Friday, September 22, 2017

Tiga Hari di Medan, Kemana aja?

Mendapat kesempatan kembali ke Kota Medan langsung membuat jadwal ke tempat-tempat yang belum sempat dikunjungi sebelumnya. Disela-sela tugas kantor yang cukup padat merayap, disempetin aja untuk mencicipi beberapa kuliner khas Medan.

A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on


Kebetulan kita menginap di Hotel yang berada di tengah kota yaitu Grand Aston City Hall. Lokasinya persis di depan Merdeka Walk, sentra kuliner yang selalu ramai menjelang malam. Dan saat siang sesaat setelah tiba kita langsung ke Merdeka Walk sebelum check-in. Setelah putar-putar dan membuat semakin lapar akhirnya kita memutuskan untuk makan di McDonalds. Sebuah pilihan yang absurd. Di Jakarta dan Bogor juga banyak atuh kang, gak bosan? Pengen nyobain Mekdi dengan ayam dari Medan alasannya :)

Setelah check-in dan istirahat sejenak di hotel yang di bagian depannya memang ada bangunan cagar budaya kantor balai kota Medan jaman dulu, malamnya kami memutuskan untuk kulineran di sekitar kota. Pilihannya jatuh ke Mie Ayam Akong & Acim yang terletak di perempatan Jalan Perniagaan Medan Barat.




Walaupun pemiliknya Tionghoa namun makanan ini halal. Mie ayam ini termasuk legendaris karena sudah puluhan tahun berjualan dan anak-anaknya sudah bersekolah di luar negeri (apa hubungannya ya?). Untuk melengkapi kenikmatan kita dapat memesan minuman lokal jenis soda dengan merek Badak buatan Siantar.



Rencananya setelah makan mie ayam kita mau langsung ke hotel untuk mempersiapkan acara besok. Namun karena masih ada sisa-sisa ruang kosong di bagian perut, kita sepakat untuk makan duren di mana lagi kalo bukan di Ucok Durian. Tahun lalu sempat ke tempat ini juga dan sekarang tempatnya semakin ramai. Durennya makin banyak dan harganya juga sudah hampir sama dengan harga Jakarta. Tapi kalo soal rasa, kalo kata orang sunda mah "moal gagal" artinya nggak akan gagal rasanya pasti manis dan mantap. Kita tinggal bilang mau rasa yang manis atau manis-pahit. Kalo manis yang biasa, tapi kalo manis-pahit rasanya agak strong dan cepat naik. Untuk ukutan kecil harganya Rp 50.000 per butir. Malam itu kami hanya menghabiskan 2 butir untuk 4 orang (1 orang nggak makan, 2 orang makan dikit, 1 orang makan banyak)



Hari kedua kami awali dengan sarapan di hotel. Ternyata nemu juga kuliner khas Medan yaitu Lontong Kari Medan berjajar dengan makanan seperti roti, bubur, nasi, kentang yang sebagian resep dari luar negeri. Saya memilih Lontong Kari dengan topping teri kacang, abon sapi dan tauco serta kerupuk khasnya yang berwarna merah. Kalau tidak ada jadwal acara rasanya bakal berlama-lama di resto ini sampai jam 10 saat closing.

Saat siang setelah tugas selesai, selanjutnya kami meneruskan wisata kuliner di kota yang terkenal dengan Bika Ambon-nya itu. Destinasi pertama ada Restoran Tip Top. Restoran ini juga merupakan restoran legendaris yang dibangun sejak tahun 1938. Jadi Tip Top ini pernah disinggahi oleh tentara Belanda, Jepang dan tentara nasional untuk sekedar ngopi-ngopi dan makan es krim.

Rekomendasinya es krim dan kue. Semua bahan yang digunakan masih persis seperti jaman dulu, termasuk membakarnya dengan menggunakan kayu arang (untuk kue ya bukan es krim). Sementara saya pesan kopi susu Sidikalang. Awalnya saat icip-icip terasa pahit arabica-nya. Namun lama-lama menjadi agak manis. Kok unik ya. Lalu diseruput sampai hampir habis terlihat ada cairan putih ternyata susu kental. Ternyata kopinya belum diaduk pembaca.

Sebelum balik ke hotel, lagi-lagi kami mampir dulu ke tempat kuliner yaitu Bolu Meranti dan Risol Gogo. Kedua tempat itu memang gak ada matinya. Saat ke sana antrian cukup padat merayap. Kami hanya pesan untuk diambil besok pagi agar masih terasa fresh.

Setelah leyeh-leyeh dan membuat report, malamnya kami kembali kulineran lagi. Kali ini tempat yang dikunjungi adalah Restoran Garuda. Restoran ini legendaris juga dengan menu khas kepala kakap. Namun malam itu kami hanya pesan ayam pop yang enaknya gak kalah juga. Restoran Garuda ada beberapa cabang di Medan dan ternyata di Jakarta ada cabangnya juga di Jalan Sabang.
A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on

Masih belum puas, kami lanjutkan dengan makan kerang di pinggir jalan. Kerangnya ternyata masih fresh banget terbukti masih pada idup. Beberapa teman malah ada yang nambah. Saya sih cukup satu porsi ditutup dengan teh tarik dingin.

Selanjutnya kami kembali ke Ucok Durian lagi. Bukan, bukan untuk makan lagi. Tapi kami pesan untuk dibungkus dan dibawa esok pagi untuk dibawa ke Jakarta. Jadi mereka juga terima take away. Pesan sesuai selera, rata-rata menggunakan wadah ukuran sedang dengan harga berkisar Rp 100.000 - Rp 250.000.- Mereka akan tutup rapat dengan menggunakan lakban dengan sangat rapat, karena takut tercium saat di pesawat. Dan ingat, paket durian ini tidak boleh dibawa ke kabin, harus masuk bagasi. (Terbukti saat kami pulang, di kabin pesawat tercium bau durian, petugas langsung mengendus setiap bungkusan mencurigakan, dan menemukan pancake durian dan terpaksa harus disita). Jadi sepertinya satu lakban bisa dihabiskan hanya 2-3 paket, saking rapetnya. (Saat bongkar oleh-oleh dirumahpun, orang rumah bilang, "ini ngebuka bungkusnya lebih susah dibanding buka durennya langsung.")



Hari terakhir diawali dengan malas-malasan di tempat tidur yang sangat posesif. Angka sudah menunjukkan jam 9 lebih, satu jam lagi breakfast tutup. Buru-buru kami turun makan sambil masih bercelana pendek dan belum mandi. Late check-out jam 1 siang sambil mikir mau ke mana lagi sambil nunggu terbang jam 7 malam nanti. Akhirnya diputuskan makan siang dulu terus mampir ke Istana Maimun. Sebuah Istana peninggalan Kesultanan Deli.

Keunikan dari Istana Maimun yang dibangun pada tahun 1888 ini adalah arsiteknya yang merupakan akulturasi dari budaya Melayu dan Islam, termasuk unsur seni dari negara Italia, India dan Spanyol. Untuk masuk kita dikenakan tiket sebesar Rp.5.000,- kita bisa masuk dan berkeliling seluruh istana. Kita juga ditawarkan untuk menyewa baju adat dan dapat berfoto di mana saja. Awalnya nggak ngeh, kirain yang pake baju adat itu orang-orang yang ditugaskan di sana. Jadi saat ada mbak-mbak yang pake baju adat saya minta dia bergaya di depan salah satu area. Mbaknya hanya senyum-senyum aja. Baru nyadar setelah temannya yang fotoin dia bergaya. Jadi malu sendiri. Untung bukan inang-inang yang aku suruh begaya, bisa dilempar awak ini.
Istana Maimun adalah istana Kesultanan Deli yang merupakan salah satu ikon kota Medan, Sumatera Utara, terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Didesain oleh arsitek Italia dan dibangun oleh Sultan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid. Pembangunan istana ini dimulai dari 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan. Istana Maimun terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Bangunan istana ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan. Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia. (Sumber info : Wikipedia)
A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on


Setelah puas keliling Istana Maimun, kami memutuskan untuk segera ke Bandara Kuala Namu. Sebenernya sih pengen nyobain naik kereta bandara yang keren itu, tapi karena sudah menyewa mobil untuk tiga hari full service dengan terpaksa ditunda lagi naik keretanya. Semoga suatu saat bisa kembali dan mencoba keretanya.

Tiba di bandara masih 3 jam lagi untuk boarding. Beruntung di bandara ini ada yang namanya Rest Area. Di tempat ini kita bisa tidur-tiduran karena ada kursi yang memanjang berderet bisa untuk rebahan. Jadi kalo mau nginep juga sepertinya bisa, dengan catatan siapa cepat dia dapat. Lalu ada free internet plus komputernya. Kebetulan hari itu ada deadline satu postingan dan masih sempat dibuat di tempat itu. Tapi inget jangan lupa logout ya. Selain itu ada juga colokan listrik untuk nge-charge yang sekarang menjadi kebutuhan pokok para traveler (sandang - pangan - casan).

Dan akhirnya, saat boarding telah tiba. Duduk manis di 45K (window), siap-siap terbang kembali ke Jakarta. Rasa kantuk mendadak hilang. Akhirnya memilih nonton film "The Accountant"nya Ben Affleck yang belum sempet ditonton saat di bioskop. Ternyata seru juga ya. Walau cuaca agak buruk gak keganggu karena anteng nonton film ini. Saat ditawari makan,  akhirnya luluh juga karena laper. Lalu lanjut nonton lagi. Dan ajaibnya film ini selesai saat pas landing di Soekarno Hatta Airport.

Selesai sudah perjalanan kali ini yang lebih banyak wisata kulinernya ya dibanding wisata lainnya. *brb cek bagasi*




  

5 comments:

Bahagia banget kang bisa menikmati kuliner Medan. Saya sudah 10 tahun gak kesana padahal saya asli Batak. Semoga suatu hari aku bisa melancong ke Medan dan menikmati makanan enak seperti kang Haris

Jadi laper mas pagi-pagi baca tulisan ini.. Hehehe... Belum pernah ke Medan, salah satu tujuan di list saya nih.

Wah harus segera balik mbak,nanti marganya dicabut lho hehe

Duh maap jadi bikin lafar. Semoga suatu saat bisa ke sana yaa

Belum pernah ke Medan, cuma numpang ngiler aja disini -_-

Post a Comment