Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"

Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia

Taman Nasional Baluran

Salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur

Menjelajahi Tanah Air Beta

"...Walaupun banyak negeri kujalani Yang masyur permai dikata orang, Tetapi kampung dan rumahku Di sanalah ku merasa senang Tanahku tak kulupakan Engkau kubanggakan ...".

3000 km Jelajah Daratan Sulawesi

Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan.

Mengunjungi Habitat Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Tidak mudah untuk menemukan keberadaan orangutan tersebut. Kita harus sabar menunggu mereka keluar untuk beraktifitas.

Thursday, October 29, 2015

Menikmati Senja di Pulau Kelor



Setelah selesai mengeksplorasi Pulau Onrust perjalanan kembali dilanjutkan ke Pulau Kelor yang lokasinya tidak jauh. Hanya dengan waktu 10 menit kita sudah mendarat di pulau yang dahulu dikenal sebagai pulau Kherkof. Di pulau ini terdapat peninggalan Belanda berupa galangan kapal dan benteng yang dibangun VOC untuk menghadapi serangan Portugis di abad ke 17. Di sini juga terdapat kuburan Kapal Tujuh atau Sevent Provincien serta awak kapal berbangsa Indonesia yang memberontak dan akhirnya gugur di tangan Belanda. Kami menemukan pemandangan indah ketika hari mulai memasuki senja. Benteng Mortello yang berada di tepi pantai terlihat indah bersanding dengan pohon tua yan daunnya mulai berguguran karena kemarau. Ditambah lagi dengan suasana menjelang senja.

Menjelang malam kami sudah kembali ke Pulau Bidadari untuk beristirahat. Esoknya tepatnya jam 4 subuh kami kembali ke Pulau Kelor untuk melihat pemandangan sunrise. Setelah itu kembali ke Pulau Bidadari untuk melakukan sarapan pagi dan siap-siap melakukan water sport banana boat di depan dermaga Pulau Bidadari. Setelah puas kami segera kembali ke kamar dan bersiap untuk kembali ke Jakarta.

Siluet Benteng Martello di Pulau Kelor (Foto : Harris Maulana)
Saat mentari mulai naik di Pulau Bidadari
Menjajal adrenalin dengan banana boat dengan latar belakang Pulau Onrust (Foto : Harris Maulana) 

Sungguh sebuah pengalaman baru menjelajahi pulau-pulau yang sarat dengan sejarah kolonial selain menikmati pesona bahari di utara Jakarta. Namun dengan mempelajari sejarah ini bukan mengungkit kejayaan penjajah. Seperti yang tertulis dalam sebuah poster di Museum Onrust, "Pemugaran bangunan-bangunan peninggalan jaman Belanda bukan mengingat kejayaan kolonial, namun ingin menampilkan fakta bahwa penjajahan itu memang pernah ada. Penjajahan Belanda di Indonesia adalah bagian dari sejarah panjang bangsa Indonesia. Bila bangunan pada masa penjajahan Belanda dihancurkan semua, generasi mendatang tidak akan lagi pernah melihat bukti-bukti penjajahan itu."


Menyibak Peninggalan Kolonial di Pulau Onrust



Dengan menggunakan 2 (dua) perahu kayu bermotor kami berangkat menuju Pulau Onrust. Hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit kami sudah sampai di tujuan. Pulau ini merupakan salah satu saksi sejarah pendudukan Belanda di Indonesia. Mereka mendarat di Pulau Onrust pada tahun 1616. Perlu empat tahun untuk mempersiapkan diri sebelum menduduki Jayakarta pada tahun 1620. Hal ini yang belum banyak diketahui oleh orang, ucap Pak Candrian. Mereka hanya mengetahui bahwa Belanda langsung mendarat di Jayakarta. Fakta ini harus diluruskan.  

Penduduk sekitar menyebut pulau ini adalah Pulau Kapal karena di pulau ini sering sekali dikunjungi kapal-kapal Belanda sebelum menuju Jayakarta. Di dalam pulau ini terdapat banyak peninggalan arkeologi pada masa kolonial Belanda dan juga sebuah rumah yang masih utuh dan dijadikan Museum Pulau Onrust. Nama 'Onrust' sendiri diambil dari bahasa Belanda yang berarti 'Tidak Pernah Beristirahat' atau dalam bahasa Inggrisnya adalah 'Unrest'. Namun ada juga sumber lain yg mengatakan bahwa nama Onrust tersebut diambil dari nama penghuni pulau yang masih keturunan bangsawan Belanda, yaitu Baas Onrust Cornelis van der Walck.

Museum di Pulau Onrust yang banyak memberi informasi (Foto : Harris Maulana)
Sekitar tahun 1800, armada laut Inggris Raya menyerang pulau ini dan menghancurkan bangunan di atas pulau ini. Sekitar tahun 1803 Belanda yang kembali menguasai Pulau Bidadari dan membangunnya kembali. Akan tetapi Britania kembali menyerang tahun 1806, Pulau Onrust dan Pulau Bidadari serta pulau lainnya hancur berantakan. Tahun 1827 pulau ini kembali dibangun oleh Belanda dengan melibatkan pekerja orang Tionghoa dan tahanan. 

Tahun 1911 Onrust diubah fungsinya menjadi karantina Haji hingga tahun 1933. Para calon haji dibiasakan dulu dengan udara laut, karena saati itu untuk mencapai Tanah Suci harus naik kapal laut selama berbulan-bulan lamanya, dan kemudian sebagai pos karantina jemaah haji yang kembali.

Bangunan bekas karantina haji (Foto : Harris Maulana)

Selama tahun 1933 sampai 1940 dijadikan sebagai tempat tawanan para pemberontak yang terlibat dalam "Peristiwa Kapal Tujuh" (HNLMS Zeven Provincien), Ketika pecah Perang Dunia II tahun 1939, pulau ini dipakai Belanda sebagai kamp tawanan, yg isinya orang-orang Jerman yg bermukim di Hindia Belanda, yg dicurigai sebagai mata2 musuh.Tahun 1942 setelah Jepang menguasai Batavia, Onrust dijadikan tempat penjara bagi para penjahat kriminal kelas berat.

Antara September 1945 - Januari 1946 sempat kembali dimanfaatkan kembali oleh Sekutu sebagai tempat tawanan orang-orang Jerman yang ada di Indonesia, termasuk 6 orang awak U-Boat U-195. Tawanan perang ini selanjutnya dipindahkan ke Malang, karena Belanda kuatir mereka akan dibebaskan oleh pejuang2 kemerdekaan RI.

Pada masa Indonesia merdeka pulau ini dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina, terutama bagi penderita penyakit menular di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI hingga awal 1960-an. Tahun 1960 - 1965 dimanfaatkan untuk penampungan para gelandangan dan pengemis, selain itu juga dimanfaatkan untuk latihan militer.  Pulau ini sempat terbengkalai, dianggap tak bertuan hingga tahun 1968 terjadi pembongkaran dan pengambilan material bangunan secara besar-besaran oleh penduduk atas ijin kepolisian setempat. Tahun 1972 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mengeluarkan SK (Surat Keputusan) yang menetapkan Pulau Onrust sebagai pulau bersejarah. Kini, Pulau Onrust, juga Pulau Cipir, Pulau Bidadari, Pulau Kelor dan Pulau Edam, oleh Pemerintah Indonesia ditetapkan sebagai daerah Suaka Taman Purbakala Kepulauan Seribu

Salah satu bangunan bekas rumah sakit (Foto : Harris Maulana)

Di dalam pulau ini terdapat banyak peninggalan arkeologi pada masa kolonial Belanda dan juga sebuah rumah yang masih utuh dan dijadikan Museum Pulau Onrust. Dan ada satu misteri yang hingga saat ini belum terpecahkan yaitu terdapat sebuah dua buah makam yang konon kabarnya salah satunya merupakan makam dari pemimpin pemberontakan DI/TII yaitu S.M. Kartosoewirjo.

Misteri dua makam keramat (Foto : Harris Maulana)

Mengintip Pesona Bidadari




Hanya sekitar 30 menit perjalanan yang ditempuh dengan melewati Teluk Jakarta kita sudah sampai di Pulau Bidadari. Kami menginap di Bidadari Eco Resort yang merupakan salah satu resor di Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta. Sebelumnya bernama Pulau Bidadari, pulau ini dikenal sebagai Pulau Sakit karena pernah dijadikan tempat orang yang sakit lepra. Sedangkan nama Bidadari sendiri diambil dari sejarah yang menyatakan bahwa pulau ini merupakan pulau yang sering disinggahi oleh keluarga kerajaan Jayakarta pada masa lalu. 

Setibanya di Pulau Bidadari setelah menyegarkan diri dengan "welcome drink" kami diajak untuk berkeliling Pulau Bidadari yang luasnya sekitar 6 hektar.  Di pulau tidak ada penduduk yang tinggal. Sedangkan untuk para pengunjung bisa menginap di Bidadari Eco Resort. Selain itu ada juga benteng peninggalan Belanda yaitu Benteng Mastello. Benteng ini berfungsi sebagai tempat pengintaian musuh, sedangkan bagian bawah tanahnya terdapat ruang untuk menyimpan cadangan senjata. Demikian diungkapkan oleh Bapak Candrian Attahiyyat, seorang arkeolog yang bekerja pada pemerintahan Provinsi DKI Jakarta yang mengantar kami berkeliling.

Tampak Bagian luar Benteng Martello di Pulau Bidadari (Foto : Harris Maulana)
Tampak Bagian dalam Benteng Martello di Pulau Bidadari (Foto : Harris Maulana)
Selanjutnya kami melewati hutan mangrove yang berfungsi sebagai cagar alam dan juga menjadi benteng jika ada gelombang besar. Fungsi dari hutan mangrove ini juga sebagai "hutan lindung" jika di daratan yaitu sebagai penyeimbang ekosistem. Itulah mengapa resort ini menggunakan kata "eco resort" untuk penyebutannya. Selain itu di pulau ini juga terdapat biawak yang keberadaannya dilindungi dan juga elang bondol yang merupakan maskot dari Kota Jakarta. Jadi resort ini ikut berperan dalam melestarikan alam sekitar dan memelihara spesies didalamnya, termasuk rusa tutul yang sudah jinak ikut bercengkrama dengan para pengunjung.
Tugu Elang Bondol (Foto : Harris Maulana)
Rusa Tutul (Foto : Harris Maulana)
Biawak yang berada di semak-semak (Foto : Harris Maulana)
Karena pulau ini dekat dengan Jakarta, banyak pengunjung yang datang sekedar berwisata sehari atau tidak menginap yang lebih dikenal dengan One Day Tour. Dengan paket ini pengunjung sudah mendapatkan fasilitas antar pulang ke pulau dari dermaga Marina Ancol, makan siang, water sport seperti banana boat , dan kunjungan ke tiga pulau terdekat yakni pulau khayangan, Onrust dan Kelor. Sebelum menjadi resort sempat kosong dan tidak berpenghuni sampai dengan tahun 1970. Pada awal tahun 1970-an, PT Seabreez mengelola pulau ini untuk dijadikan sebagai resort wisata. Setelah puas berkeliling, kemudian kami check-in untuk istirahat sejenak dan dilanjutkan dengan jamuan makan siang sebelum melakukan "island hopping" ke Pulau Onrust dan Pulau Kelor.

Monday, October 5, 2015

Petualangan 3.000 km Jelajah Daratan Sulawesi


Ketika mendapat tawaran untuk menjelajah Pulau Sulawesi melalui darat tanpa pikir panjang langsung saya terima. Never Say Maybe. Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan. How far will you go? You decide! Sungguh suatu perjalanan yang luar biasa dan tidak terlupakan. Menikmati keanekaragaman budaya dan keindahan wisata alam. Berikut ini beberapa atraksi wisata dan budaya yang kami temui sepanjang perjalanan. 




Monday, January 26, 2015

PETA INDONESIA

Monday, January 12, 2015

JAMBI

SUMATERA BARAT

Sunday, January 11, 2015

SUMATERA UTARA

Saturday, January 10, 2015

NANGROE ACEH DARUSSALAM

Friday, January 9, 2015

Menjelajahi Tanah Air Beta



Bersyukur sudah pernah mengunjungi beberapa tempat di Indonesia. Termasuk menikmati destinasi wisata, kuliner khas dan kekayaan budaya. Seumur hidup saya pasti tidak akan semua tempat bisa saya singgahi, namun sebisa mungkin saya bisa mengunjungi tempat-tempat indah itu sebanyak mungkin. Awal masuk kerja saya ditugaskan di Papua. Sebagai pegawai baru ibaratnya saya dibuang terlebih dahulu untuk menimba pengalaman di wilayah yang terpencil. Namun berkah bagi saya. Bisa mengelilingi Papua dengan gratis. Ongkos kesana amat sangat mahal, kemana-mana juga harus naik pesawat. Termasuk biaya hidup. Namun semua itu terbayar dengan menikmati keindahan alam disana. Keramahan penduduk dan kekayaan budaya setempat. Mulai dari Jayapura, Biak, Timika, Nabire, Mulia, Fakfak, Sorong, Manokwari, sudah pernah saya singgahi. Benar kata orang, disana memang "Tanah Surga". Hingga pada suatu saat saya harus kembali ke Jakarta, saya nekat menukar tiket pesawat dengan tiket kapal laut.

Saya ingin mengunjungi tempat-tempat yang dilewati jalur kapal tersebut. Kapal Laut Ciremai akan berlayar dari Jayapura hingga Jakarta selama 7 hari. Dan benar saja, saat itu saya sangat menikmati perjalanan tersebut. Berlabuh di Ambon, Menikmati Gunung Gamalama di Ternate, Menyantap bubur Manado di Bitung, Menyaksikan anak-anak yang menyelam mengejar koin yang dilempar penumpang di Bau-bau dan Banggai, makan Coto Makassar,  hingga terakhir berlabuh di Jakarta. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga dan tidak akan pernah terlupakan. 

Dikapal tersebut juga saya berkenalan dengan teman-teman baru dari berbagai suku dan semuanya sangat baik dan ramah. Jemmy dari Biak. Thomas dari Ambon. Andi dari Makassar dan Beatrik dari Manado. Saya masih ingat ketika kita sama-sama di dek kapal menyanyikan lagu shio mama yang dinyanyikan Thomas dengan amat indah. Di mana ya mereka sekarang? Bukan kebetulan tugas berikutnya saya bisa menjelajahi kalimantan. Menjelajahi Banjarmasin, Tanah Bumbu hingga Pulau Laut yang terkenal dengan lagu "...Kotabaru gunungnya bamega (berawan)...".  Menyusuri Sungai Mahakam dari hulu di Kota Bangun - Kutai Kartanegara hingga ke hilir di daerah Tabang tempat di mana suku dayak masih berada. 

Perlu waktu 8 jam untuk mencapai kesana dengan biaya sewa speedboat sebesar Rp 8 Juta,  masih di atas harga tiket pesawat kemana pun di Indonesia. Sempat juga menikmati keindahan Jembatan Kutai Kartanegara di Tenggarong yang kini tinggal kenangan. Juga bisa mengunjungi beberapa kota di Sulawesi seperti Manado, Gorontalo dan Makassar. Semua pengalaman tersebut saya tulis sebagai jurnal di blog ini. Hingga akhirnya saya terpilih menjadi salah satu peserta yang hadiahnya bisa berkeliling ke beberapa tempat wisata di Indonesia. 

Beruntung saya mendapat tugas mengunjungi wilayah Sumatera yang belum pernah saya kunjungi. Selama 21 hari melintasi 4 provinsi. Mendaki Gunung Kerinci di Jambi, surfing di Nias, arung jeram di Sungai Alas hingga menginjakkan kaki di KM Nol Indonesia di Pulau Weh, pulau paling barat di Indonesia. Di sinilah Indonesia dimulai. Saat menginjakkan kaki di tugu KM Nol tersebut tidak kuasa saya menahan air mata haru, sebelum ajal menjemput, saya sudah pernah menginjakkan kaki di sini. Sungguh, alam Indonesia sangat luar biasa. Indahnya. Banyaknya. Kaya budayanya. Adat istiadatnya. Sangat-sangat luar biasa. Saya pernah juga mendapat tugas beberapa kali keluar negeri dan melihat beberapa tempat wisata di sana, namun satu yang tidak bisa mereka lakukan yaitu keramahtamahan orang Indonesia. 

Hospitality orang Indonesia nomor 1 di dunia. Coba tanyakan sama bule-bule yang kamu temui di tempat wisata. Saya jadi ingat syair lagu "Tanah Airku" yang sangat saya sukai : "...Walaupun banyak negeri kujalani Yang masyur permai dikata orang, Tetapi kampung dan rumahku Di sanalah ku merasa senang Tanahku tak kulupakan Engkau kubanggakan ..." Kadang saya suka merinding jika mendengar lagu yang sangat menggambarkan ikatan emosional antara manusia dan tanah airnya. Ibu Soed pasti menangis saat menciptakan lagu ini. 

Semoga blog ini dapat bermanfaat untuk para pembaca semua.