinisi ini adalah kayu besi yang didatangkan dari Kendari. Bahan kayu lainnya adalah kayu biti sebagai bahan pendukung. Beliau menjamin bahwa kapal Phinisi buatannya bisa bertahan selama puluhan tahun dan sudah terbukti hingga saat ini tidak komplain dari pembelinya. Selesai berbincang kami diajak mengunjungi kediaman Pak Sarifudin yang sederhana melanjutkan pembicaraan. Namun karena waktu yang padat,kami harus meninggalkan tempat tersebut karena akan mengunjungi destinasi lain yaitu pemukiman Suku Kajang di Desa Tanatoa, Bulukumba.

Proses pembuatan kapal Phinisi



Suku Kajang berada di Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba dengan luas wilayah 3000 hektar, 600 diantaranya hutan adat. Suku ini dikenal sebagai suku yang menolak gaya hidup modern. Di desa yang jumlah penduduknya sekitar 3.947 jiwa tersebut tidak boleh ada listrik, tidak boleh ada peralatan elektronik, tidak boleh ada kendaraan bermotor dan segala hal yang berbau modern lain. Mirip dengan suku Baduy di Banten. Peraturan adat lainnya adalah setiap tamu yang berkunjung harus menggunakan pakaian hitam hitam. Termasuk penduduk desa Tana Toa juga harus menggunakan pakaian warna gelap.

Selamat Datang di Desa Tana Toa

Saat memasuki Desa Tana Toa kami disambut oleh para tetua, mereka menyambut kami dengan atraksi bakar linggis. Jadi linggis dibakar hingga berwarna merah dan salah satu tetua yang sudah berusia 99 tahun memegang besi tersebut, mengulas-ulas ke bagian kaki dan tangannya, namun tidak terjadi apa-apa. Kami semua ditawari untuk mencoba memegang besi tersebut. Awalnya ragu, namun setelah diyakinkan sayapun mencobanya. Ternyata tidak panas, hanya hangat seperti ujung luar knalpot motor. Namun ketika dijatuhkan ke dalam daun kering seketika daun itu hangus terbakar.

Bersama Panglima Tana Toa yang bersahaja
Itulah salah satu kelebihan dari suku Kajang. Atraksi ini dimaksudkan jika ada pencuri di desa tersebut dan tidak ada yang mau mengaku, maka orang-orang yang dicurigai atau berada di sekitar tempat kejadian disuruh memegang linggis panas tersebut dan jika ada yang tangannya terbakar dialah pencurinya.

Selanjutnya kami diajak memasuki ke bagian dalam desa. Nampak beberapa penduduk yang sedang mandi di sebuah sungai yang hampir kering. Termasuk anak-anak yang sedang mengambil air dan membawa ke rumahnya dengan jarak lumayan jauh. Rencananya kami akan mengunjungi ketua adat Amma Toa namun dengan berbagai syarat : tidak boleh di foto dan tidak boleh ada rekaman pembicaraan. Entah apa alasan dari syarat tersebut.

Dua anak sedang membawa air bersih

Akhirnya kami bisa menemui kepala adat Amma Toa dirumahnya yang bersahaja. Rumah panggung yang terbuat dari kayu itu hanya seukuran rumah tipe 21. Hanya ada satu ruangan tidur dan ruangan utama yang bersatu dengan dapur.

Istana Amma Toa yang sederhana
Amma Toa duduk bersila di pojok ruangan. Sang juru bicara memperkenalkan maksud dan tujuan kedatangan kami. Mereka menggunakan bahasa Konjo, yaitu bahasa mereka sendiri sehingga kami tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. Namun dari ekspresi wajah Amma Toa yang sangat berwibawa, terlihat beliau kadang terlihat senang, kadang juga terlihat marah dengan mengetuk-ngetukan keris kecil yang selalu dipegangnya.

Mereka asyik mengobrol sekitar setengah jam dan kami hanya bengong tidak tahu apa yang harus diperbuat. Kami memberi isyarat untuk pamit dan disadari oleh Amma Toa. Sebelum pulang kami semua bersalaman kembali dan ditanya nama masing-masing, sebagai bentuk hormat Amma Toa menyebut kembali nama kita yang disebutkan tadi. 

Suku Kajang adalah salah satu kearifan lokal dari Bulukumba Sulawesi Selatan yang keberadaannya patut dipertahankan untuk menjaga kebudayaan nusantara.

Perjalanan kami lanjutkan kembali. Kami harus segera menuju Pelabuhan Bajoe, untuk mengejar kapal ferry yang akan mengantar tim Terios 7 Wonder menuju Pelabuhan Kolaka di Sulawesi Tenggara, propinsi ke-6 dan terakhir yang akan kami kunjungi.


Saat memasuki kapal ferry di Pelabuhan Bajoe menuju Kolaka,Sulawesi Tenggara

Wednesday, October 8, 2014

Terios 7 Wonders : [Day-5] Amazing Tana Toraja


Selamat pagi dari Tana Toraja. Begitu ucapan yang saya cuitkan lewat twitter, lengkap dengan foto secangkir kopi Toraja dengan latar belakang Daihatsu Terios Sahabat Petualang dan rumah Tongkonan yang diinapi semalam. Kontan beberapa teman langsung memberikan reaksi sedikit iri karena hari itu bertepatan dengan hari senin karena mereka harus bekerja sementara saya masih jalan-jalan :)

Suasana pagi di Desa Lembang Tadongkon, Kesu
Segelas kopi Toraja tadi kontan membuat badan menjadi hangat di tengah udara yang dingin. Tidak berapa lama segera keluar makanan untuk sarapan pagi. Jika dilihat dari menu-nya sih sepertinya makanan berat, ada nasi dan lauk pauk plus jus terong belanda sebagai dessert. Tapi akhirnya habis juga, lumayan sebagai penambah energi karena hari ini akan eksporasi Tana Toraja di beberapa tempat.

Berebut sarapan pagi
Setelah sarapan, tim berangkat menuju destinasi pertama yaitu Londa. sebuah tebing berbatu dan curam yang dipakai sebagai pemakaman oleh leluhur sejak abad 10 Masehi. Jenazah terlebih dahulu dimasukkan ke dalam peti kemudian disimpan di dalam tebing. Lokasi penyimpanan disusun berdasarkan kasta. Semakin tinggi kasta, semakin tinggi dia disimpan. Khusus untuk para bangsawan juga dibuatkan patung yang dipajang di bagian depan tebing. Selain itu ada juga dua buah goa yang didalamnya tersimpan ratusan kerangka jenazah, ada yang tersimpan di dalam peti, ada juga yang tergeletak begitu saja. Kami semua memasuki goa yang gelap dan sempit, bahkan sampai harus jongkok untuk memasukinya. 

Tebing Londa
Patung bangsawan menyambut para wisatawan
Suasana di dalam goa Londa yang sempit
Jadi serasa Indiana Jones ketika memasuki pekuburan ini. Melihat setiap tengkorak dan peti jenazah dan mendapat penjelasan dari sang pemandu wisata. Hingga mendapat satu cerita yang unik tentang kisah sepasang tengkorak yang tergeletak berdampingan disudut goa.

Mereka adalah Lobo dan Andui. Sepasang kekasih yang bunuh diri karena cintanya tidak direstui oleh orangtuanya karena masih saudara sepupu. Mereka bunuh diri dengan cara menggantung diri di pohon yang sama, pada hari yang sama. Setelah mereka meninggal tentu keluarganya amat sedih. Akhirnya mereka sepakat untuk menempatkannya berdampingan di dalam goa Londa ini. Mendengar cerita ini jadi teringat kisah Romeo & Juliet.

Kerangka Lobo dan Andui, kisah Romeo & Juliet dari Tana Toraja
Setelah selesai menelusuri goa Londa,perjalanan dilanjutkan menuju Kete Kesu, sebuah permukiman tua di Tana Toraja. Konon pemukiman ini sudah ada sejak 800 tahun yang lalu dan sampai saat ini masih berdiri dengan megah, Tentu dengan beberapa perbaikan dan renovasi jika ada kerusakan. Dan ketika memasuki kawasan ini rasanya seperti terlempar pada masa lalu. Dengan jejeran bangunan Tongkonan yang rapi, termasuk dengan ukiran-ukiran khas. Sungguh kami dibuat takjub dengan kebudayaan di Tana Toraja ini. Benar-benar amazing!

Pemukiman Tua Kete Kesu
Tongkonan berjejer rapi di Kete Kesu
Tongkonan ini sudah berusia 800 tahun
Semakin banyak tanduk kerbau, semakin kaya si pemilik Tongkonan
Bertemu dengan Kerbau Bonga yang harganya sekitar Rp 300 jutaan
Destinasi berikut yang dikunjungi adalah Baby Grave di Kambira. Berupa kuburan bayi ditanam di dalam pohon Tarra. Jadi jika ada bayi yang meninggal, dapat "dimakamkan" di pohon ini dengan syarat bayi tersebut belu tumbuh gigi. Caranya adalah bayi yang sudah meninggal dimasukkan ke dalam batang pohon yang sudah dilubangi, kemudian ditutup ijuk. Bayi dimasukkan dengan cara duduk dan tidak menghadap kerumahnya agar orangtuanya tidak merasa sedih berkelanjutan. Adapun mengapa bayi tersebut dimasukkan ke dalam pohon, saat itu dipercaya bahwa bayi tersebut tidak meninggal, tapi hanya pindah orangtua. Jadi pohon itu menjadi ibu barunya dengan memberikan air susu berupa getah pohon. Satu pohon bisa diisi oleh sekitar 10 bayi. Semakin tinggi ditanam, semakin tinggi kasta bayi tersebut. Pohon yang kami datangi sudah berusia sekitar 900 tahun. Masih berdiri kokoh, namun sebagian sudah lapuk dan bagian atasnya sudah patah 7 tahun lalu. Bayi terakhir yang dimakamkan terjadi pada tahun 1950.
Objek Wisata Baby Grave Kambira

Baby Grave
Sungguh luar biasa kebudayaan yang ada di Tana Toraja ini, memang pantas menjadi salah satu andalan pariwisata di Indonesia. Bukan hanya wisatawan lokal saja yang tertarik tapi termasuk wisatawan asing dari berbagai negara seperti Belanda, Jerman, Jepang, dll. Hal ini kami ketahui ketika sedang menyantap makan siang di sebuah rumah makan yang pengunjungnya orang asing semua, hanya tim kami yang berasal dari Indonesia. Sungguh budaya di Tanah Toraja benar-benar Amazing! 

Terios 7 Wonders : [Day-4] Sholat Idul Adha di Parepare, Menginap di Tongkonan Tana Toraja


Masjid Agung Parepare
Rasanya agak aneh ketika melaksanakan sholat idul adha di "negeri orang'. Biasanya saya tiap tahun merayakannya bersama keluarga. Tapi kali ini saya melaksanakan sholat idul adha di Parepare, tepatnya di alun-alun Masjid Agung Parepare. Tidak ada ayah dan saudara yang biasanya duduk berdampingan saat sholat ied. Selesai khutbah pun tidak ada orang yang dimintai maaf ataupun meminta maaf karena mereka semua tidak kenal. Tapi saya segera sodorkan tangan kepada siapa saja yang ditemui. Mereka menyambut dengan ramah. Pun ketika kembali ke hotel teman-teman sahabat petualang Terios 7 Wonders menyambut dengan gembira. Inilah keluarga baru saya. Keluarga yang selama 13 hari akan selalu bersama baik senang maupun susah.


Termasuk dengan apa yang dilakukan oleh Astra Daihatsu Motor (ADM) yang pada hari ini akan ikut berbagi dengan menyumbangkan 7 (tujuh) ekor kambing kurban sebagai bagian dari program CSR (Corporate Social Responsible). Saya jadi ingat tahun lalu ketika mengikuti Ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise saat di Labuan Bajo saat itu ADM juga memberikan kambing kurban dengan jumlah yang sama.

Penyerahan 7 ekor kambing kurban kepada imam Masjid Agung Parepare
Penyerahan kambing kurban dilakukan di Masjid Agung Parepare kepada imam masjid bersamaan dengan acara perlombaan marawis tingkat pelajar SMP. Lomba ini sudah memasuki final, jadi tinggal menentukan juara 1,2 dan 3. Masing-masing peserta memberikan penampilan terbaiknya dan semuanya sangat bagus dan menghibur.

Bersama pemenang juara 1 lomba marawis
Setelah acara selesai, kami melanjutkan makan siang di tepi Pantai Parepare yang indah kemudian dilanjutkan menuju destinasi selanjutnya yaitu Rantepao, Tana Toraja dengan melintasi daerah Enrekang, Makale yang menempuh jarak sekitar 210 km. Sekitar pukul 5 sore kami sudah tiba di tugu Selamat Datang Tana Toraja.

Selamat Datang di Tana Toraja
Awalnya cukup senang karena sudah tiba di tempat tujuan. Tapi ternyata perjalanan masih jauh. Masih melewati Kota Rantepao dan beberapa kampung. Sekitar 2 jam dari tugu selamat datang tadi kita baru sampai di tujuan yaitu Desa Adat Lembang Tadongkon, Kesu.

Di tempat ini kami disambut oleh nyanyian dan tarian Pa'gellu yang dibawakan oleh anak-anak. Kemudian disuguhi penganan khas dan kopi yang sudah melegenda yaitu Kopi Toraja. Indah sekali rasanya menyeruput kopi Toraja di tempat asalnya, apalagi sambil dihibur oleh tari-tarian kebudayaan setempat.  

Tarian Pa'gellu


Disambut dengan lagu-lagu daerah yang dibawakan anak-anak
Penganan khas dan Kopi Toraja
Kejutan tidak sampai disitu, tidak lama kemudian kami disuguhi makan makan dengan menu kuliner khas Tana Toraja yaitu Pa'piong Burak yaitu masakan daging ayam yang dicampur dengan batang pisang yang dimasak di dalam bambu. Rasanya jangan ditanya, silahkan coba sendiri.

Kuliner Khas Tana Toraja : Pa'piong Burak
Setelah makan malam selesai masih ada kejutan lainnya yaitu kami diperkenankan untuk menginap di Tongkonan yaitu rumah adat khas Tana Toraja. Jika biasanya kita hanya bisa melihat rumah adat yang bentuknya unik itu, sekarang malah diperbolehkan untuk tidur didalamnya. Sebuah pengalaman baru yang luar biasa.

Suasana di dalam Tongkonan
Di dalam Tongkonan sudah disediakan bantal dan alas tidur yang peraturannya tidak boleh dipindah-pindah. Jadi kepala kita harus tidur di atas bantal yang sudah ditentukan. Tongkonan yang kami inapi cukup sederhana, hanya ada tiga bagian ruang, di depan, tengah dan belakang. Saya sendiri memilih tidur di bagian depan agar bisa melihat pemandangan Tongkonan lainnya yang berjejer di depan rumah. Rasa dingin langsung menusuk ketika waktu sudah menunjukkan tengah malam. Rasanya seperti AC 20 derajat. Segera kami ambil jaket dan selimut sebagai penghangat. Tidak lama kami semua terlelap.

Terios 7 Wonders : [Day-3] Mengenal Lebih Jauh Kebudayaan Mandar


Hari ke-3 ekspedisi  “Amazing Culture Heritage” kami awali dengan mengunjungi Polulele atau Jembatan Kuning yang menjadi salah satu landmark Kota Palu. Setelah melakukan pemotretan perjalanan dilanjutkan menuju Pasangkayu yang ditempuh dalam waktu 2 jam. Sepanjang perjalanan terhampar pemandangan kebun sawit sejauh mata memandang. Kami melewati jalan trans Sulawesi yang sangat mulus. Pada satu jalan lurus Terios yang kami pakai bahkan bisa menempuh hingga 120 km per jam. Kondisi mobil masih stabil dan nyaman. Dari propinsi Sulawesi Tengah kami mulai masuk di Propinsi Sulawesi Barat. Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan panjang sejauh 327 km selama 11 jam akhirnya kami tiba di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

Mulusnya jalan trans Sulawesi. Kecepatan terios bisa digeber s/d 120 km/jam.
Kami disambut oleh tarian selamat datang yang dibawakan oleh anak-anak begitu lincah dan bersemangatnya.  Ada juga tarian yang salah satu penarinya adalah seekor kuda. Nama tariannya adalah Sayang Patudu atau Kuda Menari. Tarian ini menjadi tarian khas Mandar. Biasanya tarian ini dilakukan jika ada anak yang khatam Al Quran dan anak tersebut naik ke atas kuda sebagai hadiah atas pencapaiannya itu.

Disambut tarian Sayang Patudu atau Kuda Menari
Kami juga disambut oleh unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Majene yang diwakili oleh asisten bupati dan Dinas Kebudayaan dan Kepemudaan. Mereka begitu antusias dengan kedatangan kami mengunjungi salah satu propinsi termuda di Indonesia. Perwakilan dari bupati menjelaskan bahwa Majene memiliki kebudayaan yang bisa dikembangkan dan menjadi salah satu unggulan daerah diantaranya adalah Sarung Tenun Sutra Kain Mandar.

Sarung tenun ini dikenal memiliki kualitas yang tinggi. Perlu ketelitian dan kecermatan dalam membuat kain tradisional ini. Itulah mengapa diperlukan waktu hingga 8 hari untuk membuat satu kain berukuran 4 meter dengan menggunakan alat tenun bukan mesin. Dalam kesempatan tersebut juga diperagakan proses pembuatan kain Mandar yangmenggunakan alat tenun tradisional bukan mesin. 

Proses pembuatan kain tenun Mandar
Sarung tenun sutra Mandar memiliki warna-warna cerah atau terang seperti warna merah, kuning dengan desain garis geometris yang lebar. Selain membuat motif tradisional, mereka juga membuat motif modifikasi yang cukup banyak digemari. Bahan dasar kain Mandar adalah benang perak dan benang emas. Itulah yang menjadikan kain ini terlihat indah dan istimewa juga harga yang cukup tinggi. Harga jual kain Mandar berkisar antara Rp 300.000 hingga jutaan rupiah.

Contoh beberapa corak kain Mandar
Secara tradisional , motif sarung tenun sutra  dirancang berdasarkan kasta atau tingkatan derajat mereka yang memakainya seperti keluarga kerajaan, pejabat pemerintah, pedagang kelas atas dan lain-lain. Namun dengan kondisi alam demokrasi seperti sekarang ini siapa saja berhak menggunakan kain mandar pilihannya, yang penting harganya cocok.

Pakaian khas wanita Mandar
Setelah selesai mengeksplorasi budaya Mandar, kami juga dijamu dengan makanan khas daerah Mandar yang penuh selera. Dan lagi-lagi waktu yang membuat kami berpisah. Sekitar jam 9 malam kami harus segera meninggalkan Majene menuju destinasi berikutnya yang berada di Propinsi Sulawesi Selatan yaitu Parepare.


Dengan diiringi takbir sepanjang jalan karena besok adalah Hari Raya Idul Adha, kami kembali menyusuri jalanan sepanjang Pantai Barat Sulawesi.  Menjelang tengah malam kami sudah tiba di kota kelahiran mantan Presiden BJ Habibie itu. Segera setelah tiba kami langsung bersih-bersih dan beristirahat karena esok pagi akan mengikuti pengalaman baru berlebaran di “negeri orang”. Menjelang tengah malam kami tiba dengan selamat di kota Parepare, Sulawesi Selatan.