Tuesday, November 19, 2013

Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"



Dua kata yang sering terdengar dari mulut para pejalan, backpacker, turis atau traveler. Terlebih ketika Pulau Komodo terpilih menjadi satu dari New 7 Wonders di dunia. Wajar saja karena tempat ini merupakan pelabuhan terakhir menuju pulau yang dihuni oleh "Komodo Dragon". Demikian bule-bule menyebutnya.

Dan kini, tempat itu sudah ada di depan mata. Ya, akhirnya kaki ini bisa menginjakkan kaki di tempat yang paling diidam-idamkan para traveler di indonesia.travel

Labuan Bajo (Foto : Koleksi Pribadi)
Labuan Bajo hanyalah kota kecil yang merupakan ibukota dari Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Kota ini menjadi semacam tempat singgah sebelum menuju tujuan akhir Pulau Komodo dan sekitarnya. Menuju Labuan Bajo ada dua cara : melalui udara dan melalui laut. Di Labuan Bajo sudah ada Bandara Komodo yang melayani penerbangan dari Denpasar dan daerah-daerah sekitarnya. Kondisi bandara Komodo saat ini memang cukup mengkhawatirkan. Dengan fasilitas yang seadanya, tidak heran tax bandara disana hanya sepuluh ribu rupiah! Saat ini sedang dibangun bandara yang lebih representatif, mudah-mudahan tahun 2014 sudah selesai.

Sedangkan melalui jalan laut dari Pulau Sumbawa menuju Pelabuhan Sape dilanjut menggunakan ferry selama kurang lebih 5 jam dan langsung menuju Labuan Bajo. Dan kami datang menggunakan dengan cara yang kedua. Ferry berangkat dari Sape sekitar jam 6 sore dan tengah malam sudah tiba di Labuan Bajo.

Saat tiba kami langsung menginap di sebuah hotel yang berada di tepi pantai. Dan ketika bangun pagi, di balik kaca jendela kamar terhampar pemandangan laut dan pantai yang begitu indahnya. Segera saya ambil kamera untuk mengabadikannya.

Pilih renang di kolam atau pantai? (Foto : Koleksi Pribadi)
"Pasir Bersisik" di tepi Pantai Pede, belakang hotel kami menginap (Foto : Koleksi Pribadi)
Setelah sarapan di tepi pantai, kami langsung check-out menuju pelabuhan. Rencananya kami akan menuju Pulau Komodo dengan menggunakan kapal phinisi dan kami akan menginap di kapal tersebut. Istilahnya adalah Life On Board (LOB). Tentu hal ini akan menjadi pengalaman baru karena selama ini belum pernah melakukan seperti itu.
Kapal Phinisi yang menemani kami selama di perairan Pulau Komodo (Foto : Koleksi Pribadi)
Hari pertama rencananya akan melakukan diving. Alam bawah laut di perairan ini sudah tidak perlu disangsikan lagi keindahannya. Spot pertama kami akan menyelam di sekitar Pulau Bidadari. Patrick, Dive master kami segera memberi instruksi apa yang harus dilakukan saat penyelaman, termasuk resiko arus yang cukup deras.

Saya cukup pede walau agak deg-degan saat akan diving untuk pertamakalinya setelah memiliki lisensi Scuba Divers. Mencoba mengingat-ingat kembali apa yang dipelajari beberapa bulan lalu saat belajar. Intinya jangan lupa squeeze (mengeluarkan udara dari telinga), buoyancy (keseimbangan tubuh, jangan sampai mengapung atau tenggelam), masker clearing dan jangan panik. Itu saja.


Siap-siap melakukan penyelaman (Foto : Koleksi Pribadi)
Saya memulai dengan giant stride yaitu teknik dengan melangkahkan kaki dari kapal dan langsung terjun ke laut. Dan byurrr... segera mengempiskan BCD sambil squeeze. Tidak lama saya dan buddy yang seorang DiveMaster sudah berada di dasar laut kedalaman 20 meter. Dua teman lainnya yang ikut fundive Bambang dan Puput segera menyusul. Dihadapan kami terbentang seperti sebuah padang pasir. Kok tidak ada apa-apa pikir saya. Lalu kami mulai bergerak dan mulai menemukan ikan-ikan kecil. Tidak lama kami juga menemukan tumbuh-tumbuhan laut, terumbu karang dan segala jenis ikan yang hidup didalamnya. Sesekali saya membersihkan masker karena mulai berembun. Arus agak deras, kadang saja terpisah cukup jauh dengan buddy. Dan akhirnya buddy saya mengikat tali diantara kami berdua. Jadinya tandem. Dijamin saya nggak akan jauh-jauh dari dirinya.

Salah satu spot diving di Pulau Komodo (Foto : Indonesia.travel)
Persoalan lain muncul ketika persediaan oksigen saya mulai menipis. Padahal diving baru berlangsung sekitar 30 menit. Kok saya boros banget ya? tanya saya dalam hati. Lalu dengan baik hati sang divemaster memberikan regulator octopus (cadangan) kepada (mulut) saya. Tentu tidak saya sia-siakan kesempatan ini agar lebih lama bisa diving didalam laut. Selang 15 menit persediaan oksigen sang divemaster juga sudah mencapai limit 50 bar dan akhirnya dengan kode seperti Like Facebook (jempol ke atas) kami harus segera naik sebelum kehabisan oksigen, tidak lupa melakukan deco stop selama 3 menit di kedalaman 5 meter sebelum naik ke permukaan. Hal ini dilakukan untuk menetralisasi nitrogen dalam tubuh. Cukup kaget ketika melihat darah keluar dari hidung Puput. Namun menurutnya hal tersebut sudah biasa. Sedangkan dari hidung Bambang keluar ingus hehehe.

Total 45 menit kami menyelam dan cukup puas dengan pemandangan dibawah sana. Dan bukan kebetulan ketika tiba di kapal sudah tersaji dengan manis makanan untuk santap siang. Sebuah skenario yang sempurna. Setelah santap siang, giliran discovery diving bagi teman-teman yang belum mempunyai lisensi. Kali ini dilakukan di tepi sebuah pantai. Sementara mereka diving kami leyeh-leyeh di sundeck sambil menunggu sunset ditemani kopi flores racikan sang juru masak dan pisang goreng. Oh rasanya indah sekali, serasa dunia milik kita.

Waktu terus berjalan dan hari mulai gelap. Kembali bel berbunyi dan bersiap untuk makan malam. Mesin kapal sudah dimatikan. Jangkar sudah diturunkan. Waktunya istirahat. Kami berada di tengah laut entah dimana. Ombak-ombak kecil membuat kapal bergoyang dan meninabobokan kami. Sambil menatap bintang  kami semua bercerita tentang pengalaman yang menakjubkan hari ini. Dan keluarlah sebuah cerita.

Leyeh-leyek di atas sundeck, sambil menikmati pemandangan sunset di foto bawah
 (Foto : Koleksi Pribadi)

***
Alkisah beberapa waktu yang lalu hidup di sebuah desa seorang pemuda yang menikahi seorang wanita bernama Putri Naga yang datang dari negeri seberang. Tidak lama setelah menikah sang putri hamil dan beberapa waktu kemudian melahirkan bayi kembar. Namun kedua anak kembar tersebut berbeda, yang satu berwujud manusia, sedangkan kembarannya menyerupai seekor kadal. Karena malu salah satu anak kembarnya berbeda dengan bayi lainnya, maka anak yang menyerupai kadal dibuang ke sebuah pulau.

Waktu terus berjalan hingga anak kembar beranjak besar, sampai suatu hari anak tersebut berburu dan hendak memanah salah satu hewan buruannya berupa seekor komodo. Namun saat hendak memanah sang ibu mencegahnya. "Jangan bunuh dia nak, dia adalah saudara kembarmu!" ujar sang ibu. Sang anak tentu kaget dan menjawab, "Mana mungkin bunda aku memiliki saudara seekor komodo?"

Sang ibu lalu menjelaskan, "Beberapa tahun lalu bunda melahirkan bayi kembar. Dirimu dan komodo itu. Coba lihatlah tangan komodo tersebut dan ada tanda lahir yang sama denganmu!" Dan benar saja ketika diperiksa di kedua tangan mereka terdapat tanda lahir yang sama. Dan akhirnya sang anak tidak jadi membunuh komodo yang ternyata kembarannya tersebut.

Itulah sepenggal kisah tentang Komodo dan Putri Naga yang diceritakan oleh Mustaqim salah seorang ABK dari kapal Playaran. Kebenaran cerita tersebut tidak perlu diperdebatkan, namun cerita tersebut cukup melegenda di kalangan rakyat Flores dan sekitarnya. Kisah tersebut terungkap ketika kita sama-sama akan tidur di atas kapal Playaran. Jadi semacam dongeng sebelum tidur. Dan akhirnya kita semua terlelap.

Saat hari masih gelap terdengar suara mesin dibunyikan. Saya melirik jam dalam kegelapan. Phospor yang tertera di dalam jam sangat membantu untuk melihat dalam gelap. Jam 4 subuh. Tidak lama kapal bergerak pelan. Membelah laut yang masih sunyi. Saya kembali meneruskan tidur karena rasa kantuk yang masih mendera.

Bunyi bel membangunkan saya. Cukup kaget juga karena bel itu kan tandanya untuk makan. Wah ternyata sudah siang. Sudah jam 7 pagi dan waktunya sarapan. "Kita sudah sampai. Itu Pulau Komodo dan itu Pantai Pink." ucap seorang ABK. Campur aduk rasanya ketika bangun sudah berada di depan mata sebuah pulau yang menjadi tujuan akhir dari sebuah perjalanan. Pulau Komodo! Tempat yang sangat sering kita sebut selama beberapa hari terakhir ini. Akhirnya kesampaian juga! ucap saya dalam hati.

Pantai Pink nampak dari kapal Phinisi (Foto : Koleksi Pribadi)
Kami segera menuju dapur dan menyantap sarapan pagi yang sudah dihidangkan oleh sang juru masak. Entah kapan orang ini masaknya, tiba-tiba semua hidangan lengkap tersaji di meja dapur. Ada nasi goreng, aneka buah, roti, kopi dan teh. Kami semua menyantap dengan lahap sambil melihat dari kejauhan sebuah pantai yang pasirnya berwarna merah muda. 

Setelah sarapan - dengan menggunakan perahu kecil - kami semua segera merapat ke Pantai Pink di Pulau Komodo, dan kami semua tidak kuasa untuk mencebutkan diri ke dalam air yang sangat jernih. Seperti air kolam renang yang baru dikuras. Bening. Dan ketika mencelupkan kepala ke dalam air, terhampar sebuah pemandangan dalam laut yang menakjubkan. Tidak perlu diving untuk melihat keindahannya, cukup snorkeling di sekitar Pantai Pink ini. Semua tersaji dengan indah. Indah sekali.

Inilah Pantai Pink, Pulau Komodo. Benar-benar berwarna pink! (Foto : Koleksi Pribadi)
Siapa tahan godaannya? (Foto : Koleksi Pribadi)
Cukup penasaran juga kenapa pantai ini berwarna pink. Saya ambil pasirnya dan ternyata ada butiran-butiran berwarna merah. Ternyata itu adalah pecahan dari karang-karang yang sudah mati dan hancur, lalu terbawa oleh ombak dan menyatu dengan pasir pantai. Beberapa teman sudah beranjak dari dalam laut dan mulai menjelajahi tempat di sekitar pantai. Ada yang sudah naik bukit di bagian kanan. Karena penasaran saya pun keluar dari pantai dan ikut naik ke atas bukit dan sesampainya diatas sama terhampar keindahan yang begitu menakjubkan sepanjang 360 derajat. Saya hanya bisa mengucap syukur.

Pantai Pink dari atas bukit (Foto : Koleksi Pribadi)
Setelah puas menikmati Pantai Pink, perjalanan kami lanjutkan dan ada dua pilihan sulit untuk acara berikutnya. Mau kembali diving di Manta Spot atau trekking ke Pulau Rinca? Benar-benar pilihan yang sulit. Diving dengan pemandangan Manta sejenis ikan Pari yang konon panjangnya bisa mencapai 6 meter sungguh menggoda. Namun trekking di Pulau Rinca dan akan bertemu dengan Komodo tidak kalah menariknya.


Namun akhirnya seluruh awal kapal sepakat untuk melakukan trekking di Pulau Rinca dengan alasan diving dan melihat manta bisa dimana saja dan kapan saja, sementara kesempatan untuk melihat Komodo hanya bisa dilakukan di tempat ini. Sebuah pilihan yang tepat dan masuk akal. Kapal mulai bergerak kembali ke Loh Buaya, salah satu spot masuk Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca.

Saat memasuki kawasan Taman Nasional kami di kawal oleh seorang ranger dan memberikan beberapa informasi dan instuksi jika bertemu dengan komodo. Setelah menbayar retribusi kami mulai trekking keliling taman nasional. Komodo pertama kami temui saat mereka leyeh-leyeh di kolong sebuah rumah yang berfungsi sebagai dapur. Bisa jadi karena mereka mencium aroma makanan di rumah tersebut. Ada tiga ekor komodo yang sedang berteduh di kolong rumah. Beberapa pengunjung yang kebanyakan orang asing sibuk mengabadikan dengan foto dan video.

Pemandangan dari atas bukit Taman Nasional Komodo (Foto : Koleksi Pribadi)
Setelah puas foto-foto perjalanan kami lanjutkan dan kami bertemu dengan Komodo yang ketiga yang berada diantara daun-daun yang sudah menguning. Kelihatannya saru, untung diberitahu sang ranger bahwa itu adalah Komodo. Kami semua mendekatinya dan sudah siap dengan kamera masing-masing. Mungkin karena merasa risih di foto terus Komodo tersebut lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut. Momen ini justru sangat bagus dan dimanfaatkan untuk memfoto lebih banyak sambil mengikuti kemana Komodo itu pergi. Tapi jadi lucu juga seperti melihat infotainment ketika wartawan mengejar-ngejar artis atau nara sumber :D


Salah satu komodo yang kami temui di sarang komodo (Foto : Koleksi Pribadi)
Sampai akhirnya kami kembali ke tempat saat trekking dimulai. Disini kita bisa beristirahat sambil minum dan membeli souvenir khas. Saya sendiri membeli miniatur Komodo yang terbuat dari kayu. Bentuknya mini sekali karena itu yang paling murah, yang agak besaran harganya sudah ratusan ribu rupiah :D

Setelah puas berkeliling di Taman Nasional dan berhasil menemui beberapa ekor Komodo, kami kembali ke kapal dan sudah tersaji santap siang. Masih ada waktu untuk eksporasi kawasan ini. Mustaqim mengajak kami ke Pulau Kalong. Apa istimewanya? Kita lihat sama-sama jawabnya membuat kami tambah penasaran. Saat tiba di Pulau Kalong sepertinya pulau tersebut biasa-biasa saja. Sama dengan pulau-pulau lainnya. Tapi lama kelamaan banyak kapal lain mulai merapat di dekat pulau tersebut. Matahari mulai tenggelam dan hari mulai gelap. Tidak berapa lama terjadilah sebuah peristiwa yang begitu menakjubkan. Ribuan bahkan puluhan ribu kalong keluar dari pulau tersebut dan terbang ke arah Labuan Bajo. Sebuah pemandangan yang unik dan baru pertamakali melihat begitu banyak kelelawar melakukan ekspansi secara besar-besaran. Kejadian ini berlangsung sekitar setengah jam dan baru benar-benar selesai ketika hari sudah gelap.

Saat senja, ribuan kelelawang keluar dari Pulau Kalong (Foto : Koleksi Pribadi)
Sungguh suatu pengalaman yang sulit dilupakan ketika mengunjungi tempat-tempat eksotis ini. Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi dalam dua hari terakhir ini benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia. Wonderful Indonesia. Tidak salah tempat ini menjadi salah satu dari 7 keajaiban baru di dunia.


8 comments:

Tempat yang indah, dan menjadi salah satu keindahan surga di dunai yang berada di belahan negeri nusantara.

Salam

Selamat ya mas haris .... kali ini menang lagi .... jalan-jalan lagi ke danau toba .... :)

travelnya memang gratis ya mas ?
rahasianya apaan tuh ?
boleh tahu tidak ?

saya ikut lomba blog berhadiah travel mas :)

mengenai cerita putri naga, di keluargaku ada cerita seperti ini tapi kembarannya buaya & sampe sekarang trkadang takjub dengan cerita2 yang biasanya cuma tau dari komik ternyata disekitarku juga ada :)

eh mas, itu hotelnya kalo boleh tau hotel apa ya?

Halo Mbak Nuniek, memang sih orang sana menyebut Komodo itu Buaya juga karena mungkin bentuknya hampir mirip. Itulah kenapa mereka menamakan pelabuhan yg ada di Pulau Rinca adalah Loh Buaya.

Hotel yang di Labuan Bajo dengan view belakang pantai adalah Luwansan Beach Resort.

Post a Comment